Bahkan, ketika gagal dalam proses melahirkan pun perempuan dianggap salah, sehingga terbentuk legenda kuntilanak.
Dalam beberapa kebudayaan dikisahkan kemunculan kuntilanak sebagai perempuan yang meninggal saat melahirkan.
Cerita tentang kuntilanak tentu sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Begitu pun dengan Yee I-Lann, seorang seniman asal Sabah, Malaysia, yang juga akrab dengan cerita ini.
"Saya kasihan melihat Pontianak (Kuntilanak dalam bahasa Melayu). Dia muncul karena meninggal saat sedang melahirkan. Bahkan, banyak cerita juga yang bilang kalau dia korban perkosaan. Kenapa sudah diperkosa, meninggal, gagal melahirkan, masih dipersalahkan juga dengan dijadikan legenda hantu yang seram. Dia adalah korban," tutur Yee I-Lan, seniman asal Malaysia saat diwawancara di Gudang Sarinah, Jakarta, belum lama ini.
Yee I-Lann merupakan salah satu seniman yang tampil dalam Jakarta Biennale 2015.

Yee I-Lann (Foto:News.com.au)
Dia memberikan karya berupa tiga video rekaman dalam tiga layar televisi berisi wawancara terhadap perempuan yang didandani serupa kuntilanak.
"Dalam video karya saya tersebut, saya mendadani perempuan seperti kuntilanak untuk kembali merepresentasikan perempuan yang hidupnya tidak lepas dari tuntutan politik, sosial, agama, dan norma-norma setempat," lanjut Yee I-Lann.
Lewat sebuah video, Yee I-Lann menghadirkan tiga pandangan miisoginis tentang kuntilanak sebagai perempuan gagal yang tidak lagi bernilai kala tidak mampu memenuhi tugas reproduksinya.
Yee I-Lann juga ingin menempatkan kuntilanak sebagai sosok anti-hero perempuan yang ditakuti dan dicintai pada saat yang sama.
"Saya tidak takut dengan kuntilanak. Dia bukan musuh saya, tapi dia adalah teman saya," pungkas Yee I-Lann.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News