Erwin Gutawa dan para musisi Indonesia berkolaborasi dengan Synchron Stage Vienna Orchestra (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
Erwin Gutawa dan para musisi Indonesia berkolaborasi dengan Synchron Stage Vienna Orchestra (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)

Cerita Perkawinan Musik Koplo dengan Musik Klasik di Austria

Hiburan erwin gutawa
Agustinus Shindu Alpito • 14 Juni 2019 07:45
Tidak ada yang lebih serius untuk urusan musik klasik daripada orang-orang Austria.
 
Di Austria, urusan musik klasik seperti halnya dogma agama. Sahih. Mencari gedung musik di Wina, ibukota Austria, barangkali lebih mudah dibanding mencari minimarket.
 
Ini adalah cerita yang mungkin akan menjadi legenda. Secara berani dan tentu saja nekat, komposer Erwin Gutawa mendikte para musisi klasik asal Wina, Austria, memainkan nomor terhormat mereka, Tristch Tratsch Polka, dalam nuansa koplo.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bayangkan, para musisi orkestra lintas departemen yang sudah puluhan tahun bergelut dengan nomor-nomor dari Mozart, Strauss, Schubert, Beethoven, Bach, dan nama-nama dedengkot musik klasik lain, kini harus berkompromi dengan musik ritmik dari kepulauan nan jauh di sana, Indonesia. Tapi seperti itulah seni, cair dan tidak terbatas sekat.
 
Dalam konser bertajuk Ethnochestra: A Melody of Friendship, yang digelar di gedung prestisius Wiener Konzerthaus, pada 12 Juni 2019 itu, Erwin menyiapkan sejumlah kejutan. Konser ini berawal dari obrolan ringan antara Erwin Gutawa dengan Duta Besar Indonesia untuk Austria, Dr. Dr. Darmansjah Djumala, pada tahun lalu. Konsep awal tentang menggabungkan dua karakter, etnik dan klasik itu akhirnya terwujud berkat dukungan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan serta Badan Ekonomi Kreatif Indonesia.
 
Konser dibuka dengan Weiner Blut karya komposisi Johan Strauss. Setelah itu, Gita Gutawa bersama penyanyi tenor Gabriel Harvianto tampil. Mereka membawakan Chopin Larung, Janger Saka, Geger Gelgel, dan Indonesia Maharddhika.
 
Cerita Perkawinan Musik Koplo dengan Musik Klasik di Austria
 
Chopin Larung menurut saya adalah pilihan tepat untuk membuka konser ini.
 
Frederich Chopin, komposer jenius asal Perancis, adalah simbol yang melambangkan bagaimana dunia Barat begitu memuja kecerdasan, kesempurnaan, dan tentu saja keindahan.
 
Lagu Chopin Larung adalah ciptaan Guruh Soekarno Putra, yang dirilis bersama grup Guruh Gipsy, pada tahun 1976. Album itu disebut-sebut sebagai salah satu album terbaik dalam sejarah musik modern Indonesia.
 
"Nanging Chopin nenten ngugu, kadang ipun ngrusak seni budaya (Namun Chopin tiada memahami, kadang bangsanya merusak seni budaya)," bunyi lirik Chopin Larung.
 
Jika diterjemahkan secara bebas, intinya Guruh ingin mengungkapkan ironi di balik kaum Barat yang di satu sisi memuja kesenian, di sisi lain menggerus budaya bangsa lain. Guruh melihat peristiwa ini terjadi di Bali. Pada era 70-an, bisa dibilang Bali benar-benar seperti kekasih baru para pelancong Barat. Mereka berbondong-bondong datang ke Bali dan menjadikan kultur budaya Bali sebagai objek, mengeksploitasi, dan terkesan tidak menghormati tata nilai budaya masyarakat Bali.
 
Mendengar Chopin Larung berkumandang di titik episentrum musik klasik dunia, tentu sebuah momen magis tersendiri. Ini seperti sebuah sikap budaya yang dinyatakan secara elegan.
 
Belum berhenti sampai di situ, Erwin memadukan Chopin Larung dengan nomor yang tak kalah tajam dari album Guruh Gipsy, yaitu Janger 1897 Saka.
 
Gabriel dan Gita membawakan sepenggal lirik Janger, "Langsing lanjar pamulune nyandat gading, sariang jani mejangeran, sariang ngentu rotaroti," sebelum medley masuk ke lagu Guruh lain, Indonesia Maharddhika.
 
Bila diteruskan, lirik Janger mengandung pesan yang kuat;
 
"Boleh saja bersikap selalu ramah-tamah
bukanlah berarti bangsa kita murah
Kalau kawan tak berhati-hati bisa punah budaya asli
Kalau punah budaya asli harga diri tak ada lagi."

 
Meski Janger 1987 Saka hanya sepenggal dibawakan, namun lagu itu tetap membawa pesan kuat tentang tentang bagaimana kita menjaga kehormatan budaya. Erwin lantas menutup sesi medley album Guruh Gipsy dengan Geger Gelgel, sebuah pesan yang saya tafsirkan sebagai sikap bagaimana kita sebagai bangsa seharusnya berani untuk bercermin dan mengkritik diri sendiri untuk sebuah perubahan.
 
Medley karya Guruh Soekarno Putra ditutup sempurna dengan Indonesia Maharddhika, lantunan, "Cerah gilang gemilang, harapan masa datang, rukun damai mulia, Indonesia tercinta," menggema membuat para tamu asal Indonesia bergetar mendengarnya.
 
Erwin Gutawa memimpin 40 pemain orkestra dari Wina. Nama kelompok orkestra itu Synchron Stage Vienna Orchestra. Di kalangan Hollywood, nama Synchron Stage sudah tidak asing. Beberapa film dan komposer besar pernah bertandang ke markas Synchron Stage. Termasuk komposer wahid Hans Zimmer. Erwin membawa tujuh musisi tradisional untuk bermain bersama 40 musisi bule itu.
 
Usai sesi pernyataan sikap lewat Chopin Larung - Janger 1987 Saka - Geger Gelgel - Indonesia Maharddhika, Erwin lantas membawa 650 penonton yang hadir untuk terbang melintasi Indonesia, dari Barat ke Timur.
 
Representasi Indonesia Barat hadir lewat nomor Fatwa Pujangga, tembang Melayu yang saya jamin teknik menyanyikannya tak dapat ditiru penyanyi klasik terbaik di kota Wina.
 
Sedangkan wakil dari Timur, Erwin menugaskan Sandhy Sondoro untuk membawakan Pangkur Sagu. Sepertinya, Sandhy telah memukau para bule pemain orkestra sejak dari sesi latihan. Pasalnya, saat Sandhy naik pentas, terlihat senyum kagum dan tingkah pemain orkestra yang saling bisik-bisik. Tak heran mereka begitu, tidak lain karena karakter vokal Sandhy yang sudah begitu banyak mendapat pengakuan internasional.
 
Belum reda euforia Pangkur Sagu, kini Erwin menghajar dengan peluru andalan, Woro Mustiko. Gadis asal kota Solo yang berusia 16 tahun. Woro mendapat tugas berat malam itu. Dia harus menembang macapat, bermain wayang, dan menari topeng Betawi. Bukan peluru andalan jika Woro tak mampu menuntaskan tugasnya tepat sasaran.
 
Cerita Perkawinan Musik Koplo dengan Musik Klasik di Austria
 
Beberapa tamu undangan tampak geleng-geleng tanda kagum dengan cara Woro bernyanyi. Seolah menyiratkan pesan, "Ke mana saja saya sampai baru tahu ada musik dan lagu seindah ini?"
 
Woro membawakan macapat Pangkur. Suasana magis. Tak ada suara satupun di ruangan konser selain suara Woro yang meliuk-liuk.
 
Usai menembang sembari bermain wayang gunungan, wayang Srikandi, dan Buto (raksasa), Woro kemudian membawakan Walang Kekek dengan perangai centil. Sangat menghibur. Sesaat kemudian, Woro tiba-tiba berbalik badan, menunduk dan memasang topeng. Woro memakai tiga topeng secara bergantian, tiga topeng itu mewakili tiga karakter berbeda, yaitu topeng Panji yang menunjukkan sifat halus manusia, topeng Samba yang menunjukkan sifat nakal, dan topeng Jingga yang menunjukkan sifat amarah.
 

Cerita Perkawinan Musik Koplo dengan Musik Klasik di Austria
 
Selanjutnya, Erwin memberi kesempatan Johannes Vogel untuk mengambil alih posisi konduktor. Vogel membawakan Die Entführung aus dem Serail karya Mozart. Ini merupakan lagu yang sakral bagi warga Austria. Kaisar mereka, Joseph II, melihat langsung bagaimana Mozart membawakan lagu itu pertama kali di Wina, pada 1782. Kisah yang beredar, usai mendengar komposisi itu Joseph II berkata, "Terlalu banyak not sahabatku, kamu potong not-nya sedikit lagi dan itu akan jadi sempurna."
 
Setelah komposisi Mozart selesai dibawakan, Vogel membawakan Tritsch Tratsch Polka, karya Johan Strauss II. Inilah lagu yang jadi "korban kenakalan" Erwin. Lagu folklore yang punya sejarah panjang dengan warga Austria itu diaransemen dengan nuansa koplo. Sebuah eksperimen yang berani. Nekat.
 
Suara kendang koplo beriringan dengan violin, kontra-bass, trumpet. Terdengar janggal namun memikat. Tak sedikit para penonton yang menggerakan badannya mengikuti irama kendang.
 
Erwin sempat membagikan cerita di balik ide liarnya itu, "Waktu gue lagi nonton YouTube pemain gendang koplo, Rusdy Oyag, gue secara spontan berpikir 'Wah kenapa enggak Tritsch Tratsch Polka dijadiin koplo.'"
 
Membayangkan kembali ke tahun 1858, saya yakin Strauss II tidak pernah sedikit pun terbesit ada yang berani mengubah komposisinya itu. Tapi bisa saja, jika Strauss II mendengar aransemen ulang Polka versi koplo dia akan berpikir, "Sial! Kenapa saya tidak terpikirkan membuat aransemen seperti ini!"
 
Mengaransemen ulang Polka dengan nuansa koplo adalah cara luwes meleburkan dua budaya tanpa harus meninggalkan identitas masing-masing.
 
Musik klasik adalah harga diri warga Austria, dan musik koplo adalah musik rakyat yang mampu mempersatukan beragam golongan di Indonesia. Mempertemukan keduanya adalah peristiwa budaya yang patut dirayakan dan dikenang, bukan untuk membuktikan siapa yang lebih di antara yang lain, tetapi untuk membuktikan bahwa kita bisa bermuara pada seni yang universal tanpa meninggalkan identitas bangsa.
 

 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif