Laleilmanino (Foto: Medcom/Purba)
Laleilmanino (Foto: Medcom/Purba)

Laleilmanino, Arena Bermain Baru Tiga Serangkai

Hiburan indonesia musik Laleilmanino
Purba Wirastama • 21 Maret 2019 09:00
Sekian tahun aktif di grup musik masing-masing, mereka bertiga bertemu dan membentuk proyek belakang panggung yang tidak sepenuhnya menghindari perhatian publik. Adalah Laleilmanino, trio produser dan penulis lagu di balik nyanyian populer seperti Jangan dari Marion Jola dan Wahai Kau Tuan dari Widi Mulia.
 
Arya "Lale" Ramadhya, Ilman Ibrahim, dan Anindyo "Nino" Baskoro mengawali proyek Laleilmanino enam tahun silam, setelah mereka bertemu dalam jamuan pesta ulang tahun musisi senior Yovie Widianto di Bali. Ilman adalah kibordis Maliq & D'Essentials sejak 2011, tiga tahun setelah Lale bergabung lebih dulu sebagai gitaris. Nino adalah satu dari trio RAN yang aktif sejak 2006.
 
Debut karya Laleilmanino adalah singel Surat Ijin Mencinta untuk Bastian Steel. Hingga kini, mereka bertiga telah membuat lebih dari 70 judul lagu untuk penyanyi dan grup lain, termasuk yang belum dirilis. Pada tahun keenam ini, jumlahnya bisa jadi mencapai 100 judul.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain berkarya, Lale, Ilman, Nino juga punya niat lain yang mereka nyatakan dalam beberapa kesempatan. Mereka hendak mengingatkan pendengar, bahwa di balik lagu-lagu yang disetel tiap hari, ada sosok pencipta lagu juga di sana. Tentu upaya ini terbantu popularitas masing-masing karena mereka bertiga bukan orang baru di panggung pertunjukan musik.
 
"Sebenarnya yang kami kejar bukan fame status, terkenal atau tidaknya (kami sebagai pencipta lagu)," kata Nino dalam wawancara dengan Medcom.id beberapa waktu lalu.
 
"Hal yang kami kejar adalah apresiasi. Pencipta lagu itu kurang dapat sorotan. Kalau misal lagu sudah dirilis, yang bergandengan dengan lagu itu penyanyinya. Kami memang sengaja di belakang layar, tetapi enggak mau di belakang banget. Ingin juga sesekali menampilkan diri dan ikut berbangga, menyiarkan kalau lagu ini bikinan kami untuk penyanyi," ungkap Nino.
 
Laleilmanino, Arena Bermain Baru Tiga Serangkai
Trio Laleilmanino (Foto: Medcom/Purba)
 
Strategi termudah adalah membagikan cerita tentang proses berkarya mereka lewat kanal akun media sosial masing-masing, terutama Instagram. Akun resmi @laleilmanino punya 7.500-an pengikut saja. Namun dari akun pribadi @lalepsi, @ilmanibrahim, dan @ninokayam, gabungan jumlah pengikut mereka mencapai 291 ribu pengguna.
 
Jika mereka bertiga rajin membuat postingan yang disimak 10 persen pengikut saja, setidaknya 29 ribu orang tahu bahwa Bunga Citra Lestari misalnya, punya satu lagu terbaru bertema patah hati yang mereka bertiga ciptakan. Dari segi bisnis, ini bisa dilihat sebagai upaya mandiri untuk membuat nama proyeknya tidak tenggelam di lautan industri musik era digital.
 
Lewat upaya berbagi cerita itu, mereka juga hendak menepis anggapan bahwa proses membuat lagu itu sekadar enak-enakan.
 
"Mereka ikut keseharian kami lewat Instagram masing-masing. Mereka jadi tahu sekarang, 'Oh, proses bikin lagu itu begadang sampai pagi ya, ternyata enggak segampang itu ya'. Dulu ada komentar, 'Enak ya main musik? Bikin lagu saja lalu jadi,'" ungkap Nino.
 
"Kami juga ingin akhirnya masyarakat mengapresiasi karya kami dan profesi pencipta lagu," imbuh Nino.
 
"Sembari mengajak teman-teman, sebenarnya banyak banget pencipta lagu dan mereka bagus-bagus, tetapi karena mungkin enggak nongol, (mereka kurang dikenal," sambung Lale.
 
Menurut mereka, ada jeda generasi di antara pencipta lagu populer yang bisa dijadikan role model. Setelah Melly Goeslaw, Dewiq, Pay, atau Yovie Widianto, musisi terkini yang dikenal sebagai pencipta lagu adalah yang membuat lagu untuk dirinya sendiri.
 
Konsistensi dan Kontribusi
 
Pada masa awal, proyek Laleilmanino dianggap sebelah mata dan konsistensi mereka diragukan beberapa pihak. Nyatanya, mereka telah berjalan enam tahun dan membuat puluhan lagu, di samping masih aktif sebagai personel RAN atau Maliq & D'Essentials. Beberapa karya mereka bahkan berhasil memberi warna baru bagi penyanyi atau grup terkait.
 
Rekan-rekan terdekat cukup suportif. Dari beberapa orang, mereka mendapat wejangan, "Kalau misal lo pengen benar-benar jadi pencipta lagu yang punya predikat hitsmaker, bukan masalah lo bisa bikin satu hits atau tidak, tetapi lo bisa bikin hits berapa banyak dan harus konsisten."
 
Dengan prinsip itu, mereka menargetkan harus membuat sedikitnya satu lagu rilis setiap bulan. Biasanya, Ilman fokus kepada progresi kord dan penyelarasan dengan vokal, Ilman merancang pondasi lagu, dan Nino sering mengerjakan lirik.
 
Markas mereka adalah sudut kecil di sebelah kantor dan studio rekaman Maliq & D'Essentials di ruko kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Mereka punya manajer yang mengatur jadwal kosong mereka bertiga untuk mengerjakan lagu pesanan, sejauh tidak bertubrukan dengan jadwal Maliq dan RAN.
 
Seperti lazimnya proyek serupa, di situ mereka bertemu dengan penyanyi atau klien lain untuk membahas konsep lagu yang diinginkan. Bukan hanya apa yang diinginkan penyanyi terkait, tetapi juga apa yang mereka bertiga inginkan untuk karya baru tersebut. Mereka ingin proyek submisi ini menjadi proyek kolaborasi sejak awal.
 
Ada kalanya diskusi itu alot karena setiap pihak punya gagasan berbeda. Ilman menyebut bahwa proyek semacam ini membuat mereka semakin bersemangat.
 
"Gue senang di situ, menemukan tengahnya itu lumayan seru," ujar Ilman.
 
Selain diskusi, mereka juga mempelajari karakter dan kelebihan utama penyanyi terkait lewat lagu-lagu sebelumnya. Karakter terkuat akan dipertahankan dan dibungkus dengan "rasa musik baru".
 
"Contohnya Lalahuta. Kami lihat dulu, mereka main reguleran (bermain di kafe) biasanya membawakan apa saja, playlist yang cocok apa, atau kalau dia punya lagu sendiri. Jadi kami merancang agar mereka bisa manggung dan membawa lagunya dengan enak," tutur Ilman.
 
Untuk pendatang baru seperti Marion Jola, perancangan konsep musik ini relatif lebih leluasa. Di sisi lain, mereka punya tanggung jawab mengantarkan Marion masuk industri musik secara profesional. Hasilnya tidak mengecewakan. Singel debut Marion, Jangan, sukses diterima pasar dengan jumlah streaming puluhan juta kali. Lagu ini juga mengantarkan Laleilmanino mendapat penghargaan Best Engineer di Korea Selatan.
 
"Enggak menyangka ternyata bisa sampai sana dan diapresiasi orang sana," ujar Ilman.
 

 
Kendati begitu, tantangan mengerjakan karya penyanyi baru atau lama tidak hendak dibedakan. Mereka ingin karya rilisan baru mampu menawarkan rasa dan nuansa baru – setidaknya "baru" dalam konteks perjalanan karier penyanyi terkait.
 
"Kami harus memandang semua itu kayak sedang bikin karya debut. Misalnya, orang mau merilis debut, rasa senangnya beda dengan yang pernah merilis sesuatu sebelumnya. Kalau merilis lagi, situasinya kayak mau membuktikan. Kalau ini, enggak. Ini sedang enggak ada beban, nothing to lose, pengen rilis album baru yang rasanya pasti akan beda banget ketimbang lagu sebelumnya," tutur Nino.
 
"Jadi, itu tugas kami," sambung Lale.
 
Beberapa karya mereka untuk penyanyi lama antara lain Pelita untuk Andien, Masih Disini untuk Judika, album kedua Hivi! berjudul Kereta Kencan, album ketiga Vidi Aldiano berjudul Persona, dan singel debut Armand Maulana (vokalis Gigi) sebagai penyanyi solo, Hanya Engkau yang Bisa.
 
"Itu debut dia sebagai penyanyi solo setelah bertahun-tahun. Jadi kami merasa itu sudah seperti babak baru. Lagunya bukan seperti ini lalu kami melanjutkan, tetapi kami harus bikin yang benar-benar beda," ungkap Nino.
 
Album Persona untuk Vidi Aldiano misalnya. Untuk album ini, mereka tidak ingin Vidi mengandalkan kekuatan vokal ballad dengan vibrasi. Mereka adu pendapat untuk menemukan formula terbaik lainnya.
 
Apakah kalian mewajibkan diri untuk memperkaya referensi musik?
 
Bisa iya, bisa tidak, kata Nino. Mereka butuh bekal referensi banyak agar bisa memperkaya notasi dan sekaligus meminimalkan potensi karya yang mirip. Namun di sisi lain, mereka tidak mendengarkan banyak lagu ketika sedang membuat lagu baru supaya karakter masing-masing tetap terjaga.
 
Bagi Ilman, ada kalanya mereka justru beristirahat dari musik sama sekali.
 
"Di sini (studio) dengar musik, di mobil dengar musik, di mana-mana dengar musik. Capek. Kuping mesti istirahat juga," ujar Ilman.
 
Meninggalkan Kenangan
 
Bagi Lale, album Kereta Kencan untuk Hivi! adalah salah satu karya yang cukup memuaskan. Lewat album kedua itu, yang empat lagunya dibuat Laleilmanino, Lale merasa Hivi! punya karakter baru tanpa meninggalkan karakter lama dan sekaligus "naik kelas" di tengah perjalanan karier.
 
"Kita semua tahu, album kedua itu bukan album yang mudah dikerjakan dan penting banget buat kelangsungan karier musisi. Menurut kami, itu berhasil. Mereka punya kesempatan baru lewat lagu-lagu tersebut. Selain senang bikin lagu, kami juga senang bikin seseorang punya karier gara-gara satu dua lagu yang kami ciptakan," ungkap Lale.
 
Lagu Kamu untuk Nadhira juga menjadi capaian tersendiri. Kamu menjadi lagu pertama karya Laleilmanino, yang proses mixing akhir dilakukan mereka sendiri. Ini juga menjadi salah satu lagu dengan aspek teknis yang lebih mendetail, di samping So In Love untuk Marion Jola.
 
Ilman menyebut contoh karya lain yang secara meninggalkan kesan khusus. Salah satunya adalah Menghilang untuk penyanyi solo Andira. Suatu hari, seorang teman datang dan menunjukkan lagu tersebut sebagai karya bagus, tanpa dia tahu bahwa mereka adalah penciptanya.
 
"Kami kayak, ha-ha lucu ya, bisa begitu juga," ungkap Ilman.
 

 
Hal serupa terjadi untuk Wahai Kau Tuan, lagu yang dibawakan oleh Widi Mulia sebagai kado ulang tahun pernikahan ke-10 dengan Dwi Sasono. Lagu ini dirilis untuk publik, tidak mencapai angka pendengar tinggi, tetapi menjadi obrolan hangat di kalangan ibu-ibu. Setidaknya para ibu yang diketahui Nino di sekolah anaknya.
 
"Jadi di tempat anak gue sekolah, ibu-ibunya ngomongin dan memuji lagu ini karena mengena di usia mereka, ibu-ibu muda. Hal kecil tapi bikin senang," kata Nino.
 
Tahun 2019 menjadi tahun tersibuk bagi Laleilmanino karena proyek penciptaan lagu lebih banyak ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Khusus tahun ini pula, mereka menyetop permintaan lagu baru karena ada pesanan besar dari pihak non-penyanyi. Mereka belum tahu siapa penyanyinya dan seperti apa lagunya, tetapi sudah dipesan untuk membuat sejumlah lagu.
 
Perjalanan enam tahun terakhir membuat Laleilmanino bertemu dan bekerja sama dengan lebih banyak musisi, label, dan mitra lain. Sesuatu yang barangkali jarang ditemui di grup masing-masing. Mereka juga turut berbahagia karena bisa membantu musisi lain melapangkan jalur karier ke depan.
 
"Laleilmanino menjadi arena bermain gue yang lain di samping kegiatan kami masing-masing. Soalnya kalau gue pribadi, banyak lagu yang enggak terpakai di Maliq. Ilman mungkin juga punya lagu yang enggak terpakai," ujar Lale.
 
"Kalau di band sendiri, kita punya koridor masing-masing. Ada yang enggak bisa dipakai di band kami, tetapi kalau di sini, (penyanyi) yang datang bermacam-macam," sambung Nino.
 
Pergi Menjauh (Marion Jola) misalnya, kata Nino, adalah lagu ciptaan mereka yang tidak mungkin digunakan di album rilisan Maliq dan RAN.
 
Musisi serta seniman kebanyakan ingin dikenang lewat karya mereka. Begitu pula bagi Lale, Ilman, dan Nino. Lebih spesifik lagi, Lale menyebutkan bahwa Candra Darusman adalah sosok yang layak menjadi contoh atau role model. Selain tetap aktif berkarya sejak 1970-an, Candra juga turut punya kontribusi terhadap masalah administrasi hak kekayaan intelektual.
 
"Karyanya terus ada, dia juga kembali aktif di (proses kreasi) musik," kata Lale.
 
Bagi Ilman, keinginan dikenang adalah sesederhana meninggalkan sesuatu yang bisa dikenang oleh keluarga keturunan mereka masing-masing.
 
"Pada akhirnya nanti, anak cucu kami tahu bahwa dulu itu, papa atau kakeknya pernah punya lagu ini. Ada peninggalan lagu. Sesederhana itu," tukas Ilman.
 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif