Cherrybelle. Foto: via Instagram/cherrybelleid)
Cherrybelle. Foto: via Instagram/cherrybelleid)

Faktor Kegagalan Musik Indonesia Mengimitasi K-Pop

Hiburan k-pop indonesia musik
Cecylia Rura • 03 Februari 2019 09:00
Invasi berbahaya K-pop melalui fenomena hallyu sampai sekarang masih bertahan. Sejak tahun 2000-an, musik Indonesia di masa emas dengan pop melayu disusupi perlahan oleh sejumlah boygroup dan girlgroup asal Korea Selatan.
 
Berbicara soal kelompok musik ini, Indonesia juga punya sejarah. Bening adalah grup vokal yang terbentuk jelang masa orde reformasi pada 1997. Dari keempat personelnya, Vonny Cornellia yang masih terdengar familiar sampai sekarang. Mereka mempopulerkan lagu Ada Cinta karya Yovie Widianto, yang kembali dinyanyikan boygroup SMASH. Kelompok musik pria ada Kahitna yang masih eksis dengan musik everlasting. Pada zaman itu kelompok musik jenis ini masih mengandalkan vokal, belum sampai tahap koreografi.
 
Girlgroup Indonesia sempat mencoba mengimitasi apa yang dilakukan K-pop untuk menarik atensi penggemar. Seperti pada koreografi, pembentukan bias dengan idola, dan pernak-pernik lucu untuk menjalin ikatan batin dengan penggemar. Popularitas ini terbilang bertahan sementara, atau lebih tepat disebut sensasi mengikuti tren K-pop saat itu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk generasi 90-an yang kini berada pada rentang usia 20-an pasti pernah merasakan euforia 7icons, girlgroup asal Surabaya. Grup ini terbentuk pada 2010, ada A. Tee, Vanila, Pj, Natly berasal dari Surabaya, Linzy dan Gc dari Jakarta, dan Mezty dari Bandung. Playboy menjadi satu-satunya lagu yang masih lekat di telinga pendengar ketika menyinggung nama grup ini. Seiring pergantian personel dan konsep, grup berganti nama menjadi Icons, lalu 7he Icons. Perlahan nama 7icons redup.
 
Setahun setelah 7icons, Cherrybelle dengan sembilan personel muncul. Angel, Anisa, Cherly, Christy, Devi, Felly, Gigi, Ryn, dan Wenda menjadi angkatan pertama sebelum formasi ini dirombak. Grup ini terbilang sukses karena tampil dengan kemasan atraktif sehingga mengundang atensi. Di setiap aksi panggung, Cherrybelle tampil kompak dengan seragam. Bukan lagi merujuk pada K-pop, tetapi J-pop seperti AKB48 dari Jepang yang tersohor. Formasi mereka sempat berganti dan melakukan audisi melalui Cherrybelle Cari Chibi.
 
Faktor Kegagalan Musik Indonesia Mengimitasi K-Pop
Formasi terkini Cherrybelle (Foto: via Instagram/cherrybelleid)
 
Pasar musik Cherrybelle mulai terusik ketika 48Group membentuk JKT48, saudari pertama AKB48 di Asia Tenggara. Dibentuk 2011, grup ini membuat reality show rutin di televisi untuk memperkenalkan personelnya ke publik. Grup beranggotakan 48 personel ini muncul dengan album pertama Heavy Rotation. Aksi panggung mereka selalu enerjik dan kompak. Dapat dikatakan segmen pasar girlgroup lain digeser oleh para wota yang loyal mendukung idolanya.
 
Faktor Kegagalan Musik Indonesia Mengimitasi K-Pop
(Foto: via YouTube/JKT48)
 
Nama-nama kelompok musik lokal yang membombardir pasar lokal ini tetap gagal meruntuhkan minat para penikmat musik terhadap K-pop. Pengamat musik Bens Leo mengungkapkan, profesionalitas pelaku seni di Korea sangat luar biasa. Basis kekompakan mereka dibentuk melalui program pelatihan dalam hitungan tahun.
 
"Semua band-band, kelompok vokal dari Korea itu dibentuk tidak dalam waktu bulan, mereka tahunan. Kalau kita melihat sejarah mereka ini bentuk formasi kemudian ganti, masuk lagi, ganti, sampai terakhir mereka membentuk satu formasi. Kemudian kalau mau main film tetap di satu manajemen. Berarti ada sistem persaudaraan," tuturnya saat ditemui Medcom.id belum lama ini.
 
Faktor Kegagalan Musik Indonesia Mengimitasi K-Pop
Bens Leo (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
 
"Di Indonesia boyband dan girlband dibentuk dalam hitungan bulan, karena sedang ada tren dunia. Kalau di Korea menciptakan tren. Jadi ditiru, bahkan sampai mereka menemukan pasar di Amerika, pusat industri musik dunia. Padahal dipikir-pikir boyband dan girlband Korea adalah mereka yang lahir dengan karya-karya musik yang diatonik musik barat, tapi mereka bisa menembus sana," kata Bens Leo.
 
Konsep audisi dan trainee atau pelatihan dari agensi Korea menjadikan anggotanya memiliki kompetensi dan apresiasi tinggi. Takaran ini yang luput ketika pembentukan girlgroup atau boygroup di Indonesia.
 
"Pembentukan yang terlalu pendek, jangka waktu menyebabkan mereka tidak bisa seperti di sana. Meskipun beberapa di antaranya mencoba menyamai dengan membuat buku dan foto-foto seperti halnya di Korea. Grup vokal sini kan begitu," imbuhnya menyoal girlgroup di Indonesia.
 
BTS dan Blackpink adalah dua nama grup K-pop yang terbilang pesat kesuksesannya. Terbilang junior dalam barisan nama-nama pendahulunya seperti SNSD, TWICE dan Super Junior, walau berbeda agensi, mereka sukses menarik perhatian calon peminat. Dalam barisan persaingan agensi, SM Entertainment masih menjadi raksasa dengan konsisten menggelar SM Town, proyek kolaborasi antar artis di bawah naungan SM Entertainment.
 
Apakah lypsinc termaafkan oleh koreografi?
 
Faktor Kegagalan Musik Indonesia Mengimitasi K-Pop
Blackpink di Konser ICE BSD Tangerang, 20 Januari 2019. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
 

Di balik koreografi yang powerful, tidak heran jika banyak yang mempertanyakan aksi lypsinc di atas panggung. Sebenarnya, jika ditilik girlgroup maupun boygroup tidak hanya menyuguhkan keindahan olah vokal tetapi olah tubuh. Pada video musik memang masih bisa bermain efek pada kamera, tetapi untuk aksi panggung, koreografi menjadi salah satu tolak ukur kesuksesan. Untuk itulah kualitas vokal termaafkan.
 
"Biasanya boyband dan girlband Korea yang bisa menyanyi dengan benar hanya beberapa orang. Yang lain memanfaatkan panggung sebagai tempat mereka untuk memperindah panggung, koreografi. Dan itu sah-sah saja sebetulnya karena itu bagian dari industri entertainment, sesuatu yang menjual," kata Bens Leo.
 
Ketika performa idola mereka kendor, ini cukup berpengaruh pada daya tarik peminat. Sebab, mereka juga menilai seberapa keras usaha idolanya di atas panggung melakukan koreografi.
 
Masa trainee grup K-pop dilalui dalam hitungan tahun. Sebelum muncul, mereka diperkenalkan dalam video musik grup seniornya dan masih menggunakan identitas anonim. Masa-masa ini menarik perhatian calon penggemar untuk lebih tahu girlgroup atau boygroup baru. Satu contoh ketika Rose dari Blackpink menjadi anggota terakhir yang diperkenalkan, dia sempat muncul dalam video musik G-Dragon pada 2012. Penikmat musik Big Bang dan penggemar G-Dragon bukan tidak mungkin ikut menggemari Rose.
 

 

Pernak-pernik penyambung ikatan batin
 
Dalam wawancara saya bersama Sara Sora pada November tahun lalu, salah satu penikmat musik K-pop yang tersohor di kalangan penggemar bercerita, dia rela melakukan apapun demi menyaksikan idolanya. Dia mengikuti perkembangan K-pop sejak SM Entertainment menelurkan artis-artisnya. Dia termasuk orang yang memiliki apresiasi tinggi terhadap karya album musisi Korea.
 
Fenomena Hallyu dan Fanatisme K-Pop di Indonesia
 
"Super Show (konser Super Junior) pertama aku belum nonton karena belum boleh pergi ke luar negeri sendirian. Kalau enggak salah itu 2010. Itu di Stadion Bukit Jalil. Aku ingat banget, pertama kali ke luar negeri sendirian. Itu pertama kali dilepas ke luar negeri sama teman-teman pakai uang tabungan, mama aku enggak kasih uang sama sekali jadi aku benar-benar menabung," ungkapnya saat itu.
 
Saat itu, Sora Sara membeli album grup K-pop idolanya langsung dari Korea Selatan. Ratusan ribu hingga jutaan rupiah rela dikeluarkan sebagai bentuk apresiasi terhadap idolanya.
 
Konsistensi mereka muncul di publik juga menjadi akses penggemar mengetahui keberadaan idola. Ambil contoh BTS, yang rutin mengeluarkan inovasi baru seperti merilis buku, komik, dan mixtape dari masing-masing personel. Mereka juga melakukan gerakan-gerakan positif seperti menjadi pembicara di sidang PBB New York tahun lalu.
 
Dalam program reality show, grup K-pop rutin membagikan aktivitas mereka. Sesekali disusupi fakta menarik dan kebiasaan dari para idola. Penggemar yang merasa memiliki karakter serupa dengan idolanya disebut bias. Tidak heran jika penggemar Indonesia memiliki rasa penasaran tinggi dan kecanduan terhadap suguhan musik-musik Korea.
 

 
Suvenir album, dan pernak-pernik lucu juga menjadi ikatan batin penggemar dan idola atau biasnya. Ini pun menjadi daya tarik kuat K-pop.
 
"Mereka membuat merchandise serius banget. Buku dibikin, foto-foto dibikin. Kemudian gimmick, kostum, aksesori bagian dari jualan mereka. Enggak sekadar musik, tapi juga industri kreatif mereka bergerak," kata Bens Leo.
 
Dalam sebuah diskusi terkait musik kini dan sekarang, pengamat musik sekaligus penggagas Irama Nusantara, David Tarigan mengungkapkan musik-musik Barat zaman dulu menarik atensi penggemar melalui pernak-pernik. Lebih-lebih untuk era digital sekarang, album sudah seperti ijazah musisi sekaligus memorabilia.
 
Faktor Kegagalan Musik Indonesia Mengimitasi K-Pop
David Tarigan dalam acara Sore Hore Vol. III di Joglo Kemang, Jakarta Selatan (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
 
"Gue enggak cuma dengerin musik. Gue memuja idola gue dengan segala paket yang ditawarkan sama dia. Jadi, jualannya itu satu paket besar. Ekspresi," kata David Tarigan dalam talkshow di acara Sore Hore Vol. III bersama Kaskus pada 26 Januari 2019.
 
"Semenjak ada era rock and roll, semenjak ada Elvis (Presley). Jadi jualan bukan cuma lagunya, tapi goyangannyaa dia, bagaimana cewek-cewek teriak, ada poster di mana-mana, merchandise laku dan lain-lain. Tinggal bagaimana artis itu tahu paketnya seperti apa. Itu sebenarnya satu hal yang tradisional. Bagi kita yang mengalami seperti itu, pasti dialami semua orang. Memang musik ada pemujaan di sana semenjak rock and roll sampai sekarang," kata David.
 
K-pop hasil imitasi budaya Barat?
 
Popularitas K-pop bisa jadi berkiblat pada kesuksesan musik-musik barat yang lebih dulu hadir lewat Backstreet Boys, N'Sync, Spice Girls, dan Westlife. Untuk kali ini, Bens Leo pun mengamini hal tersebut.
 
"Apa yang mereka mainkan sebetulnya musik barat, yang membedakan mereka itu good looking, cakep. Kedua kemampuan mereka mengeksplor dirinya dengan koreografi yang baik, kostum yang baik. Video klip digarap secara benar. Satu lagi adalah manajemen yang tertata rapi. Itu aja," tuturnya.
 
Konsistensi grup musik Korea Selatan bahkan telah tertuang dalam kitab undang undang mereka sendiri yaitu Music Industry Promotion Act.
 
Kreativitas itu berputar dengan teknik ATM yaitu amati, tiru, dan modifikasi. Indonesia terbilang gagal mengimitasi popularitas K-pop yang justru bersemi di negeri sendiri karena konsistensi dari negeri ginseng tersebut. Basisnya, mereka konsisten dan membentuk akar kuat melalui pelatihan yang tidak sebentar. Mereka turut menciptakan tren, bukan mengikuti tren yang angin-anginan bermusik.

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif