Diskusi terkait ditariknya RUU Permusikan, di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Senin, 24 Juni 2019 (Foto: Medcom.id/Shindu)
Diskusi terkait ditariknya RUU Permusikan, di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Senin, 24 Juni 2019 (Foto: Medcom.id/Shindu)

Kisruh RUU Permusikan Harus jadi Momentum Para Musisi untuk Berserikat

Hiburan Kisruh RUU Permusikan
Agustinus Shindu Alpito • 25 Juni 2019 10:06
RUU Permusikan merupakan salah satu masalah terbesar terkait industri musik, sejauh tahun ini berjalan. Ribuan musisi bersatu bersama ratusan ribu masyarakat untuk bersama-sama menentang RUU itu.
 
Isu RUU Permusikan mencuat pada awal tahun 2019. RUU ini masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2015-2019.
 
Pada Februari 2019, secara masif para musisi menolak RUU Permusikan, karena dianggap mengebiri kreativitas musisi dan mengandung sejumlah pasal karet. Pada 17 Juni 2019, DPR resmi menarik RUU Permusikan dari daftar Prolegnas, atas desakan yang kuat dari para musisi dan masyarakat.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk mengetahui pasal-pasal yang dilawan para musisi dapat dibaca dalam artikel: Uraian "Pasal-Pasal Karet" RUU Permusikan yang Dilawan Para Musisi
 
Satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari kasus ini adalah bagaimana jika para musisi bersatu dan solid, mereka mampu memiliki kekuatan besar untuk menentukan sebuah kebijakan.
 
Hafez Gumay, peneliti dari Koalisi Seni Indonesia, menyebut bahwa fenomena bersatunya para musisi dan masyarakat hingga mampu menarik Rancangan Undang-Undang, baru kali ini terjadi dalam sejarah.
 
"RUU Permusikan adalah RUU pertama yang belum sampai tahap resmi sudah gugur duluan," kata Hafez dalam diskusi terkait ditariknya RUU Permusikan, yang digelar di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, pada Senin, 24 Juni 2019.
 
Diskusi yang dihadiri juga oleh Nadia Yustina dari Amity Asia Agency, Ronald Rofiandri dari Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia, Wendi Putranto dari Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan (KNTL RUUP), dan Glenn Fredly dari Kami Musik Indonesia, itu menemui satu benang merah terkait hal ini, yaitu para musisi harus memiliki kesadaran kolektif untuk berasosiasi atau berserikat.
 
Bersatunya para musisi melawan RUU Permusikan merupakan momentum yang langka. Mungkin selama negara ini berdiri, baru kali ini begitu banyak musisi bersatu-padu melawan sesuatu yang mengancam kehidupan mereka. Bayangkan, ratusan musisi yang terdaftar dalam KNTL RUUP, dan ribuan lain yang menyuarakan secara individu melalui media sosial, bersatu melawan hal yang sama, tanpa peduli latar belakang, dan genre musik mereka.
 
Koalisi Seni Indonesia beranggapan bahwa berhasilnya RUU Permusikan ditarik tidak lepas dari dorongan yang kuat dari para musisi.
 
"Pengalaman LSM mengadvokasi kebijakan tanpa melibatkan seniman yang punya kekuatan akan sulit. Begitu teman-teman seniman bergerak, masyarakat langsug tahu kalo kita punya masalah."
 
"Ini bukti kalau kebijakan disusun terburu-buru dan tidak melibatkan pemangku kepentingan, akan terjadi penolakan," kata Hafez.
 
Saat ini, industri musik kita belum punya asosiasi atau serikat yang menjadi wadah semua kepentingan musisi, dan fokus mengidentifikasi berbagai persoalan di industri musik. Diharapkan dengan adanya pengalaman bersatu menolak RUU Permusikan, para musisi memiliki kesadaran pentingnya berserikat.
 
"Industri film punya Badan Perfilman Indonesia (BPI). Di bawahnya ada asosiasi produser, sutradara, aktor, sampai director of photography. Melalui BPI ada forum yang membicarakan industri dari tiap-tiap profesi. Dengan adanya BPI, mereka (insan film) punya daftar masalah. Ketika mereka butuh uluran tangan negara, ketika mereka bersuara bobotnya jadi lebih besar. Pemerintah sebagai pengambil keputusan jadi jelas (mendengarkan pihak mana), karena pemerintah bermitra dengan BPI."
 
"Industri musik juga harus mengkonsolidasi diri (dalam bentuk asosiasi atau serikat), untuk membicarakan masalah-masalah yang ada agar lebih mudah (dalam menyuarakan suatu persoalan)," lanjut Hafez.
 
Hal yang sama juga diutarakan oleh Glenn Fredly. Penyanyi yang sudah berkarya lebih dari dua dekade itu beranggapan bahwa dengan ditariknya RUU Permusikan, bukan berarti para musisi berhenti peduli pada industri musik.
 
"Sekarang sudah bukan tolak atau revisi (RUU Permusikan). Sekarang fokus pada tata kelola industri musik Indonesia. RUU dicabut bukan berarti maslah selesai. Ini mendorong semua untuk masa depan industri. Ini harus datang dari pelaku-pelakunya," kata Glenn.
 
Sementara itu, Wendi Putranto dari KNTL RUUP, memastikan bahwa gerakan mereka akan membubarkan diri setelah RUU Permusikan dicabut. Tetapi, pihaknya sedang mengupayakan sebuah organisasi baru sebagai tindak-lanjut kepedulian akan beragam persoalan yang ada dalam industri musik.
 
"Perjuangan belum selesai. (Kami ingin membentuk) organisasi yang mengajak semua elemen dari industri musik Indonesia. Perjuangan itu enggak bisa dilakukan sendiri. Kita harus bareng-bareng bergandengan tangan. Kami berkomitnen melanjutkan perjuangan itu," kata Wendi.
 

Untuk mengikuti perkembangan dan kronologi terkait isu RUU Permusikan dapat mengakses tautan ini.
 


 

(ASA)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif