Seperangkat gamelan sudah dikemasi. Para pemain pun satu per satu meninggalkan panggung. Di tengah ke sibukan itu tampak sosok lelaki setengah baya yang masih sibuk bersalaman dengan para pemain dan penonton yang menghampirinya di atas panggung.
Konsepsiarno, atau yang lebih dikenal dengan Nano Asmorodhono, namanya. Lelaki kelahiran Kota Yogyakarta, 9 Maret 1957 itu menjadi tokoh di balik layar kesuksesan pentas dagelan neomataram berjudul Golek Jodho (Cari Jodoh).
Berbeda dengan ketoprak, Nano malam itu memilih untuk menampilkan dagelan mataram saat diminta PKKH untuk menampilkan kesenian tradisional.
“Saya sengaja memilih dagelan mataram karena kesenian tradisional ini dulu merupakan salah satu ikon Jogja (Yogyakarta),“ kata dia, Kamis (16/10) malam.
Seiring dengan banyaknya komedi yang muncul, timpal dia, dagelan mataram tersisih. Generasi-generasi muda saat ini hanya sedikit yang mengenal dagelan mataram.
Dagelan mataram, kata dia, tidak lepas dari sosok pelawak asli Yogyakarta Basiyo. Gaung lawakan yang menggunakan bahasa Jawa itu menurun setelah sang maestro Basiyo meninggal. Karena tidak mau tinggal diam akan kondisi itu, Nano berupaya menghidupkan kembali.
Dari segi cerita, kata Nano, dagelan mataram berbeda dengan ketoprak.“Kalau ketoprak menampilkan cerita sejarah dan cerita fiktif, dagelan mataram menampilkan cerita-cerita keseharian,“ kata dia.
Dagelan mataram tidak sekadar membuat penonton tertawa. Namun, itu juga bisa introspeksi melalui sindiran-sindiran satire yang dilontarkan dalam pertunjukan. “Intinya kelucuan-kelucuan satire diri sendiri yang membuat orang lain tertawa,“ ujar Nano.
Kelucuan dagelan itu kian hidup dengan iringan gamelan. Sejumlah tembang pun turut didendangkan saat pertunjukan.
Dalam pertunjukan itu, Nano membawa konsep baru yang dinamakan dagelan neomataram. Pentas itu tidak semata menggunakan bahasa Jawa. Ia terkadang menggunakan bahasa daerah lain, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Semua bahasa itu, kata Nano, harus komunikatif dengan penonton.
Tidak hanya konsepnya, tema yang dipilih pun baru. Tema tidak melulu kehidupan di desa, tapi persoalan kekinian di perkotaan, termasuk yang dialami anak muda.
Lakon Golek Jodho itu menceritakan perbedaan pendapat pasangan suamiistri tentang memilih calon menantu untuk anak perempuan mereka.
“Kalau bapak-ibu yang dulu mensyaratkan jodoh bagi anak perempuan mereka yang tampan dan yang kaya, anak-anak sekarang kalau mencari jodoh harus yang pintar,“ kata dia.
Latar belakang yang dipilih pun tidak semata perdesaan. Namun, latar kali ini di sebuah kafe dengan latar belakang lagu berbahasa Inggris yang diiringi gamelan. Sutradara ketoprak Seni peran tradisional bukan hal baru bagi Nano. Ia sudah lama berkecimpung di dunia ketoprak. “Dunia ketoprak dan dagelan mataram melekat,“ kata Nano.
Ia mulai berkenalan dengan dunia seni peran sejak 1972. Sekitar seratus cerita ketoprak sudah disutradarainya hingga sekarang. Kariernya dimulai dari ketoprak tobong. “Tidak gampang perjuangan saya hingga menjadi sutradara,“ kata Nano.
Pertama masuk, cerita Nano, tugasnya menjaga diesel. Setelah itu, ia juga tidak langsung menjadi pemain ketoprak, tetapi menjadi tukang sapu dan penjaga parkir, hingga portir (penyobek tiket pertunjukan). Proses tersebut dilakoni sekitar setahun.
“Setelah itu, saya baru bisa bermain ketoprak menjadi bala kepruk (pasukan perang),“ kata dia. Ia mengaku sangat takut ketika pertama kali bermain.Namun, rasa takut dan gugup tersebut perlahan bisa diatasinya seiring dengan intensitasnya tampil.
Kiprahnya di dunia ketoprak tidak hanya di satu kelompok. Sejumlah kelompok ia huni, seperti di Surakarta, Pati, hingga Kediri. Alhasil, ia mendapat sebutan pemain ketoprak 'inggatan' karena sering minggat (pergi) dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Menurut dia, dari banyak ketoprak yang disinggahi, banyak pelajaran dan pengalaman yang didapatnya.
Ia pertama kali bermain ketoprak dengan Dahono Mataram sekitar dua tahun. “Saya kemudian pindah ke Daro Mudo. Setelah itu, saya pindah ke mana-mana. Sudah lupa saya,“ cerita dia.
Setelah merasa cukup dengan pelajaran yang didapat sebagai aktor, Nano memilih untuk berkiprah di belakang layar. Menurut dia, sebagai sutradara, ia telah mementaskan tak kurang seratus lakon.
Walau demikian, Nano tidak bisa menyebutkan satu per satu karena tidak menyimpan catatan. Menurut dia, dokumentasi merupakan kelemahan hampir semua seni tradisional. Bahkan, foto pentas ketoprak, kata dia, sering diberi penonton.
Meski begitu, ia berharap kesenian tradisional bisa hidup lagi. Pembaruan-pembaruan pun dalam kesenian tradisional bukan sesuatu hal yang tabu. Walau demikian, Nano juga masih mementaskan seni ketoprak yang benar-benar sesuai dengan pakem yang ada.
Dengan dimasukkannya pembaruanpembaruan, ia berharap seni tradisi dapat kembali dikenal, terutama oleh generasi muda. “Saya ingin ikon Yogyakarta tidak hanya ketoprak, tapi juga dagelan mataram,“ pungkas dia. (Media Indonesia/M-5)
Nama lahir: Konsepsiarno
Nama panggung: Nano Asmorodhono
Nama KTP: Nano Sasmito Putro
Tempat, tanggal lahir: Yogyakarta, 9 Maret 1957
Prestasi:
-Duta seni DIY dalam festival Teater Rakyat di Gedung Kesenian Jakarta (2014)·
-Bersama Ketoprak Ongkek Suryo Bawono mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta maju ke Fes tival Media Pertunjukan Rakyat (Pertunra) Tingkat Nasional di Manado dan meraih penghargaan tertinggi sebagai penyaji terbaik I dan sutradara terbaik (2012)·
-Mendapat Anugerah Ke budayaan Seni Ketoprak dari Dinas Kebudayaan DIY (2011)·
-Menjadi tim pengamat/juri Festival Media Pertun jukan Rakyat (Pertunra) Tingkat Nasional di Ma lang (2009)
-Mendapat piagam penghargaan dari Depar temen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo)
-Menjadi tim pengamat/ juri Pertunjukan Media Rakyat (Pertunra) Tingkat Nasional dalam kegiatan Festival dan Sarasehan Pertunra Tingkat Regional Se-Wilayah Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua (2009).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News