Melihat Fenomena Diss-Track Hip-Hop dari Sudut yang Lebih Luas

Agustinus Shindu Alpito 23 November 2018 19:22 WIB
indonesia musik
Melihat Fenomena Diss-Track Hip-Hop dari Sudut yang Lebih Luas
Mirza atau lebih dikenal dengan nama Jawir, sosok di balik Represent Jakarta (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
"It's fucking bussiness, entah (tujuannya untuk) monetize atau emosi kalian. Tapi gue enggak bisa menyalahkan itu juga."

Kalimat di atas keluar dari mulut Mirza atau lebih dikenal dengan nama Jawir, saat saya minta tanggapannya soal fenomena diss-track yang mewarnai jagat internet beberapa waktu terakhir. 

Jawir adalah sosok di balik acara hip-hop Represent Jakarta, yang konsisten menggandeng berbagai komunitas hip-hop di Indonesia. Dia bukan orang baru di dunia hip-hop lokal. Jawir lahir dari generasi hip-hop 90-an. Masa di mana genre ini mulai menunjukan tajinya di industri musik Indonesia.


Satu bulan terakhir, media sosial diramaikan oleh fenomena diss-track dari ranah musik hip-hop. Beberapa nama yang muncul antara lain Ben Utomo, Xaqhala, Saykoji, Explicit Verbal dan Lilyo

Fenomena diss-track kali ini bermula dari tulisan Xaqhala pada zine besutan Hellhouse, Hell Magz yang berjudul "Ketika 'Battle Rap' Keselo." Xaqhala menulis soal kultur rap battle dan sejarah istilah "beef" dalam konteks rap battle hip-hop.  Xaqhala menyorot penggunaan istilah "beef rap" dan "rap battle" dari acara bertajuk "Beef Rap Battle." Kedua istilah itu menurut rapper yang juga bagian dari grup Boyz Got No Brain punya arti berbeda dan penggunaan yang berbeda pula. 

(zine Hell Magz dapat diunduh di sini)


(Sampul zine Hell Magz edisi #4 yang memuat artikel Xaqhala)


Tulisan Xaqhala direspons oleh Ben Utomo dari All Day Music, pihak yang membesut acara "Beef Rap Battle." Acara itu juga melibatkan Iwa K, Saykoji dan Laze sebagai juri.

Seperti efek bola salju, diss-track yang muncul bukan hanya dari Ben Utomo. Rapper-rapper lain yang merasa tersinggung atas dampak dari diss-track yang lahir ikut ambil bagian. Membuat scene ini makin riuh.

Tidak semua diss-track berakhir dengan perseteruan yang kian meruncing. Dalam beberapa kasus, ada diss-track berakhir damai. Saykoji dengan Lilyo dan Explicit Verbal contohnya. 

Lantas, bagaimana kita seharusnya melihat ini dari sudut pandang yang lebih luas?

Di era internet, di mana penggunanya suka keributan, kehebohan, sensasi dan drama-drama perselisihan, diss-track tentu jadi menu menggiurkan. Terbukti dari rilisan diss-track yang mampu menjaring views ratusan ribu hanya dalam beberapa hari. Saking sukanya dengan keributan, netizen bahkan ikut menjadi kompor, berharap sesuatu yang lebih beringas keluar dan menambah panas scene ini.

Meski tujuan merilis diss-track bermacam-macam. Tapi tetap saja, ada konsekuensi yang harus ditanggung. 

Ada dua hal setidaknya dampak dari diss-track. Pertama, baik untuk karier dan bisnis sang rapper. Kedua, membawa hip-hop pada lembah kelam tragedi perseteruan. Seperti apa yang pernah terjadi di Amerika.

"(Diss-track untuk kepentingan bisnis) Itu terjadi di beberapa talent. orang Indonesia paling susah beli musik, tapi kalau lo jual merchandise itu laku. Impact-nya, dari lo bikin karya (termasuk diss-track), pasti ada (peningkatan frekuensi panggung) off-line, jual merchandise, endorsement, dibayar sebagai influencer. Make money dari situ." 

"Uang di hip-hop itu gede banget. (Apalagi) sekarang di era digital, outlet-outlet atau venue pun sekarang undang talent-talent hip-hop," kata Jawir.

Pernyataan Jawir membuka pikiran kita untuk bisa lebih luas lagi melihat drama yang terjadi. Sedangkan dari sisi pelakunya, tentu harus dapat lebih bijak dalam menyikapi dinamika yang ada. Karena salah-salah, perselisihan ini justru berujung pada sesuatu yang lebih besar dan tidak terkendali.

"Esensi di hip-hop orang mau di-recognize di game. Tapi, which game? Tiap orang punya game-nya masing-masing. Mereka mau di-recognize dan itu impact-nya ke bisnis, sah-sah saja. Dan buat gue ada beberapa yang melakukan itu. Tapi enggak apa-apa. Itu hak mereka."

Dissing memang jadi kultur hip-hop. Tetapi, Jawir menilai fenomena diss-track yang terjadi di hip-hop lokal belakangan adalah persoalan komunikasi. Termasuk apa yang terjadi dengan Ben Utomo dan Xaqhala.

"Harusnya tulisan dari Xaqhala enggak perlu dibalas pakai diss-track. Xaqhala cuma mengkritik title acara yang begitu (terdengar) seram. Tapi, kontennya tidak sama dengan kultur aslinya. Itu saja. Alangkah baiknya duduk bareng dan diskusi. Bukan diss-track," kata Jawir.

"Anak-anak itu enggak saling kenal, jadi punya asumsi masing-masing. Iwa, Xaqhala support kok sama yang muda-muda. Bahkan ada film It's Wijilan (film dokumenter yang memperlihatkan interaksi dan pergerakan antar generasi dalam komunitas hip-hop Hellhouse di Yogyakarta)."

"Esensi dari paling dasar berkomunikasi. Meski di hip-hop ada esensi (lain) kompetisi, pride, memang lahir dari situ."

Kemudian Jawir menceritakan peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya, antara Young Lex dan Xaqhala. 

Xaqhala sempat merilis diss-track untuk Young Lex, pada 2016. Namun, keduanya belakangan bertemu dalam sebuah kesempatan tidak terduga, yaitu pada pesta perilisan album debut Laze, Maret 2018. Komunikasi terjalin, ketegangan mereda. 

Melihat apa yang terjadi saat ini, Jawir berharap bahwa para pelaku hip-hop lebih bertanggungjawab pada scene musik ini, demi menghindari gesekan yang nantinya tidak dapat dikendalikan.

"Era anak sekarang sama anak 90-an beda. Kita mengadaptasi kultur dari Barat, tapi kita punya nilai budaya ke-Timur-an. Enggak bisa semua (kultur hip-hop Barat) lo terapin di sini."

"Jangan pernah membuat tradisi 'West Coast - East Coast' seperti di luar sana, itu sama saja lo meninggalkan legacy yang pada akhirnya enggak bisa lo kontrol. Ke depan, semua orang harus lebih pintar dan lebih wise, saling menghargai pendapat dari sudut pandang lain."

Diss-track seperti satu rantai ekosistem tersendiri dalam dunia hip-hop yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Tidak bisa dipungkiri, diss-track membuat orang menoleh. Menggugah rasa penasaran atas akar sebuah konflik. Tapi tentu saja, jika semua berujung pada hal-hal kontra-produktif untuk scene hip-hop itu sendiri, untuk apa merayakan sebuah perseteruan?

Baca juga: Iwa K, Bicara Narkoba dan Identitas Hip-Hop Indonesia

 



(ASA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id