Kerispatih, Sammy Simorangkir, Badai. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
Kerispatih, Sammy Simorangkir, Badai. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Keputusan Berisiko Substitusi Vokalis Band

Hiburan indonesia musik
Cecylia Rura • 19 Maret 2019 15:48
Jakarta: Pergantian personel dalam grup band bukan kabar baru di industri musik pop Indonesia. Contoh musik pop sekarang semakin santer dengan pergantian vokalis dan lokomotifnya.
 
Menakar dari kesuksesan hit yang ditelurkan, band seperti Cokelat dan Kerispatih yang kini ditinggalkan sang vokalis tampak seperti mati suri. Masih terdengar tapi tak sesanter dulu. Sammy Simorangkir dipecat Kerispatih usai ditangkap kepolisian pada 2 Februari 2010 atas kepemilikan sabu di rumah indekos kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Masih di tahun 2010, Kikan pamit dari Cokelat lantaran sibuk mengurus keluarganya.
 
Beberapa band melakukan pergantian personel karena dengan berbagai sebab. Belum lama ini Geisha menggandeng vokalis baru Regina Poetiray yang masih berusia 20 tahun. Nidji dengan Yusuf Ubay yang juga masih berusia 22 tahun. Pergantian vokalis tentu hampir mengubah total image sebuah band.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Geisha yang kental membawakan lagu melankolis bersama Momo kini ada vokal penyanyi muda Regina Poetiray. Nidji bersama Yusuf Ubay berusaha memberikan karakter musik baru, meninggalkan bayang-bayang Giring.
 
Keputusan Berisiko Substitusi Vokalis Band
Formasi baru Geisha (Foto: dok. musicastudios)
 
Tentang pergantian vokalis yang meredupkan popularitas band, kami mencoba meminta pendapat pengamat musik Bens Leo. Menurutnya, memang keputusan itu bukan hal mudah.
 
"Mengganti vokalis memang berisiko, terutama jika sebuah band telah menghasilkan lagu-lagu hits, malah super hit dari beberapa albumnya. Nama Sammy (Kerispatih), Kikan (Cokelat), Ari Lasso (Dewa), bahkan vokalis Kangen Band (Andhika), telah memberi warna pada band-nya, dengan albumnya yang sukses," ungkap Bens saat dihubungi belum lama ini.
 
Mantan jurnalis musik ini juga mencontohkan kisah pasang surut band Dewa dengan Ahmad Dhani sebagai lokomotifnya membutuhkan waktu lama untuk membangun image baru saat pergantian Ari Lasso ke Once Mekel sebagai vokalis.
 
"Ahmad Dhani memerlukan waktu dua tahun lebih untuk mengganti Ari Lasso dengan Once buat Dewa 19. Once jelas beda dengan Lasso, Dhani sebagai pencipta lagu perlu menggeser 'motif lagu' Dewa dengan vokalis baru. Tapi, fans Dewa tetap kecewa dengan penggantian Lasso, itu sebabnya konser Reuni Dewa 19 yang sampai digelar di Malaysia, dengan didukung Ari Lasso dan Once Mekel," terangnya.
 
Pada masa transisi pergantian Ari Lasso ke Once Mekel, Ahmad Dhani fokus mendirikan Republik Cinta Manajemen. Grup musik The Virgin, The Lucky-Lucky termasuk proyek musik mantan istrinya Maia Estianty juga digarap Dhani. Namun, pada akhirnya Once Mekel hengkang juga.
 
"Sayang akhirnya Once pun keluar dari Dewa 19, karena konsentrasi di label musiknya KFC. Tapi Dhani malah punya kesempatan membuat reuni Dewa 19, mempertemukan Lasso dan Once sepanggung. Dhani pintar jualannya, tetap pakai lagu-lagu lama," kata Bens.
 
Keputusan Berisiko Substitusi Vokalis Band
Ari Lasso dan Once (Foto: dok. MI)
 
Apakah grup musik itu tetap bertahan setelah berlayar bersama vokalis baru?
 
Ahmad Dhani mungkin bisa membuktikan hal itu melalui Ari Lasso dan Once Mekel. Sebab, meski tidak menjadi vokalis Ahmad Dhani adalah lokomotif band tersebut.
 
Ada Band yang sempat diperkuat Baim pun terdengar makin menggelora dengan hadirnya Donnie Sibarani. Begitu juga dengan Kotak yang ternyata pada awalnya belum menggandeng Tantri sebagai vokalis.
 
"Kotak sebelum punya lead vocal Tantri, juga ada vokalis lain, tapi vokalis pertamanya belum rekaman," terang Bens.
 
Grup musik lain ada Hivi! yang tetap pada pasar anak muda masih disenangi meski Dea Dalila digantikan Aleida.
 
Fakta ini menjadi bukti grup band tidak serta merta pupus setelah ditinggal sang vokalis. Terlepas dari tawaran bermusik off air, takaran popularitas mereka kini masih diukur berdasarkan konsistensi merilis album dan mempopulerkan karya.
 
Alasan klise: tidak harmonis
 
Keputusan vokalis hengkang dari sebuah band dapat disebabkan tidak adanya kata sepakat. Hal klise seperti perbedaan pendapat dan sikap dominan egosentris pada satu atau dua personel juga memantik perpecahan.
 
Pongki Barata mundur dari Jikustik setelah merasa ide-idenya tidak diterima oleh rekan sejawat dalam band. Domisili tempat pun menjadi kendala mereka untuk menjaga komunikasi, hingga berdampak pada pekerjaan yang rasanya dipikul sendiri oleh Pongki.
 
"Saya kecewa dengan bagaimana posisi saya di band ini yang saya rasa saya bisa mati di band ini. Kenapa? Satu saya tidak bisa melakukan konsep yang ada di otak saya karena selalu berbenturan," ujar Pongki belum lama ini jelang gelaran konser rekonsiliasi bersama Jikustik.
 
Kali terakhir pertemuan Pongki dan bersama personel Jikustik seperti belum memberikan titik temu untuk berdamai. Lebih-lebih masing-masing personel masih berdomisili di kota berbeda dan memiliki kesibukan baru.
 
Keputusan Berisiko Substitusi Vokalis Band
Jikustik formasi lama (Foto: medcom/cecylia)
 
Kasus yang sama juga terjadi pada Payung Teduh. Is memilih berkarier solo dengan nama Pusakata setelah Payung Teduh merilis album Ruang Tunggu pada 19 Desember 2017. Sempat akan diikuti Aziz Comi, tetapi dia kembali untuk tetap memperkuat Payung Teduh. Alasan perpisahan ini tetap disimpan oleh kedua belah pihak tanpa diketahui publik.
 
Tidak jarang beberapa vokalis yang hengkang justru lebih berkibar namanya. Modalnya jelas, karakter suara yang tidak bisa lepas dari penggemar. Sammy Simorangkir, Anji dan Ari Lasso contohnya. Nama mereka masih terdengar meski bertitel solois.
 
Pendapat menarik sempat diutarakan Virzha, yang hingga saat ini masih berprofesi sebagai solois. Menurutnya, vokalis hengkang dari band adalah fenomena lama dan cobaan. Begitu pun sebaliknya bagi seorang solois yang kerap mendapat tawaran bergabung.
 
"Sejarahnya saja memang vokalis itu punya banyak cobaan sebenarnya. Kalau band itu diajak solo, itu sejarah sudah membuktikan. Dari Freddy Mercury yang mungkin semua orang sudah nonton filmnya (Bohemian Rhapsody), dan rata-rata begitu. Kayak vokalis diajak solois, atau solois diajak nge-band. Karena jiwa orang beda-beda punya idealisme beda-beda," terang Virzha saat bertandang ke Media Group belum lama ini.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif