Yonathan Nugroho, CEO Trinity Optima Production (Foto: dok. Trinity Optima Production)
Yonathan Nugroho, CEO Trinity Optima Production (Foto: dok. Trinity Optima Production)

CEO Label Musik Trinity Blak-blakan Tantangan Bertahan di Industri Musik

Agustinus Shindu Alpito • 04 Oktober 2022 11:57
Dalam satu dekade terakhir industri musik mengalami perkembangan pesat yang membuat siapa saja di dalamnya harus punya segudang siasat untuk bertahan, beradaptasi, dan menjadi relevan. Tantangan itu tak luput menimpa label-label besar, termasuk Trinity Optima Production.
 
Sejak berdiri pada 2003, Trinity menjadi pemain besar dalam industri musik Indonesia. Mereka menjadi bagian dari perputaran tren musik di Indonesia, termasuk era pop-Melayu yang menginvasi radio dan televisi era 2010-an. Kala itu Trinity pernah menaungi grup seperti Bagindas, dan Setia Band. Kemudian turut mengambil peran dalam sirkuit band pop lewat Ungu, dan pada kemudian hari fokus pada penyanyi-penyanyi pop solo seperti Afgan, Rossa, Maudy Ayunda, Sherina, hingga Naura. Kalau pun ada keberagaman, mereka memiliki artis dangdut, Lesti Kejora. Meski ranah dangdut bukan menjadi warna utama dari label ini.
 
CEO Label Musik Trinity Blak-blakan Tantangan Bertahan di Industri Musik
(Afgan, salah satu musisi di bawah naungan Trinity. Foto. dok. Trinity Optima Production)
 
 
Berbekal katalog nama-nama besar, Trinity mengaku tetap menghadapi tantangan dalam era digital hari ini. CEO Yonathan Nugroho dalam wawancara eksklusif bersama Medcom.id mengatakan bahwa perusahaannya harus putar otak menyiasati semakin menyusutnya nilai material sebuah lagu di era digital.
 
“Karena memang di dunia digital ini target audiens yang bisa dituju itu banyak. Dengan asumsi distribusi banyak, revenue kecil. Kalau kita ngomong zaman dulu, misal CD, satu CD harganya Rp50 ribu, itu kira-kira satu lagu Rp5 ribu, Ke era RBT (Ring Back Tone) satu lagu Rp9 ribu kemudian turun sampai ke Rp3 ribu. Zaman sekarang, Spotify Rp49 ribu bisa dengerin semua lagu. Tetapi dampaknya buat label beda. Satu stream lagu nilainya kecil. Dulu era RBT kita dapet Rp9 ribu per lagu, sekarang satu stream di bawah Rp10 perak. Jadi value lagu makin lama makin kecil. 97 persen musisi enggak bisa hidup mengandalkan revenue digital, 3 persen mungkin bisa, 3 persen itu kalau di Indonesia mungkin kelasnya Tulus,” kata pria yang akrab disapa Pak Yo itu.
 
Seperti halnya industri lain yang mengalami perubahan model bisnis akibat perubahan zaman, tidak ada pilihan lain selain beradaptasi. Cara yang dilakukan Trinity menurut Pak Yo dengan melakukan diversivikasi bisnis, dan juga mengubah skema model bisnis musik. Jika dulu Trinity hanya terbatas pada label rekaman, kini mereka memiliki lini bisnis manajemen artis, menjadi agregator musik, hingga mengembangkan properti intelektual. Contohnya, Trinity yang membuat produk kosmetik bekerja sama dengan artis di bawah naungannya, Lesti Kejora.
 
“Kita berusaha melakukan diversifikasi. Off-air, on-air, endorsement digital, jadi music aggregator, bikin series, film, dan kita juga bikin divisi brand extension, misal kita bikin Purnama Beauty sama Lesti Kejora. Porsi terbesar masih dari katalog dan artist management.”
 
Lebih lebar dari itu, siasat bertahan dan beradaptasi Trinity dilakukan dengan melakukan bisnis-bisnis di luar musik. Menurut Pak Yo, hal itu tak bisa dihindari, melihat industri musik yang masih terus mencari formula terbaiknya pada era digital.
 
“Dunia digital ini cepat. Ada yang datang dan hilang, kita dituntut fleksibel dan cepat beradaptasi. Musik akan selalu ada, yang berubah itu formatnya, cara mengonsumsinya, distribusinya. Selama kita masih konsisten pada konten musiknya, tinggal kita bagaimana beradaptasi. Kalau sudah ready, kita ubah ke medium itu. Soul-nya ada di kontenya, di artisnya. Kita enggak terjebak membuat platform-nya. Kita investasi juga di Sayurbox, start up yang bergerak di blockchain dan crypto. Juga regenerasi artis untuk bisa beradaptasi dan relevan.”

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ranah lain yang kini dijajal Trinity adalah dunia sinema. Mereka kini aktif berinvestasi dalam berbagai rumah produksi sebagai produser eksekutif, sekaligus bekerjasama dalam bentuk konten musik dalam film.


Mengubah Pola Konsumsi

Pola konsumsi musik di Indonesia memiliki keunikan. Musik dianggap sebagai sesuatu yang gratis. Pola pikir itu sudah berlangsung puluhan tahun dan mengakar di masyarakat. Dampak dari budaya mengonsumsi musik secara gratis ini memiliki dampak panjang, mulai dari pembajakan, sampai sulitnya menjual pertunjukan musik berbayar. Belum lagi soal rendahnya pelanggan berbayar digital streaming platform.
 
Pak Yo menyebut kultur mental mengonsumsi musik secara gratis tumbuh dari masifnya konser-konser gratis pada era 1970-an hingga 1990-an. Namun, budaya itu perlahan bergeser. Generasi muda yang mulai memiliki kesadaran akan pola konsumsi musik berbayar diharapkan membawa dampak baik dalam industri.
 
“Di Indonesia orang mau dengar musik tetapi enggak mau bayar. Di mata mereka musik itu gratis. Makanya kami sudah melihat itu sejak 2004, dan kemudian mengubah model bisnis. Enggak hanya menjual musik, tetapi juga sebagai artist management.”
 
“Saya lihat generasi sekarang ada sedikit goodsign, generasi yang sekarang SMP, SMA. Culture-nya karena juga di ekosistem lain menikmati hiburan harus membayar. Misal menonton film di Netflix, harus bayar. Jadi itu yang membuat orang sadar. Edukasi itu sedang terjadi, mungkin akan kelihatan hasilnya 5-10 tahun lagi,” tukas Pak Yo.
 

Regenerasi

Tantangan utama sebuah label musik adalah untuk menjadi relevan pada setiap era. Untuk itu, terus meregenerasi artis-artis yang berada di bawah naungannya adalah sebuah kewajiban mutlak. Lantas, bagaimana cara jitu untuk bisa tetap memiliki artis yang relevan dan tentu saja "laku" di pasaran?
 
CEO Label Musik Trinity Blak-blakan Tantangan Bertahan di Industri Musik
(Ungu, salah satu band yang bertahan di tengah arus musisi solo yang menjadi prioritas label Trinity. Foto: dok. Trinity Optima Production)
 

"Caranya terus terang membuka diri, membuka mata, telinga, mencari artis yang bisa kita nurture. Cara kita talent scouting, menggunakan YouTube, Instagram, Tiktok, dan melihat potensi-potensi artis bukan hanya dengan parameter musik. Saingan utama artis musik adalah konten kreator. Konten kreator serba bisa, bikin musik sendiri, syuting sendiri, sementara hal itu tidak bisa dilakukan artis musik."
 
"Sebagai patokan, paling tidak dalam setahun ada dua artis baru. Konsep kita agak boutique, enggak pengin artis banyak, agar effort, tenaga, tercurahkan. Sekarang artis kita sekitar 15. Tetapi saya enggak kaku juga, semisal memang enggak ada yang bagus, ya enggak ada yang kita ambil."
 
Pak Yo juga melihat adanya pergeseran tren dari band ke musisi solo dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, band sudah tidak lagi relevan dengan pasar. Karena itu, pihaknya kini lebih memprioritaskan musisi solo. 
 
"Kita dulu punya banyak band, tetapi saya lihat 5 tahun ke belakang dunia sudah berubah. Menurut saya band akan terkikis, karena persona personal artis akan lebih terlihat. Misal sebuah band, pasti yang terkenal dan banyak pengikutinya vokalis. Di dunia lima tahun terakhir juga sedikit sekali pendatang baru band yang sukses. Jadi sejak lima sampai tujuh tahun lalu kami sudah mulai merekrutnya solo."
 
"Dulu rekrut band enak, yang main musik dia, yang rekaman dia, bikin lagu dia. Tetapi kalau artis solo, kita lebih effort, karena harus mencari penulis lagunya, penata musiknya, penata vokalnya. Posisinya kami lebih ke pop, kami fleksibel melihat tren juga. Dulu 2010-an ke pop Melayu, tetapi sekarang fokusnya lebih ke pop, fleksibel melihat market juga."
 
Menutup wawancara, Pak Yo menegaskan sekali lagi bahwa iklim digital yang masih terus mencari format terbaiknya adalah tantangan besar bagi pelaku industri. Tak salah jika menilai gula-gula dunia digital dengan segala kecanggihannya adalah sebuah fatamorgana.
 
"Digital itu memang semu, kelihatannya saja wah," tutup Pak Yo,
 
 
 
(ASA)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif