Pertunjukan Bienal Sastra Salihara 2015 (Foto:Metrotvnews.com/Sumarni)
Pertunjukan Bienal Sastra Salihara 2015 (Foto:Metrotvnews.com/Sumarni)

Bienal Sastra Salihara 2015 Resmi Ditutup

26 Oktober 2015 09:48
medcom.id, Jakarta: Pegelaran Bienal Sastra Salihara 2015 bertajuk Sastra dan Rasa, resmi ditutup pada Minggu, 25 Oktober malam, di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
 
Puncak acara menampilkan pembacaan puisi dan bincang-bincang sastrawan asal Indonesia dan Belanda mengenai lintasan sejarah dengan tema, Setelah 70 Tahun Merdeka: Berkat atau Hantu Sejarah?
 
Christian Senda, sastrawan asal Kupang, NTT, berbagi cerita sastra mengenai kehidupan Indonesia Timur yang hingga kini masih kental memercayai segala mitos dan dongeng.

"Orang Timur percaya ada kekuatan pada setiap benda mati," ujar Christian, sebelum pementasan.
 
Berbeda dengan Christian, sastrawan asal Belanda, Chris Keulemans, membacakan cerita dengan bahasa yang indah terkait kehidupan Maluku khususnya Ambon tempo dulu dengan yang sekarang.
 
Chris mengulik dengan detail bahwa ada sekitar 50 ribu penduduk Maluku yang tersebar di Belanda pasca-penjajahan. Selain itu, dia juga mengisahkan keragaman agama yang memicu konflik maha dahsyat di sana pada kisaran tahun 2000.
 
"Di sana ada jembatan yang memisahkan antara satu suku beragama dengan lainnya. Ketika konflik, jembatan tersebut seakan-akan tenggelam," tuturnya.
 
Penampilan Chris begitu memukau. Kata demi kata yang dilontarkan seakan-akan membuai penonton masuk ke dalam kehidupan Indonesia zaman dahulu.
 
Selain mereka berdua, terdapat penampilan sederet sastrawan lain yang memeriahkan puncak acara Bienal Sastra Salihara 2015, yakni Alizar Tanjung, Fariq Alfaruqi, Monica Cantieni, Ni Made Purnama Sari, dan Karin Amatmoekrim. (Sumarni)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ROS)




TERKAIT

BERITA LAINNYA