Pementasan Trik Putu Wijaya.
Pementasan Trik Putu Wijaya.

Trik Putu Wijaya, Cerita Nyonya Baron dan Pak RT

01 Februari 2015 10:55
medcom.id: Panggung minimalis menjadi wadah bagi Teater Mandiri dalam menyampaikan gagasan dan ide. Lewat laku kali ini, sutradara kawakan Putu Wijaya seakan tak kehilangan daya mempereteli medium dalam mementaskan lakon terbarunya, Trik.
 
Putu memang tak sekadar menghadirkan lakon asal-asalan atau trik-trik murahan. Ia telah memikirkan secara matang ruang yang hendak digunakan demi mentransformasikan imajinasi liar ke pemanggungan.
 
Ada kekocakan, ketololan, kedegilan, dan keberanian tersaji lewat lakon Trik di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta, pertengahan pekan ini. Ratusan penonton membeludak memenuhi kursi. Yang tak kedapatan kursi bersila di lantai. Pentas minimalis dengan konsep realisme.

Lakon berdurasi sekitar 90 menit itu memang bertumpu pada sebuah tema tipuan. Aktor Teater Mandiri membuka lakon dengan tata panggung sederhana. Ada dua kursi kayu dengan latar belakang layar tinggi untuk memisahkan panggung dengan area pemain. Semuanya memang tak begitu `aduhai' dan `wah' bila dibandingkan dengan pementasan Teater Mandiri sebelumnya seperti Aduh atau Wah.
 
“Pak RT, ini kunci. Bapak tolong jagain rumah saya. Saya mau ke kampung dulu,“ ujar Nyonya Baron (diperankan Dwi Hastuti) dalam sebuah dialog. “Baik, Bu,“ angguk Pak RT (Zulfi).
 
Pada secuil adegan lakon tersebut, Teater Mandiri menggunakan efek suara (rekaman) untuk mendapatkan unsur teror kepada penonton. Efek suara latar mengumandang seketika Nyonya Baron bercakap dengan Pak RT.
 
Adegan pun berlanjut. Nyonya Baron meminta Pak RT untuk menjaga rumahnya.Maklum, Nyonya Baron merupakan pengusaha tersohor. Ia ingin membangun megaproyek gedung megah plus apartemen berlantai 30. “Silakan duduk Pak RT. Kursi ini milik Gadjah Mada, lo,“ cetus Nyonya Baron.
 
Pak RT melangkah perlahan. Ia merapalkan kedua tangannya di atas kepala seraya menyeimbangkan kursi tersebut. Sontak, penonton pun langsung tertawa melihat tingkah laku aktor yang lugu, lucu, dan kocak itu. Pembangunan megaproyek itu akan berdampak pada warga sekitarnya. Tanah mereka akan ditukargulingkan dengan harga murah. Tentu saja, akal bulus Nyonya Baron ditentang warga.
 
Pada lakon itu, tokoh Pak RT digambarkan sebagai seorang lelaki Betawi yang saleh.Keluguan itulah yang dimanfaatkan Nyonya Baron untuk menyuap Pak RT. Tokoh warga itu pun kewalahan dan hanya membeo di hadapan sang nyonya yang dijuluki `Nyonya van Iblis' itu.
 
Kekacauan terjadi saat sebuah bendera Merah Putih terpasang terbalik menjadi Putih Merah di depan rumah Nyonya Baron. Warga pun langsung beranggapan bahwa bendera itu dipasang Nyonya Baron.
 
Warga bertingkah anarkistis, mulai membrutal. Mereka melempar rumah Nyonya Baron sehingga terjadi huru-hara. Nyonya Baron pun minggat, sedangkan Pak RT pun terkucilkan. Ia disangka sebagai orang yang memasang bendera terbalik itu. Padahal tidak.Yang memasang adalah seorang pembantu Nyonya Baron yang sudah berusia 90 tahun.
 
Tentu saja, inilah babak yang menjadi titik persoalan sehingga terjadi tuding-menuding antara warga, Pak RT, dan Nyonya Baron yang dianggap subversif. “Antek kapitalis. Dasar Nyonya Iblis! Bakar saja rumahnya,“ teriak Pemberontak
 
Analisis tema
 
Tema utama pada lakon Trik memang bertumpu pada kehidupan urban di Jakarta. Putu hanya menghadirkan enam aktor. Selain tokoh Nyonya Baron dan Pak RT, ada pula Ibu RT (Lailatin Na'ma), Pemberontak I (Taksu), Pemberontak II (Elvis Ticoalu), dan Cahya (provokator).
 
Putu menghadirkan dua tokoh pemberontak dalam lakon tersebut. Pemberontak I, misalnya, menjadi pendobrak akan lakon. Sisi utama pada sifat tokoh tersebut, yaitu revolusioner, nasionalis, dan anak muda idealis.
 
Titik kulminasi lakon sesungguhnya ketika Pak RT dan Ibu RT menerima amplop untuk kesekian kalinya. Namun, mereka berdua menganggap amplop tersebut hanya berisi uang recehan. Sebagaimana sebelumnya Ibu RT dan Pak RT hanya menerima masing-masing amplop berisi Rp50 ribu.
 
Padahal, amplop terbaru pemberian Nyonya Baron berupa cek. Ibu RT tak memahami cek hanya mengocek sembari langsung merobek cek tersebut. “Ah apa ini. Iblis! Kertas biasa saja, huh...,“ pekik Ibu RT seraya mencabikcabik cek tersebut.
 
Tak lama berselang saat usai huru-hara, Pemberontak I pun muncul. Ia berjalan sembari mendapati cek tergeletak di lantai. Ia mengambil seraya membaca perlahan. Matanya berbinar-binar dan kaget seketika. “Wah, cek senilai Rp50 juta!“ pekiknya.
 
Lewat lakon Trik, Putu punya amunisi untuk meneror penonton. Lakon ini sesungguhnya merupakan sketsa sosial yang memperlihatkan rakyat ditipu mentah-mentah dengan berbagai trik dan akal-akalan.
 
Meski Teater Mandiri sukses, ada beberapa catatan penting dalam pertunjukan. Aktor seakan kurang serius. Pertama, Putu langsung beraksi memerintahkan aktor untuk memindahkan bendera saat blocking. Hal itu disebabkan aktor lupa, saking semangat berakting di atas panggung.
 
Kedua, aktor seperti tokoh Cahya kerap melupakan isi dialog dalam naskah sehingga terlihat terbata-bata. Hal itu juga tampak pada tokoh Lailatin. Namun, apresiasi perlu diberikan kepada Elvis sebagai dedengkot Teater Mandiri.
 
Elvis mampu menutupi kekosongan itu dengan terlibat aktif di panggung. “Trik terletak pada dialog, karakter, serta tata pentas minimalis. Ini sederhana memang karena fokus utama pada seni laku,“ ujar Putu Wijaya seusai pentas.
 
Lewat pementasan kali ini, Putu ikut menonton dari sudut tembok sembari duduk di kursi rodanya. Ia memang masih nyentrik menghadirkan lakon yang berakar pada realitas sosial. Kondisi kesehatannya pun tak menjadi penghalang.
 
Naskah Trik Putu garap dari cerpen Protes dan Bendera. Pentas minimalis, tetapi membekas. Itu sebagaimana naskah The Cherry Orchard milik Anton Chekhov yang digarap sutradara teater Peter Brook di Majestic Theatre, Brooklyn, pada 1981 silam. (media indonesia)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIT)




TERKAIT

BERITA LAINNYA