Sesi diskusi Masa depan Pasar World Music setelah Pandemi di IMEX 2022 (Foto: Shindu/Medcom)
Sesi diskusi Masa depan Pasar World Music setelah Pandemi di IMEX 2022 (Foto: Shindu/Medcom)

Meneropong Nasib World Music di Masa Depan

Agustinus Shindu Alpito • 26 Maret 2022 16:08
Ubud: Musik berbasis akar budaya dan tradisi yang dalam istilah global disebut "world music" memiliki tantangan tersendiri dalam perkembangannya.
 
Secara umum, tantangan yang dihadapi insan world music sama seperti yang dialami oleh pelaku musik dalam genre-genre lain, namun acapkali insan world music dihadapkan pada pola pasar dan industri yang lebih memihak pada musik pop dan kontemporer.
 
"Masalah terbesar world music adalah melabeli semua musik dengan unsur tradisi dari seluruh dunia dengan sebutan world music. Itu sangat problematik. World music bukanlah style atau genre. Di Kanada, istilah 'world music festival' sudah enggak ada karena kami enggak pakai istilah itu lagi," ujar Umair Jaffar, Direktur Eksekutif Small World Music, dalam sesi diskusi di Indonesia Music Expo (IMEX) 2022, Bali, pada Sabtu, 26 Maret 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Umair, cara agar seniman musik berbasis tradisi diterima di pasar musik adalah dengan mendefinisikan gaya atau jenis musik mereka sesuai genre musik yang umum, semisal reggae, jazz, hip-hp, dan lain sebagainya.
 
Terlalu dalam terjebak dalam label "kotak world music" menurut Umair membuat musisi berbasis tradisi masuk ke dalam kolam yang terlalu luas, "bersaing" dengan ribuan atau bahkan jutaan musisi berbasis seni tradisi lain dari seluruh dunia tanpa adanya definisi yang jelas soal gaya musiknya.
 
"Definisikan style musik kalian, kalian tidak hanya di dalam kotak world music," kata Umair.
 
Panelis lain dalam diskusi bertajuk Masa depan Pasar World Music setelah Pandemi itu adalah Jung Hun Lee, founder, General Director Seoul Music Week. Secara umum, Lee mengatakan bahwa para musisi harus percaya diri dengan karakter musik mereka. Dengan konsistensi dan identitas yang kuat, akan memberi peluang lebih untuk bisa diterima dalam pasar musik global. 
 
"Jaga passion kalian jika ingin bermain di level dunia. Karena dari pengalaman saya banyak artis Korea Selatan ingin ke festival dunia seperti Glastonbury dan mengubah gaya musik untuk tujuan itu, tetapi banyak dari mereka yang menyerah. Tetapi ada musisi Korea yang konsisten dengan musik mereka (meski punya unsur tradisi) sampai akhirnya tampil di Olimpiade musik dingin dan setelah tampil di WOMEX (Worldwide Music Expo) mereka sering tampil di luar negri," tukas Lee.
 
Soal penghasilan para musisi yang berbasis tradisi budaya, Rob Schwartz, jurnalis musik sekaligus pebisnis musik, mengatakan bahwa selama memiliki rekaman dalam format digital, sangat mungkin untuk meraup uang dari berbagai platform digital atau bahkan menjual musik kepada industri terkait seperti sinema dan periklanan.
 
Rob mengatakan bahwa dirinya memiliki platform yang mempertemukan pembeli musik dari industri sinema dan periklanan dengan musisi dari seluruh dunia secara digital. Dia menekankan untuk memudahkan karya musik terlihat dalam pasar musik digital, maka para musisi harus paham soal metadata. Semakin metadata terisi dengan tepat dan jelas, maka semakin mudah pula file musik diakses oleh pembeli dari industri-industri terkait musik. 
 
 
(ASA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif