Bung Karno (Foto: dok. Arsip Nasional)
Bung Karno (Foto: dok. Arsip Nasional)

Bingkai Musik Bung Karno dalam Catatan Sejarah

Hiburan indonesia musik soekarno 75 Tahun Indonesia Merdeka
Cecylia Rura • 17 Agustus 2020 08:35
Era Presiden Soekarno tegas menolak pengaruh budaya barat terhadap musik Indonesia. Sebab, Soekarno dalam upaya membentuk identitas budaya Indonesia pasca perang dunia kedua pada masa neo-kolonialisme dan imperialisme (nekolim). Soekarno menggunakan konsep politik nasionalisme, agama, dan komunisme (nasakom) untuk melawan praktik nekolim yakni pembangunan dominasi barat atas negara lain.
 
Arah politik Soekarno saat itu membentuk identitas Indonesia dengan konsep Manifesto Politik/Undang Undang Dasar 1945 (MANIPOL USDEK) berdasarkan pidatonya pada 1959. Soekarno ingin membentuk masa depan Indonesia berlandaskan nasakom dan Pancasila. Pengenalan budaya Indonesia yang dilakukan Soekarno satu di antaranya memperkenalkan musik-musik daerah.
 
Dalam buku Bung Karno Bapakku, Kawanku, Guruku oleh Guntur Soekarno Putra dituturkan, Soekarno bersama keluarga kerap memainkan alat musik tradisional gamelan di Istana Negara. Gamelan merupakan alat musik tradisional yang ditemui di Jawa dan Bali. Menariknya, alat musik gamelan mencuri perhatian musisi AS William Colvig dan komposer Lou Harrison. Mereka menciptakan American Gamelan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Artikel New York Times yang diterbitkan 15 Maret 2000 mengutip buku Lou Harrison: Composing a World dari Leta E. Miller dan Fredric Lieberman menuliskan, Colvig dan Harrison bertemu setelah konser garapan Harrison pada 1967. Mereka menemukan kecocokan di bidang musik, akustik, juga politik. Colvig kemudian tinggal bersama Harrison di Aptos, California, AS. Harrison tertarik dengan orkestra musik gamelan sehingga berniat membuatnya di Amerika. Namun, untuk mengimpor sejumlah instrumen gamelan saat saat itu terbilang mahal.
 
Colvig dan Harrison menciptakan gamelan versi mereka berdasarkan rancangan gamelan Indonesia menggunakan benda-benda sekeliling seperti lembar aluminium, kaleng, tangki oksigen kosong, dan tongkat baseball untuk Old Granddad yang diciptakan tahun 1971. Harrison mempelajari bebunyian gamelan dengan teknik mimesis. Colvig dan Harrison menamakan gamelan ciptaan mereka dengan American Gamelan. Kali pertama gamelan mereka digunakan tahun 1972 dalam La Koro Sutro karya Harrison.
 
Dalam artikel Lou Harrison and the American Gamelan ditulis Leta E. Miller dan Fredric Lieberman, komposer Daniel Schmidt menyebut kursus Intonation in World Music yang digelar di Center World Music Berkeley menarik perhatian sejumlah pemusik terhadap American Gamelan. Acara itu dihadiri Harrison juga seniman gamelan Jawa K.R.T. Wasitodipuro alias Ki Tjokro atau Pak Cokro.
 
Kendati permainan gamelan Harrison mencuri perhatian, ada juga kritik yang menyebut dari mana Harrison menciptakan American Gamelan tanpa belajar gamelan selama bertahun-tahun dari ahlinya. Harrison kemudian intens belajar gamelan bersama Ki Tjokro dan komposer Jody Diamond. Mereka mempelajari lancaran dan bubaran.
 
Saat itu, Ki Tjokro menjadi instruktur di California Institute for the Arts (CalArts) di Valencia . Ki Tjokro mengajar gamelan Kyai Hudan Mas atau dikenal Venerable Golden Rain. Gamelan ini diimpor dari Jawa Tengah ke California Selatan pada 1972.
 
Harrison membawa Ki Tjokro ke San Jose University pada 1967 hingga 1983. Disebutkan, mereka membuat gamelan kedua bersama Colvig yang merujuk persis model gamelan Kyai Hudan Mas.
 
Kembali menyoal lagu Bung Karno, selain gamelan dia juga menggemari musik lokal Cianjur yang kerap dimainkan di Istana Negara, seperti Degung Kahyangan.
 
Artikel Music in Indonesia on the Ideological Debates in the Soekarnoian Era dalam Journal of Music Science, Technology, and Industry menyebut Soekarno tidak hanya menunjukkan respect terhadap musik-musik Jawa, Bung Karno mengundang penyanyi lokal asal Sulawesi ke Istana Negara.
 
Dalam buku Calling Back the Spirit. Music, Dance, and Cultural Politics in Lowland South Sulawesi dari Anderson Sutton, penyanyi Sul-Sel Ani Sapada, Daeng Romo, dan Daeng Maggau diundang ke Istana membawakan tarian Pakkarena dan musik gendang Makassar. Mereka juga diboyong dalam perjalanan budaya Indonesia ke Tiongkok menampilkan budaya Sul-Sel.
 
Soekarno juga melibatkan Lembaga Kebudayaan Rakjat (LEKRA) dan membentuk Lembaga Musik Indonesia (LMI) untuk mengumpulkan musik-musik lokal. Seniman yang terlibat dalam LEKRA yakni F. L. Risakotta dan Amir Pasaribu.
 
Soekarno mengungkapkan kebencian terhadap musik-musik barat seperti rock, dansa, cha-cha. Hal itu diungkap Bung Karno ketika mengeluarkan MANIPOL USDEK pada 17 Agustus 1959.
 
“Dan engkau, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, engkau jang tentunja anti imperialisme ekonomi dan menentang imperialisme ekonomi, engkau jang menentang imperialisme politik, kenapa di kalangan engkau banjak jang tidak menentang imperialisme kebudajaan? Kenapa di kalangan engkau banjak jang masih rock-'n-roll-rock-'n-rollan, dansi-dansian a la cha cha cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngek gila-gilaan, dan lain-lain sebagainja lagi?”
 
Pada zaman itu, Koes Bersaudara dipenjara lantaran musik-musik mereka dianggap kebarat-baratan. Radio Republik Indonesia berhenti menyiarkan musik-musik rock, pop, juga musik jazz.
 
Ketika Soekarno digantikan Soeharto, praktis kebijakan-kebijakan orde lama ditinggalkan. Termasuk dalam membatasi pengaruh budaya barat di Indonesia.
 
Pada era pemerintahan Soeharto masa orde baru, lagu-lagu cengeng dilarang oleh Menteri penerangan Harmoko. Pada zaman itu Soeharto disebut memiliki kecintaan terhadap musik keroncong terutama lagu yang dinyanyikan Waldjinah.
 
Budaya hippies yang berkembang di Amerika sekitar 70-an juga terjadi di Indonesia. Musik rock yang sempat dilarang pada era Soekarno menunjukkan taringnya. Dalam berita Antaranews, 16 Oktober 2019, David Tarigan, pegiat pengarsipan musik Irama Nusantara menyebut budaya barat disambut meriah dan disuarakan melalui gaya hidup dan musik di Tanah Air.
 
Namun, bukan berarti orde baru benar-benar membuka kesempatan pengaruh budaya barat tumbuh. Hari Pochang dari Gang of Harry Roesli menyebut musik rock menjadi bentuk pemberontakan.
 
Orde baru lekat dengan militerisme. Penganut gaya hidup hippies dan kebarat-baratan mengalami represi karena dianggap tidak beraturan. Pemberontakan terhadap aksi tersebut disuarakan melalui musik rock.
 


 
(ASA)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif