(Foto: dok.MI / Arya Manggala)
(Foto: dok.MI / Arya Manggala)

Barongsai, dari Hiburan hingga Penolak Bala

Sri Yanti Nainggolan • 08 Februari 2016 15:08
medcom.id, Jakarta: Selama ini, kebanyakan orang mengenal Barongsai sebagai hiburan di kala menyambut perayaan Tahun Baru imlek. Namun, belum banyak yang tau asal mula hadirnya Barongsai sebagai salah satu warisan kebudayaan Tiongkok.
 
Jiao Sheng Hendra Suprapto, Rohaniawan Lithang Makin Pondok Cabe, Tangerang, menerangkan, ada dua versi mengenai kemunculan Barongsai di Tiongkok. 
 
Versi pertama, Barongsai dibuat untuk menakuti monster atau makhluk jahat yang disebut Nian. Mahluk ini suka mengganggu warga Tiongkok. Nian senang memangsa warga sekitar saat musim dingin karena di saat itu dia merasa kelaparan. 

Nian turun ke perkampungan untuk mencari makan. Suatu ketika, Nian ketakutan melihat anak-anak yang mengenakan pakaian merah. Terkuaklah fakta bahwa NIan takut dengan warna yang terang. Tak hanya itu, Nian ternyata juga takut dengan keriuhan suara petasan dan terangnya sinar lampion. 
 
Salah satu hewan yang juga ditakuti oleh Nian adalah singa. Konon, Nian selalu kalah melawan raja hutan itu.  Warga yang ketakutan akhirnya berinisiatif membuat tarian singa untuk mengusir Nian, yang kemudian populer dengan nama Barongsai.
 
Meski demikian, beberapa mitos mengatakan Nian ditaklukan dewa dan dijadikan salah satu tunggangannya. 
 
Sementara, versi kedua menyebutkan, Barongsai ada karena kerajaan India menghadiahkan sepasang binatang singa pada raja Dinasti Han yang sedang bertahta. Lantaran senang dengan binatang tersebut, makan tarian tentang singa pun dibuat untuk menyenangkan hati raja.
 
Barongsai, Penolak Bala
 
Barongsai memiliki makna menolak bala atau pengusir hal-hal buruk. Tak heran, bila Barongsai sering hadir dalam acara tertentu, misalnya peresmian gedung, pernikahan, ulang tahun, hingga Imlek. Merujuk pada mitos monster Nian, kebanyakan pertunjukan Barongsai ikut dimeriahkan dengan petasan.
 
Dalam satu pertunjukan, ada sekitar delapan orang yang berperan memainkan Barongsai. Empat orang yang bermain, masing-masing akan berperan sebagai bagian kepala dan ekor Barongsai. Kemudian dua orang lainnya akan bermain simbal untuk meramaikan suasana. Sementara, satu orang bermain tambul, dan satu orang lagi bermain gong atau kenong.
 
Barongsai umumnya berukuran 60 cm x 60 sentimeter untuk kepala boneka. Sementara kain yang menutupi para pemain, yang dianggap sebagai badan memiliki ukuran 130cm x 60 sentimeter. Para pemain harus memakai celana yang senada dengan kostum Barongsai agar terlihat seperti nyata.
 
Pertunjukan Barongsai biasanya memakan waktu satu jam, dan biasanya mengangkat sebuah kisah. Tak ada kisah wajib yang menjadi pedoman cerita. Dengan kata lain, cerita boleh fiktif sesuai kreativitas atau mengangkat cerita rakyat. 
 
Barongsai biasanya bisa dilihat di tempat ibadah seperi vihara dan klenteng pada hari raya penting. Namun, tak jarang pertunjukan Barongsai juga terlihat di area publik seperti mal atau lapangan sebagai hiburan.
 
Di beberapa daerah, ada ritual yang harus dilakukan sebelum memulai pertunjukan Barongsai. Beberapa orang memulainya dengan sembahyang agar pertunjukan dapat berjalan dengan lancar.
 
"Di daerah Kalimantan, biasanya ada yang sampai dibuka mata batinnya, agar saat bermain terkesan lebih hidup. Boneka Barongsai diberi jimat, supaya terkesan memiliki roh." ujar Hendra.
 
Untuk bisa menampilkan pertunjukan Barongsai yang bagus, diperlukan latihan yang rutin. Di Lithang Makin Pondok Cabe, latihan Barongsai diadakan setiap seminggu sekali untuk melatih kekuatan dan kekompakan tim para pemain Barongsai.
 
"Barongsai mengajarkan kekompakan, kerjasama tim, dan ketahanan fisik," aku Nicko Damara, pria sudah dua tahun menjadi pemain Barongsai. 
 
Saat berbincang dengan Metrotvnews.com, pria 22 tahun ini mengaku mengalami beberapa hambatan sebagai pemain barongsai, contohnya, saat harus melatih keseimbangan, atau saat harus menahan berat partner dan boneka Barongsai secara bersamaan.  
 
Barongsai dari tahun ke tahun
 
Di Indonesia, pertunjukan Barongsai sudah ada sejak zaman Hindia Belanda. Meski demikian, tak ada perubahan berarti yang terjadi pada kebudayaan Tiongkok itu, dari dulu hingga kini.
 
Pertunjukan Barongsai sempat dihentikan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Barongsai kembali diizinkan pentas di masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid. 
 
Bukan Sekadar Kesenian
 
Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) yang dibentuk pada 9 Agustus 2012 seolah menandakan, bahwa Barongsai sudah siap menjadi bagian dari olahraga nasional. Hal ini dipandang positif, yang berarti barongsai sudah diakui sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
 
"Barongsai bisa dikatakan sebagai olahraga karena memakai kekutan fisik, yaitu otot untuk menopang kepala boneka dan pemain," pungkas Hendra. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEV)




TERKAIT

BERITA LAINNYA