Mario Marcella atau yang akrab disapa Cella (Foto: Facebook Kotak Asli)
Mario Marcella atau yang akrab disapa Cella (Foto: Facebook Kotak Asli)

Cella "Kotak" Bagikan Kisah Mengejar Mimpi jadi Musisi, Tiga Hari Tidak Makan

Hiburan band kotak indonesia musik kotak band
Dhaifurrakhman Abas • 19 Mei 2020 14:46
Gitaris band Kotak, Mario Marcella, mengenang perjuangan mengejar mimpi menjadi seorang musisi. Hal itu bermula dari kecintaannya bermain gitar sejak kecil, saat masih tinggal di kampung halamannya, di Banyuwangi, Jawa Timur.
 
"Jadi ceritanya waktu itu dari kecil aku udah jalani dua hobi. pebalap sama main gitar. Keduanya jalan dan akhirnya aku menemukan passionku di musik," kata gitaris yang karib disapa Cella dalam wawancara Shindu's Scoop - Sua Virtual di Instagram @medcomid, Senin 18 Mei 2020.
 
Hidup di Banyuwangi, Cella merasa kemampuan dan pengetahuan bermusiknya kurang berkembang. Setelah menyelesaikan studi di sekolah menengah atas, Cella kemudian memutuskan hengkang dari kampungnya dan merantau ke Jakarta.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kota Banyuwangi, kota terpencil yang notabene informasinya sangat telat untuk urusan musik, pada saat itu. Zaman waktu tu era kaset, belum YouTube. Nyari ilmu musik itu kayaknya sulit. Jadilah aku harus ke Jakarta," papar dia.
 
Bermodal nekat, Cella akhirnya tiba di Ibu Kota tanpa kenalan dan sanak saudara. Cella menyadari kota yang menjadi harapannya meraih cita-cita menjadi musisi terlalu keras untuknya yang kala itu masih berusia 17 tahun. Alhasil cita-citanya menjadi musisi ambyar seketika.
 
"Ketika sampai di Jakarta, apa yang saya impikan di Bayuwangi ambyar. Di luar ekspektasi, karena Jakarta itu keras. Kehidupan jauh lebih mahal. Kedua, lingkungan jauh beda," ujarnya.
 
Semasa di Jakarta, Cella bekerja serabutan agar kebutuhan perut terpenuhi. Sebab, kalau tidak begitu, beberapa kali dia kehabisan duit sampai puasa berhari-hari dan tidak makan.
 
"Momen paling diingat adalah di mana waktu itu saya tiga hari tidak makan. Cuma mampu beli kacang sebungkus Rp500 perak. Waktu itu ada rokok, ngirit beli yang lintingan. Saat itu cuma bisa ngopi sama makan kacang buat nahan lapar," ungkap dia.
 
Cella kemudian mencoba peruntungan bekerja sebagai pengamen, loper koran, hingga membagi-bagikan brosur di jalanan. Hal ini diakukannya sekaligus untuk membuka jaringan pertemanan di tanah perantauan.
 
"Kalau bagi aku, banyakin kenalan, dan banyakin teman, berarti banyak rezeki. Akhirnya ada teman ngamen, ikutan. Sebar brosur, koran ikutan, buat bertahan hidup," kenang dia.
 
Pada masa itu, tak jarang Cella hanya makan nasi dengan kuah saja di Warteg, karena tak memiliki uang.
 
Mengejar ilmu bermusik
 
Meskipun bekerja serabutan, Cella tetap berusaha mengejar impiannya mencari ilmu bermusik. Uang yang diterimanya dari hasil kerja rodi dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk belajar di salah satu sekolah musik bernama Chic's Music di bilangan Jakarta Timur.
 
"Dan akhirnya saya sekolah di situ cuma mampu dua bulan tok, karena faktor enggak punya duit. Tapi aku banyakin teman di situ buat ambil ilmu dari teman di situ. Salah satunya Aria Baron, (mantan personel band Gigi)," kenang Cella.
 
Pertemanannya di dunia musik mengantarkannya ke kehidupan yang sedikit lebih baik. Dia ditawari bekerja menjaga studio band yang masih berlokasi di kawasan Rawamangun.
 
Meskipun saat itu uang yang diterimanya masih belum cukup untuk bertahan hidup di ibu kota. Akan tetapi, ada hikmah yang didapatkannya ketika bekerja di studio musik ini. Dia memanfaatkan fasilitas studio untuk memperdalam kemampuannya bermain gitar.
 
"Pada suatu saat saya kerja di sebuah studio (Danis Studio) dekat Chic's Music. Di situ saya belajar banyak hal. Ketika yang jaga studio tidur, saya manfaatkan fasilitas yang ada. Saya kulik-kulik saja. Buat saya ini fasilitas, karena enggak bayar, kenapa enggak dimanfaatkan," katanya.
 
Menjadi anak band
 
Cella mengatakan, pengalamannya bekerja di studio membuatnya berkenalan dengan para pemusik, salah satunya, band cafe yang sedang membutuhkan gitaris. Melihat kepiawaian Cella bermusik serta kepandaiamnya berkawan membuatnya diajak bergabung menjadi gitaris di band tersebut.
 
Setelah beberapa waktu bermusik bersama, salah satu bassist dari band cafe bernama Hatta mengajaknya mengikuti audisi The Dream Band. Ini merupakan sebuah acara realitas yang ditayangkan televisi swasta untuk mencari personel band bertalenta.
 
"Pas diajakin daftar sama Hatta, ternyata ini festival individu. Akhirnya kami tetap daftar, tapi namaku yang ditulis oleh Hatta di festival tersebut," ujar Cella mengenang pengorbanan yang dilakukan temannya itu.
 
Berkat kemampuan dan karakternya bermain gitar, Cella berhasil menjadi salah satu pemenang di festival Dream Band. Dari sana Cella berkenalan dengan jebolan Dream Band lainnya dan membentuk grup musik Kotak dengan formasi awal Pare (Vocal), Icez (Bass), Cella (Gitar) dan Posan (Drum).
 
Hingga kini, band Kotak masih tetap eksis dan terus berkarya di usianya yang nyaris menyentuh 16 tahun. Band yang kini beranggotakan Tantri Syalindri Ichlasari, Swasti Sabdastantri, dan Mario Marcella, sudah menelurkan album self-titled(2005), Kotak Kedua (2008), Energi (2010) dan Terbaik (2012).
 
"September nanti kami akan keluarin album. Ini akan berbeda dari album Kotak sebelumnya. Pokoknya lebih kekinian dengam elektronik," tandasnya.
 


 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif