Kapal Pinisi memiliki dua tiang utama dengan tujuh layar. Berbeda dengan kapal layar biasa yang hanya memiliki satu tiang utama dengan satu atau dua layar.
“Kapal Pinisi itu karya Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Bulukumba, Desa Bira. Disana merupakan tempat para ahli pembuat Pinisi. Kemudian kalau Pinisi ruangan didalamnya kecil. Terus bedanya lagi kalau Pinisi yang dibuat luarnya dulu baru rangkanya” ujar Mansur Amin, Ketua Sunda Kelapa Heritage saat ditemui di Kemang, Jakarta.
Bagi para pembuat kapal Pinisi, Kapal Pinisi bukanlah sekedar kapal. Kapal Pinisi sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh sang pembuatnya. Proses pembuatannya yang panjang serta melalui berbagai macam upacara sakral membuat kapal ini begitu berharga.
Namun kini, Kapal Pinisi yang merupakan khas Indonesia yang sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh para pembuatnya sudah mulai dilupakan keberadaannya. Bahkan Indonesia sudah tidak memiliki lagi Pinisi asli.
Mansur Amin menceritakan, saat kemarin riset ke Sulawesi tahun 2013, para pembuat kapal disana mengatakan bahwa di Indonesia sudah tidak ada Pinisi asli.
Yang tersisa di Indonesia saat ini bukanlah Pinisi yang asli, melainkan hanya perahu layar biasa yang tidak masuk ke dalam kategori kapal Pinisi.
“Sekarang yang beredar di berbagai tempat di Indonesia itu bukan Pinisi, tapi udah masuk kategori perahu layar. Bukan lagi kategori Pinisi,” ucap Mansur.
“Bahkan yang ada di Sunda Kelapa sekarang itu kita bilang bukan Pinisi tapi perahu layar mesin, bisa dibilang itu evolusi dari Pinisi karena Pinisi asli kan enggak pakai mesin,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News