Augustin Sibarani: Jadi Karikaturis atas Mandat Bung Karno
Augustin Sibarani.(foto:Agustinus Shindu Alpito)
medcom.id, Jakarta: Jika ingin membahas dunia karikatur di Indonesia, agaknya lancang jika tidak dimulai dari Augustin Sibarani. Augustin Sibarani, pria  yang lahir pada 20 Agustus 1925 itu seolah dilahirkan untuk menjadi legenda.

Metrotvnews.com beruntung sempat mengunjungi Augustin yang tinggal di kawasan Cinere Gandul, Depok, Jawa Barat.  Meski sudah sulit berkomunikasi, perlahan Metrotvnews.com berhasil mengupas kisah demi kisah dari sang legenda karikatur Indonesia itu dengan dibantu putra sulung Augustin, Sanggam Gorga Sibarani, sebagai narasumber utama.  Hal ini dilakukan mengingat kondisi kesehatan Augustin yang lemah. Sejak terkena stroke Augustin sudah sangat sulit melakukan respons dalam bentuk suara dan gerak.

Augustin kecil sudah menunjukkan bakatnya di bidang menggambar. Saking jagonya, Augustin pernah menjuarai lomba menggambar sewaktu duduk di bangku Hollandsch Inlandsch School (setara tingkat SD) dan mendapat penghargaan dari Ratu Wilhelmina, penguasa Belanda.


Beruntung Augustin dilahirkan dalam keluarga kaya. Ayahnya seorang petinggi pemerintahan setingkat Bupati di Pematangsiantar. Sayang, di usia Augustin yang ke-enam sang ayah meninggal. Augustin tumbuh bersama sang ibu dan keluarganya dari warisan yang ditinggalkan sang ayah.

Lagi-lagi Augustin asal Pematangsiantar, Sumatera Utara itu beruntung. Sang ibu memiliki visi pendidikan yang baik untuk anak-anaknya. Setelah lulus dari Hollandsch Inlandsch School, Augustin menimba ilmu di Medan. Karena di Pematangsiantar waktu itu belum ada sekolah setingkat SMP dengan standar pendidikan yang diakui Belanda.


Salah satu karya Augustin Sibarani. Karikatur tentang Soeharto.

Meski memiliki jiwa seni yang tinggi, Augustin harus mengikuti keinginan sang ibu untuk melanjutkan sekolah di Hollandsch Inlandsch School atau Sekolah Pertanian yang terletak di Bogor. Tumbuh di Pulau Jawa dengan tingkat pendidikan yang tinggi di zamannya, Augustin lantas memiliki pergaulan yang cukup baik. Dia sempat merintis karier sebagai kepala perkebunan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pemuda mana yang tidak tergugah saat bangsanya tengah digempur bangsa lain, baik secara militer maupun ideologi. Augustin menanggapi panggilan itu dengan terjun secara langsung dalam perang melawan kompeni. Bertindak sebagai kepala perkebunan, tentu Augustin memiliki “pasukan” yang besar. Para buruh perkebunan. “Pasukan” itu lantas dikerahkan pula oleh Augustin dalam melawan penjajah.

Semangat nasionalisme semakin tak terbendung. Augustin akhirnya masuk ke dunia militer dengan bergabung menjadi tentara. Kontra dengan jiwanya sebagai seorang seniman, Augustin memutuskan keluar.  

“Menurut Pak Sibarani sendiri, sebetulnya ketika beliau keluar dari militer, beliau berpangkat letnan. beliau meninggalkan dunia milliter karena panggilan jiwa sebagai seniman. Saat itu beliau di Jogja dan mendirikan kelompok seni. Beliau juga kecewa dengan intrik yang ada dalam dunia militer,” kata Sanggam.

Dunia seni seolah membuka jalan hidup Augustin lebih luas lagi. Bergabung dalam kelompok seni yang bernaung di bawah Partai Indonesia (Partindo), bakat seni Augustin seolah mendapat rumah yang tepat.  Awalnya, Augustin menekuni bidang seni lukis. Namun, segalanya berubah saat dia bertemu Bung Karno.

“Selepas dari Jogja, Augustin ke Jakarta dan bertemu Soekarno. Soekarno bilang bahwa Indonesia sudah memiliki banyak seniman, tetapi belum ada yang benar-benar eksis di bidang karikatur. Secara khusus Bung Karno meminta Pak Sibarani menekuni bidang itu,” terang Sanggam yang mengetahui hal itu dari Augustin langsung.

Karikatur yang umum terdapat pada surat kabar, tabloid atau majalah seolah tidak bisa dipisahkan begitu saja dari produk jurnalisme. Perpaduan antara gambar, kritik, humor dan pesan sosial, menjadikan karikatur sebagai senjata bagi media untuk menyuarakan ideologinya terhadap berbagai gejolak sosial.

Dalam buku “Semiotika Komunikasi” tulisan Drs. Alex Sobur, M.Si, dijelaskan bahwa karikatur adalah produk dari karikaturis yang menyiratkan makna dan menjadi simbol intelektualnya dalam memandang topik dan isu yang tepat.  Karikatur juga dianggap sebagai kritik yang sehat karena dalam penyampaiannya menggunakan medium gambar yang lucu dan menarik.

Salah satu karya awal Augustin paling fenomenal saat menjadi karikaturis adalah gambar Mohammad Yamin yang dicitrakan menang tinju melawan Sultan Abdul Hamid, tokoh Republik Indonesia Serikat.  Karikatur itu dibuat untuk menggambarkan situasi debat di parlemen, ketika Mohammad Yamin mampu mematahkan pendapat politikus lain dalam rapat itu. Karikatur itu lantas menjadi gambar depan harian Merdeka.

Setelah diusut lebih jauh, ide menggambarkan suasana rapat seolah duel di ring tinju bukan datang begitu saja. Tinju adalah hobi yang ditekuni Augustin saat sekolah di Bogor. Setelah karikatur “tinju” itu meledak, Augustin kemudian bekerja di harian Bintang Timur menjadi karikaturis pada tahun 1956.

Dalam kurun waktu 1956 – 1965, Augustin menjadi delegasi Indonesia untuk studi seni di negara-negara blok timur.  Jerman Timur, Uni Soviet, Austria hingga Bulgaria, sempat disinggahi Augustin. Catatan perjalanan dan ulasan kesenian dari negara yang dikunjunginya masuk dalam kolom harian Bintang Timur.

Saat berada di Jerman Timur, Augustin pernah menjadi narasumber untuk acara kesenian yang disiarkan stasiun televisi setempat.


Augustin Sibarani 23 Agustus 2013. (foto:Antara/Teresia May)

Pada era 1960-an, Sibarani mendapat tugas khusus untuk mencitrakan potret Sisingamangaraja XII. Sayangnya, tidak ada satupun foto yang menggambarkan tokoh Batak itu. Hasilnya, Augustin menggambar Sisingamangaraja XII dengan reka cipta. Dipandu oleh orang-orang yang sempat mengenal Sisingamangaraja XII secara langsung.

Kemudian potret Sisingamangaraja XII yang digambar Sibarani dijadikan gambar untuk uang kertas dengan nominal Rp1.000  yang beredar pada  1987.  Sayangnya, persoalan ini berakhir di meja hijau karena Augustin merasa penggunaan potret Sisingamangaraja XII tanpa melalui proses izin hak cipta dari dirinya. Augustin kalah dalam proses peradilan ini.


Sisingamangaraja XII karya Augustin Sibarani

Kembali ke masa 1960-an, gejolak politik terus tak bisa dihindari. Petaka datang, Bintang Timur dibredel. Itu artinya, Augustin tidak lagi memiliki pekerjaan tetap.

“Pada saat 1965, Bintang Timur dibredel,  itu masa-masa sulit Pak Sibarani. Akhirnya dia menyambung hidup dengan menjual sketsa dan lukisan wajah.  Siapa yang ingin digambar datang ke bapak. Hidup dari menjual lukisan itu, yang penting dapur ngebul,” kata Sanggam yang kini menjadi dosen di UPN Veteran Jakarta.

Idealisme harga mati bagi Augustin, hingga dirinya tidak tergoda menjual ideologinya hanya untuk memuaskan pemerintah yang baru.  Hasilnya, Augustin hidup sederhana berpindah tempat, dari kontrakan ke kontrakan. Dia cukup beruntung karena banyak rekan-rekannya yang dianggap komunis dan dipenjarakan atau bahkan “dihilangkan”.

“Setelah saya melihat semua karya-karya Pak Augustin, memang keras sekali. Berpihak sekali. Hampir semua karya-karyanya menyerang kaum imprealis Amerika. Tetapi waktu itu, (setelah peristiwa G30S/PKI) stigma yang ada seniman yang berpihak kepada Bung Karno konotasinya negatif.  Itu dahsyat dampaknya. Meski bapak tidak ditahan atau tidak dihilangkan, tetapi tidak diberi ruang untuk berkarya,” kata Sanggam.

Sanggam juga menceritakan bagaimana hubungan Sibarani dengan seniman-seniman yang dituduh komunis, salah satunya Pramoedya Ananta Toer.

“Dulu saya ingat beberapa hari setelah Pram bebas, dia main ke rumah. Waktu itu rumah kami di Jalah Hidup Baru (Kebayoran Baru, Jakarta Selatan).  Bapak bilang pada saya ada tamu spesial mau datang. Saya ingat bapak bilang Pram tampak segar dan sehat setelah keluar dari penjara,” kenang Sanggam.

Lepas dari masa belenggu orde baru, di tahun 1998 Sibarani kembali  “turun gunung”. Tidak tanggung-tanggung, harian asal Prancis seperti Le Monde Diplomatique, Humanite, dan La Lettrede yang memuat karya karikatur Sibarani.

Setelah era 1998, Sibarani kembali melukis dan membuat karikatur yang menggambarkan situasi politik Indonesia. Tetapi belenggu orde baru terlanjur membekap karier Sibarani.

Kini, Augustin sudah sulit melakukan aktivitas. Hidupnya banyak dihabiskan dengan berdiam diri mengingat keadaan fisiknya yang sangat lemah, bahkan sulit berbicara.  Dia kini tinggal bersama putra keduanya, Gorky Sibarani.  Istri Sibarani, Sanibar Lumban Tobing telah meninggal pada 2003.

Tidak berlebihan bila, Peneliti Indonesia asal Universitas Cornell, Amerika Benedict ROG Anderson menyebut Augustin sebagai karikaturis terbesar di Indonesia.  Augustin Sibarani telah menjadi legenda hidup sebagai karikaturis Indonesia yang berpengaruh. Karyanya tidak bisa dibungkam. Pada 15 September 2014 karya-karya karikatur Augustin akan dipamerkan di Perpustakaan Nasional, Jakarta. (Baca:  Ada Karya Augustin Sibarani di Pameran Koleksi Perpusnas)

 



(FIT)