Fiersa Besari (Foto: Medcom/Elang)
Fiersa Besari (Foto: Medcom/Elang)

Menyusuri Garis Waktu Fiersa Besari

Hiburan indonesia musik Fiersa Besari
Elang Riki Yanuar • 03 November 2019 13:00
Jakarta: Tak ada yang bisa menyangkal, Fiersa Besari adalah salah satu penulis muda dan musisi yang paling banyak digandrungi saat ini. Perpaduan dua dunia yang dimiliki Fiersa yaitu musik dan sastra membuat kariernya dengan mudah menjalar menembus pasar anak-anak muda, khususnya kaum kawa.
 
Lirik-lirik lagu Fiersa banyak bicara soal cinta. Dia kerap menyajikan diksi-diksi romantis yang kerap tak terduga. Dia sepertinya tahu bagaimana cara membuai orang dengan sederhana. Kebisaan itu tentu tidak dia dapat dalam satu malam.
 
Renjana Fiersa pada dunia musik sudah tertanam sejak masih remaja. Saking gilanya pada dunia musik, dia nekat mengambil jalan jauh dari bekal keilmuan yang dia dapat di kampus.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Setelah lulus sebagai mahasiswa sastra jurusan sastra Inggris, dia malah membuka studio musik. Dia sempat juga melakoni profesi sound enginer dan kru bagi sejumlah band. Dari situlah daya juang Fiersa ditempa.
 
"Biasanya kalau (lulusan jusuran) sastra kebanyakan kerja di bank. Saya tidak mau. Saya bukan orang yang terlibat dalam rutinitas yang itu-itu lagi. Akhirnya saya saya memaksa orangtua jual mobil untuk bikin studio. Ternyata studionya gagal," kata Fiersa saat berbincang dengan Medcom.id belum lama ini.
 
"Tapi dengan studio rekaman itu saya ketemu sama banyak musisi lain dan itu membuka pikiran saya tentang musik. Yang tadinya saya rasa musik itu yang penting 'wah main musik saja', tapi setelah jadi tukang colok-coloknya band lain, saya jadi tahu pola pikir band lain seperti apa," lanjut dia.
 
Menyusuri Garis Waktu Fiersa Besari
Fiersa Besari (Foto: Medcom/Elang)
 
Perjalanan Fiersa menuju tangga popularitas nyatanya tidak mudah. Dia harus mengarungi tapak yang bisa dibilang penuh luka. Penolakan dan diabaikan menjadi karibnya ketika hendak membangun karier. Namun, semakin banyak luka yang dia dapat, semangatnya semakin tumbuh berkali lipat.
 
Fiersa akhirnya mengambil jalannya sendiri. Pada 2011, bersama Fahd Djibran (Penulis) dan Futih Aljihadi (seniman visual), Fiersa Besari membentuk Revolvere Project. Setahun setelahnya, Fiersa merilis album solo perdana berjudul 11:11 yang diikuti dengan album bertajuk Tempat Aku Pulang.
 
"Saya adalah orang yang biasa ditolak. Jadi saya orang yang berani mengajukan beberapa kali masukin demo misalkan, dan ternyata pahitnya demo itu ditolak. Bahkan lebih pahit tidak diberi jawaban. Ternyata banyak juga label yang menggantungkan, enggak kasih jawaban. Tapi dari situ saya sudah terbiasa untuk berusaha dan pola pikir saya berubah dari sana," jelas Fiersa.
 
Layaknya seorang musisi mandiri yang baru menetas, Fiersa harus berpikir keras bagaimana cara untuk terus bertahan. Dia masih ingat, tidak ada satu acara pun orang yang mengundangnya manggung, tapi dia akhirnya memutuskan membuat panggungnya sendiri.
 
"Tahun 2012 waktu itu nekat bikin showcase. Jadi mengundang teman-teman terus yang nonton 200 orang. Terus modalnya sendiri bikin panggungnya pakai duit sendiri. Sampai traktir panitianya cuma nasi goreng. Memang merasakan banget yang namanya enggak ada yang ngundang ya sudah bikin sendiri," kenang Fiersa.
 

 
Setelah merilis album perdana, Fiersa tak juga menggapai tujuan awalnya bermusik yaitu menjadi terkenal. Namun, kegetiran itulah yang mengubah perspektif Fiersa terhadap musik. Dulu, Fiersa menganggap musik adalah jembatannya untuk meraih popularitas lalu berbanding lurus dengan gelimang materi.
 
"Saya berpikir yang tadinya main musik pengen terkenal, jadi main musik itu untuk memenuhi kebutuhan jiwa. Jadi enggak pernah lagi ada pikiran saya harus dikenal berapa juta orang gitu. Tapi itu semua jadi bonus, ketik kita menyerahkan keterkenalan dan uang ini jadi bonus malah datang sendiri. Selalu seperti itu," ucapnya.
 
Titik Balik Arah Langkah Fiersa
 
Patah hati ditinggal menikah membuat kepahitan hidup Fiersa bertambah. Dia memutuskan menjual seluruh alat musiknya lalu uangnya dia pakai untuk pergi berkelana menyusuri berbagai tempat di Indonesia. Tujuannya tentu melupakan semua masalah.
 
Sepulang dari perjalanan panjang, dia memulai medium baru: menulis buku. Inilah yang menjadi titik balik hidup dan karier Fiersa.
 
"Di situ momentum di mana saya benar-benar berhenti dari dunia musik, waktu itu patah hati banget, ditinggal nikah. Semua alat-alat band di studio saya jual. Saya jual akhirnya saya menghilang selama tujuh bulan mencari kesadaran baru dan semua kesadaran baru ini saya tuangkan di buku Arah Langkah (Buku keempat yang dirilis 2018)," katanya.
 
Menyusuri Garis Waktu Fiersa Besari
Fiersa Besari (Foto: Medcom/Cecylia)
 
Sama seperti langkahnya di dunia musik, Fiersa juga banyak mengalami penolakan ketika hendak merilis buku pertamanya. Terkuncinya pintu penerbit arus utama tak membuat Fiersa mundur. Dia sudah terbiasa dengan itu sehingga tetap menjauh dari kata menyerah. Buku pertama yang ditulis Fiersa berjudul Garis Waktu akhirnya dirilis pada 2016.
 
"Aktivitas menulis dari 2013 tapi balik lagi kan karena terbiasa penolakan ketika mau diterbitkan, saya mau ego tinggi nih, mau diterbitin ah gagal di dunia musik saya bisa terbitin bukunya, eh gagal juga. Butuh waktu sekitar tiga tahun sampai akhirnya naskah-naskah saya akhirnya diterima penerbit," kenang Fiersa.
 
Buku Garis Waktu ternyata masuk dalam daftar buku laris. Begitu juga dengan buku-buku lainnya yang dia rilis seperti Konspirasi Alam Semesta, Arah Langkah hingga Catatan Juang. Dia juga merilis album buku 11:11 yang merupakan daur ulang album pertamanya.
 
Melihat rentetan karya ini menunjukkan betapa produktifnya Fiersa hanya dalam waktu beberapa tahun belakangan. Hal ini tentu tak terlepas dari tingginya minat orang terhadap karyanya. Melihat nama Fiersa yang mulai naik membuat penerbit yang dahulu menolaknya berbalik sikap. Begitu juga dengan label musik yang dulu mengabaikan karya Fiersa. Namun, Fiersa belum tergoda.
 
"Saya ingat banget ketika sudah masuk penerbit, waktu itu Alhamdulillah best seller kan Garis Waktu dan buku-buku selanjutnya best seller. Baru tuh penerbit lain yang tadinya menolak saya mulai ngontak, tapi saya mengucapkan terima kasih saja."
 
"(Label musik) Ada beberapa yang menawarkan. Ada label raksasa yang menjamunya hebat sekali. Tapi setelah diskusi lagi, teman-teman sudah pada matang. Kami sudah jatuh bangun, melalui banyak hal. Kayaknya sudah asyik seperti ini. Kami menolak baik-baik dan sopan," terang Fiersa.
 
Terlambat Mengenal Pramoedya Ananta Toer
 
Kemampuan menulis lirik dan buku Fiersa tak diraih secara instan. Ia diasah melalui perjumpaan dengan banyak musisi dan penulis lain. Di antara daftar itu ada nama Pramoedya Ananta Toer. Di usianya yang sudah menginjak 35 tahun, Fiersa mengakui dirinya terbilang terlambat menjelajahi mahakarya Pramoedya.
 
Pertemuan pertamanya dengan Pram justru terjadi melalui tangan orang lain. Ketika sedang berkelana di Indonesia Timur, seorang teman memberikan buku Anak Semua Bangsa karya Pramoedya. Fiersa langsung jatuh cinta. Dia lalu melumat karya Pramoedya lain dalam waktu singkat.
 
"Di situ saya langsung merasa, 'gila ini orang hebat banget bisa bikin buku sekeren ini;. Saya enggak tahu dulu enggak tahu ada Bumi Manusia jadi saya enggak tahu itu sekuel," kata Fiersa.
 
Bagi Fiersa, Pramoedya idola. Perjalanan Pram yang hidup di pengasingan tapi masih menghasilkan maharkarya sastra dianggap Fiersa tidak ada bandingannya.
 
"Saya rasa ini orang hebat banget nulis tanpa bantuan Google di bawah tekanan tapi bisa menghasilkan empat buku yang awalnya dicekal dan dibredel tapi bisa dialihbahasakan ke berbagai bahasa di luar negeri sana sampai akhirnya diangkat jadi film," jelasnya.
 
Fiersa pun mengakui karya-karyanya banyak dipengaruhi Pramoedya. Karena itu, dia bersyukur pernah terlibat dalam film Bumi Manusia yang diangkat dari novel Pramoedya. Fiersa didapuk menjadi pengisi soundtrack film Bumi Manusia bersama Once Mekel dan Iwan Fals.
 
"Saya rasa tidak berlebihan kalau anak muda harus mengidolakan Pram dari segi tulisan, dari kisah hidupnya. Karena jarang ada orang bisa menulis sevisioner itu, sehebat itu tanpa Google dan dicekal pada zamannya. Dan jangan sampai terputus, jangan sampai anak muda setelah saya enggak tahu siapa itu Pram," ucapnya.
 

 


 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif