Dekat usai tampil di Musik Medcom (Foto: Medcom/Purba)
Dekat usai tampil di Musik Medcom (Foto: Medcom/Purba)

Pertarungan Dekat Meninggalkan Persimpangan Jalan

Hiburan indonesia musik dekat band
Elang Riki Yanuar • 13 April 2019 09:00
Jakarta: Perombakan dalam setiap band memang tak pernah mudah. Terlebih lagi jika harus mengubah nama dan memulai kembali segalanya dari nol. Kamga, Chevrina, dan Tata mengalami itu ketika meninggalkan nama Tangga lalu memutuskan mengusung nama Dekat pada 2014.
 
Mengubur Tangga dan melahirkan Dekat adalah pertaruhan besar bagi ketiganya. Tangga sudah berjalan hampir satu dekade dan menghasilkan banyak hit. Otomatis, popularitas Kamga, Chev, Tata dan Nera Merlin yang kala itu bergabung di Tangga bersanding dengan grup musik terkenal Tanah Air lainnya.
 
Namun, popularitas itu justru seperti pisau bermata dua bagi ketiganya. Bayang-bayang nama Tangga bahkan masih menghantui Dekat setiap kali mereka tampil.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Terlebih di awal-awal Dekat berjalan. Orang banyak berharap mereka membawakan lagu-lagu Tangga. Tentu saja mereka tak mau mewujudkan keinginan itu meski dengan konsekuensi ditinggal penonton. Kejadian seperti itu seperti diungkapkan Chevrina malah masih terjadi ketika mereka tampil di Surabaya bulan lalu.
 
Kamga, Chevrina, dan Tata bukan tanpa upaya untuk keluar dari bayang-bayang nama Tangga. Namun, semakin keras mereka mengelak, semakin telak kenyataan sepertinya tak berpihak. Hingga pada satu titik mereka mulai mengerti, bagaimanapun juga Tangga adalah masa lalu yang tak bisa ditampik.
 
"Pertarungan nomor satu kami itu adalah kami ingin orang tahu kami bukan Tangga. Tapi tahun-tahun berjalan kami merasa itu bukan pertarungan yang bisa kami menangkan. Kami pasti kalah. Jadi ya sudah, kami embrace saja," kata Kamga saat berbincang dengan Medcom.id di Jakarta
 
"Cobain deh lo punya band gede, terus lo ngeband lagi. Itu susah banget. Karena orang sudah punya persepsi," lanjut dia.
 
Pertarungan Dekat Meninggalkan Persimpangan Jalan
Dekat band (Foto: Medcom.id)
 
Kisah Pahit Ditipu Manajer
 
Transisi Tangga menjadi Dekat memang berbeda dari grup musik lain yang berubah nama seperti Peterpan menjadi Noah misalnya. Setelah Nera keluar, Tangga mereka bubarkan. Lantaran masih punya hasrat bermusik dan visi yang sama, Kamga, Chevrina, dan Tata lalu mendirikan Dekat. Mereka memulai segalanya dari awal. Tidak lagi tergabung dengan label dan manajemen sebelumnya.
 
Risiko memulai dari awal adalah mengurusnya semuanya sendiri. Sebagai musisi yang terbiasa 'dimanja' tentu saja hal itu menyulitkan. Tapi, dari situlah mentalitas dan kemampuan mereka diuji. Karena itu, meski sudah cukup lama menggeluti industri musik, Kamga, Chev dan Tata sepakat menyebut langkah mereka bersama Dekat sebagai kesempatan pertama.
 
"Tahun 2014 dulu itu lo tinggal duduk manis. Pokoknya hapalin lirik lagu lo. Lagunya sudah gue buat, bajunya sudah gue siapin, lo image-nya kayak gimana semuanya (sudah siap). Promo yang akan dijalani semua dari perusahaan dan lembaga yang menaungi kami. Akhirnya kami keluar dari yang dulu, mulai dari nol. Artinya kami enggak tahu harus ngapain. Kami enggak tahu bagaimana caranya promo, kami enggak tahu apa-apa sih. Tapi tetap ngotot ingin bikin band baru," jelas Chevrina.
 
Layaknya perjalanan pertama, Chev mengibaratkan Dekat seperti seorang anak yang tidak pernah keluar rumah kemudian dilepas. "Akhirnya harus tanya orang, tersasar, harus salah naik angkutan," ucapnya.
 
Tersesat ketika mencari jalan adalah perumpamaan Chev untuk menggambarkan berlikunya jalan Dekat ketika merintis langkahnya. Mereka bahkan harus mengalami kejadian yang menjadi mimpi buruk banyak musisi: ditipu manajer sendiri.
 
"November (2014) ada orang yang menawarkan kami. Dia bilang kami punya potensi, coba gue tangani. Tidak sampai setahun, ternyata orang itu menipu. Nyolong duit. Waktu itu dia menawarkan diri menjadi manajer. Kami mengiyakan saat itu karena orang ini kami tahu dia punya banyak jaringan. Tapi dia nyolong. Bahkan kami buatkan dia lagu. Judulnya Penjahat. Ada di EP kedua kami yang tahun 2016," ungkap Tata.
 
Meninggalkan Persimpangan Jalan
 
Dibohongi manajer sendiri adalah pengalaman terpahit Dekat ketika baru memulai perjalanan baru. Kerugian terbesar tidak hanya dari segi materi, tapi juga membuat langkah mereka menjauh dari jalan yang sedari awal ingin mereka tuju.
 
"Ketika pertama kali membawa nama Dekat, yang kami pikirkan adalah bagaimana kami berpisah dengan pasarnya Tangga. Selama setahun awal Dekat itu manggungnya lumayan tapi kami semakin jauh dari pasar yang kami mau. Dia mungkin prinsipnya cuan (keuntungan) nomor satu. Itu bukan hal yang salah juga, tapi dalam khusus kasus kami yang ingin rebranding, itu bukan hal yang baik," jelas Kamga.
 
Sejak mengusung nama Dekat, Kamga, Chev dan Tata memang bertekad menyasar pasar musik baru yang berbeda dari Tangga. Mereka ingin lebih dikenal di komunitas musik independen, jalur yang memang kontras dengan Tangga dahulu. Namun, untuk masuk ke jalur baru itu juga tidak mudah.
 
"Pada 2017 akhirnya berasa banget kami seperti tidak ada di dua jalur itu. Mau masuk ke pasar major label tidak bisa karena lagunya tidak cocok. Masuk ke pasar indie tidak bisa ya karena itu tadi, mereka menganggapnya siapa lo?," kenang Kamga.
 
Sebagai bukti ingin meninggalkan bayang-bayang Tangga, Dekat memang membawa perubahan dalam musik mereka. Mini-album Lahir Kembali menjadi penanda langkah awal Dekat di pasar musik yang mereka mau. Dibantu oleh Anugerah "Uga" Swastadi dan Marcell Nugraha sebagai produser, Dekat banyak memasukkan unsur elektronik dalam musik mereka, hal yang tentu saja berbeda jauh dengan Tangga dulu.
 
"Di kita tuh ada gengsi. Misalnya ada band major label bagus, tapi sama anak indie tuh enggak mau dengar. Alasannya bukan musik mereka. Dekat secara musik indie, tapi mukanya major banget. Jadi ketika kami mau masuk ke pasar musik yang kami mau tuh kaya, 'siapa lo?', 'ngapain lo di sini?," ujar Kamga.
 
Pertarungan Dekat Meninggalkan Persimpangan Jalan
Dekat band (Foto: Medcom/Cecylia)
 
Perlahan tapi pasti, Dekat membuktikan mereka bisa mandiri, paling tidak kepada diri mereka sendiri. Teknologi yang semakin kencang berlari melecut mereka. Jika tidak cepat beradaptasi, zaman akan dengan mudah melindas.
 
Personel Dekat akhirnya mulai belajar memproduksi musik sendiri. Chev, Kamga dan Tata membeli alat musik untuk menunjang proses belajar itu. Alhasil, sekarang dalam penampilannya personel Dekat berada di balik kemudi alat musik masing-masing. Berbeda jauh dibandingkan dengan semasa di Tangga yang hanya memegang mikrofon.
 
"Gue tumbuh di era yang orang jadi penyanyi saja sudah cukup. Terus ada penyanyi yang bisa menyanyi terus menulis lirik seperti Melly Goeslaw. Tapi coba lihat sekarang, lo saingan sama videografer yang bisa main musik dan juga produser. Bagaimana lo bisa compete sama dia? Dia ngerjain semua sendiri: bikin lagu, mastering, mixing, bikin video klip sendiri. Dia bisa keluarin lagu seminggu sekali. Makanya sekarang lo harus bisa melakukan semuanya."
 
"Sementara kami yang ngerti alat musik cuma Chev, itupun bukan yang mengerti banget. Akhirnya produce sendiri. Akhirnya mixing sendiri. Sebenarnya banyak yang bisa kita lakukan kalau kita mau hands on, kalau kita mau coba push diri sendiri. Sekarang bebas banget mau dimainin apa saja. Kebebasan itu yang buat kami sadar kalau main musik itu bukan cuma main kord gitar atau piano," tutur Kamga.
 
"Kami belajar dari nol banget. Tidak ada yang biasa megang instrumen. Butuh waktu berapa tahun kalau musti belajar gitar. AKhirnya kami banyak mengakali. Kamga pegang launchpad. Gue pegang SPD drum pad, kalau belajar drum pasti lama banget. Kebetulan musik Dekat memang cenderung elektronik," kata Tata.
 
Seiring perjalanan waktu, Dekat merasa mulai diterima di tempat yang dulu mereka tuju. Tahun 2018 adalah momen di mana Dekat sudah paham, ingin menjadi apa mereka. Sebuah album baru dirilis, judulnya Numbers. Yang istimewa dari album ini adalah mereka menggunakan lirik berbahasa Inggris di setiap lagunya. Alasannya jelas, ingin musik mereka didengar lebih luas lagi. Lagi-lagi, teknologi membuat keinginan itu bukan hal muluk.
 
"Sekarang saingan lagu enggak cuma di radio ya, ada di Joox, Spotify, yang orang akan dengan secara sengaja atau enggak sengaja bisa dengar lagu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Korea di satu playlist yang sama. Tapi yang kedua, ketika coba bikin album berbahasa Inggris ini justru bisa lebih jujur. Jujur dalam segi penulisan lirik. Maksudnya, kita enggak bilang dua mini album kita sebelumnya enggak jujur, enggak juga. Tapi di album ini (Numbers) jadi kayak lebih berani. Oh ternyata gue bisa ngomong sampai sini ya," jelas Kamga.
 
Pertarungan Dekat Meninggalkan Persimpangan Jalan
Dekat (Foto: dok. Dekat)
 
Pentingnya Penggemar
 
Di antara ketiga personel, Kamga mungkin yang paling mendapat hikmah besar ketika Dekat memulai jalur independen. Kamga mengaku baru tahu betapa pentingnya seorang penggemar bagi seorang musisi. Arti penting seorang penggemar tak pernah dia rasakan ketika masih mengusung nama Tangga.
 
"Dulu ketika masih di Tangga kalau setiap diwawancara atau ditanya seberapa penting sih penggemar, gue bakal jawab tidak penting. Karena gue memang tidak merasa sepenting apa sih penggemar? Gue merasa orang yang menggemari Tangga biasanya menggemari RAN atau HiVi juga. Gue tidak merasakan apapun. Manggung dicariin manajemen, CD tidak tahu berapa yang terjual. Yang gue tahu dulu cuma bikin lirik, menyanyi kalau diminta, terus pulang. Jadi gue tidak pernah mengerti apa sih fans itu?" ujar Kamga.
 
"Tapi ketika di Dekat, gue baru mengerti. Mereka (penggemar) yang sustain life lo. Mereka yang beli CD lo ketika lo merilis karya. Mereka yang menonton video klip lo ketika lo bikin video musik. Mereka yang bantu promosi ke teman-temannya. Mereka orang yang tahu kalau lo tuh ada. Mereka yang mau bayar Rp50 ribu atau Rp100 ribu ketika lo buat showcase. Unconditional tuh beneran ada. Kalau dulu mungkin ngefans karena biar bisa foto bareng saja. Sekarang tuh berbeda banget. Gue malah suka heran, kenapa sih mereka mau melakukan itu buat gue. Itu rasanya spesial," lanjut dia.
 
Pada akhirnya, kolektivitas membuat Chev, Kamga dan Tata menjadi musisi tangguh. Dari musisi yang dulu 'terima jadi', Dekat sekarang menjelma menjadi musisi yang mandiri. Setiap kali manggung, mereka bahkan bertindak sebagai kru yang mengangkut alat musik sendiri. Pemandangan seperti itu terjadi juga ketika Tangga menjadi bintang tamu Musik Medcom.
 
"Dulu gue fokus ke orang-orang yang, eh lo Tangga ya. Tapi kalau sekarang gue fokus ke orang yang eh lo tahu musik gue ya. Gue sangat apreciate sama orang yang mau tahu Dekat, yang dengar musik Dekat. Berasa banget kalau band ini butuh dukungan. Akhirnya kami sudah menyeberang masuk ke suatu pasar yang mendengarkan Dekat," tutup Kamga.
 

 

 


 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA18:59

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif