Maestro pematung, Edhi Sunarso memberikan penjelasan di antara karya-karyanya saat pameran tunggal yang berjudul Retrospeksi, di Jogja Gallery, Yogyakarta, Kamis (14/1/2010). ANTARA PHOTO/Regina Safri.
Maestro pematung, Edhi Sunarso memberikan penjelasan di antara karya-karyanya saat pameran tunggal yang berjudul Retrospeksi, di Jogja Gallery, Yogyakarta, Kamis (14/1/2010). ANTARA PHOTO/Regina Safri.

Edhi Sunarso, Berkenalan Setelah Tiada

Sobih AW Adnan • 05 Januari 2016 15:41
medcom.id, Jakarta: Sepanjang dini hari nama Edhi Sunarso mendadak masuk daftar trending topic Indonesia di Twitter. Ratusan akun menyebut namanya berulang kali. Ada yang menyatakan duka cita juga kekaguman terhadap sosoknya.
 
Tapi banyak juga yang bertanya siapakah Edhi Sunarso ini. Mengapa kabar berpulangnya pria berusia 84 tahun ini pada Senin (4/1/2016), jelang tengah malam menjadi buah bibir? Setidaknya kelompok terakhir ini berani tidak berpura-pura kenal dan tahu banyak atau 'biar kekinian'.
 
Jadi siapa sih Edhi Sunarso?

Almarhum adalah salah seorang pelopor seni patung modern Indonesia, bidang seni yang sepi dari hingar bingar pemberitaan. Wajar bila banyak generasi 'kekinian' yang merasa asing. 
 
Sepanjang hidupnya, Edhi Sunarso banyak mempersembahkan karya patungnya untuk Indonesia. Di Jakarta karya patungnya yang monumental adalah Selamat Datang di Bundaran HI, Dirgantara di perempatan Pancoran dan Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta. Hampir semua patung karyanya bercerita perjalanan sejarah bangsa. 
 
Pada 1958, Edhi dipanggil menghadap Presiden Soekarno. Perintah dari Bung Karno kepadanya adalah membuat patung berbahan perunggu yang sebelumnya tak pernah dikerjakannya. Hasilnya adalah patung Selamat Datang. Bung Karno pula menjadi model untuk bentuk lambaian tangan penuh sambutan yang kini menjadi landmark Jakarta.
 
Pekerjaan lantas berlanjut hingga pembuatan Dirgantara di Pancoran. Proyek yang dimulai pada 1965 ini yang sempat mangkrak dan tak pernah diresmikan pemerintahan Orde Baru. Tapi atas perintah pemerintahan Orde Baru pula Edhi Sunarso membangun Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
 
Karya lain Almarhum adalah rangkaian diorama sejarah Indonesia di kaki Monumen Nasional (Monas), Tugu Muda (Semarang), monumen Jendral Gatot Subroto (Surakarta), monumen Yos Sudarso (Biak), monumen Panglima Sudirman (Pacitan) hingga patung Soeharto (Kemusuk, DIY). Itu hanya sebagian di antaranya.
 
Kini Edhi Sunarso telah pulang tepat di usia 84 tahun. Berita duka ini semestinya menjadi catatan bersama. Mengapa hampir setiap tokoh penuh jasa di Indonesia hanya dielukan setelah tiada. 
 
Konyolnya, fenomena ini hadir di tengah mudahnya akses informasi dan komunikasi.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LHE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA