Tak lama setelah kemunculan album "Shae The First", popularitasnya melejit. Namun, sukses itu bukan dia dapatkan di Indonesia, melainkan di negeri tetangga, Malaysia.
Tak hanya berhasil menduduki posisi teratas di tangga lagu radio Malaysia, beberapa video lipsync lagu "Sayang" juga ikut bertebaran di Youtube.
"Tuhan memang selalu punya rencana yang tidak pernah bisa kita duga. Aku penyanyi Indonesia dan ingin bernyanyi untuk Indonesia. Tetapi tuhan bilang, 'Jangan, sana pergi ke tempat lain'. Dan, kamu tahu itu rasanya? Jangankan waktu itu, sampai sekarang pun masih dag dig dug," ugkapnya berseri-seri.
Album "The First" berisi delapan lagu yang diciptakan produser Posan Tobing. Dalam proyek musik yang dibuatnya, Posan sebenarnya ingin merepresentasikan Shae sebagai penyanyi pop. Namun kenyataannya,
Shae tak hanya mumpuni bernyanyi di genre pop saja, tetapi juga jazz, rock, dan R&B. Namun, tidak dengan dangdut.
"Sampai sekarang, aku masih susah kalau disuruh nyanyi lagu dangdut. Ada liukan-liukan nada yang sulit dinyanyikan. Tetapi untuk selera musik, jujur aku suka semua jenis musik, termasuk dangdut dan pop melayu," ungkapnya.
Sebelum bersolo karier, gadis kelahiran Riau, 16 Februari 1994 ini sempat mencari peruntungan dengan membentuk sebuah band. Namun, dewi fortuna mungkin memang belum berpihak kepada mereka. Setahun dibentuk, para personel band memutuskan bubar.
"Waktu itu, mungkin (band) kita bisa disebut minimarket, karena saking gencarnya melakukan promosi supaya bisa eksis. Tetapi, apa yang diharapkan ternyata tidak terjadi. Jalan setahun, band kita bubar," cerita Shae saat ditemui medcom.id di kantor Warner Music Indonesia di Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.
Bubarnya band kemudian dimanfaatkan Shae untuk bersolo karier. Di bawah label rekaman Warner Music, Shae mantap kembali berkarier di dunia tarik suara. Album berjudul "The First" muncul dipasaran pada 2012 dengan singel utama berjudul "Sayang".
Dipanggil Si 'Alay'
Masa remaja biasanya identik dengan kehidupan ceria. Sayangnya, hal tersebut tak sepenuhnya dirasakan Shae. Julukan 'Si Alay' atau 'Si Lebay' adalah makanannya sehari-hari.
"Aku dulu suka dipanggil 'Si Alay' dan 'Si Lebay' untuk alasan yang tidak aku tahu. Tapi, lama kelamaan aku enggak ambil pusing," ujar Shae.
Positifnya, pengalaman tidak menyenangkan menggodok kepribadian Shae. Pengalam buruk di bully juga yang menuntun Shae untuk bertransformasi menjadi sosok dewasa, meski usianya baru menginjak angka 20 tahun.
"Dalam perjalanan hidup, selalu ada hal yang mampu menginspirasi. Kegagalan, kematian (ditinggal orang-orang yang disayang), kehilangan, hingga dicaci-maki orang itu sudah pernah aku alami sejak usia 13 tahun. Tapi itu semua yang mengajari aku kedewasaan" ungkap Shae, di akhir pembicaraan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News