Eros Djarot (Foto: Medcom.id)
Eros Djarot (Foto: Medcom.id)

Kisah Album Indonesia Terbaik "Badai Pasti Berlalu", Awalnya Tidak Laku sampai jadi Perselisihan

Hiburan indonesia musik musik indonesia
Agustinus Shindu Alpito • 26 Januari 2021 13:00
Jakarta: Album "Badai Pasti Berlalu" yang dirilis pada 1977 dianggap banyak kritikus dan media sebagai album Indonesia terbaik sepanjang masa. Seperti karya-karya besar lain, album "Badai Pasti Berlalu" menyimpan sejumlah kisah dramatis. Termasuk perselisihan yang terjadi antara para kreator album ini.
 
Album ini dikerjakan oleh Eros Djarot, Chrisye, dan Yockie Suryo Prayogo. Secara garis besar, pembagian tugasnya adalah Eros sebagai pencipta lagu, Chrisye menyanyikan lagu dan mengisi bass saat rekaman, dan Yockie aransemen musik. Mereka bertiga berusia 20-an tahun saat menggarap album ini.
 
Ketiganya lantas mengajak Fariz Rustam Munaf yang kala itu masih duduk di bangku SMA untuk menjadi drummer album ini. Dan selebihnya adalah sejarah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak ada yang menyangka proyek musik "Badai Pasti Berlalu" akan menjadi sejarah. Awalnya, Eros diminta sutradara Teguh Karya untuk membuat soundtrack film berjudul sama. Teguh Karya sendiri membuat film ini berdasarkan novel karya Marga T dengan judul sama, yang dirilis pada 1974.
 
Gayung bersambut, Eros menyanggupi tawaran Teguh untuk menggarap soundtrack "Badai Pasti Berlalu". Namun, Eros hanya diberi waktu kurang dari satu bulan untuk menyelesaikan album itu. Singkat cerita, Eros berhasil menyelesaikan album ini tepat waktu. Meski terdapat beberapa perbedaan pendapat dengan Teguh Karya. Salah satunya, Teguh tidak menginginkan Chrisye sebagai penyanyi. Akhirnya, dalam film soundtrack diisi oleh Broery Marantika. Sedangkan versi Chrisye sebagai penyanyi beredar dalam versi album.
 
Kompleksitas tidak berhenti sampai di situ. Musikalitas pada album "Badai Pasti Berlalu" dianggap aneh pada zamannya. Sehingga tidak ada bos label yang berani bertaruh untuk menjual album ini.
 
"'Ini lagu apaan? Engga ada yang mau,'" kata Eros meniru bos label pada waktu itu saat mendengar materi album "Badai Pasti Berlalu".
 
"Badai itu sebuah eksperimen, waktu saya mau edarkan tidak ada yang mau. Makanya saya edarkan sendiri. Satu hari sebelum saya ke London, saya dapat beasiswa dari British Council, saya kasih album ini ke Chrisye untuk diurus (diedarkan). Katanya kita mau dikasih Rp100 per kaset (tawaran dari label)," kata Eros dalam wawancara program pengarsipan musik Shindu's Scoop, yang tayang melalui kanal YouTube Medcom.id.
 
Persoalan terus berlanjut justru ketika album tersebut meledak di pasaran. Materi dalam album itu dianggap sebagai lompatan besar dalam estetika dan industri musik Indonesia. Hal itu pula yang membuat para kreator album ini renggang, dengan dalih saling klaim siapa yang dominan dan merasa paling berhak atas kredit album ini.
 
"Yang membuat saya sedih, seluruh rekaman Badai yang membiayai adalah saya. Dulu saya kerja di konsultan, dapat honor lumayan. Sebelum berangkat (ke London) punya sejuta sekian (rupiah), saya bayar (yang terlibat pada album ini) secara profesional."
 
"Kemudian ribut-ribut saya dituntut bawa lari uang. Gila. Mengapa teman-teman tega, jelas-jelas itu uang saya. Ini mengapa kalau soal 'Badai' saya malas ngomong. Banyak hal-hal yang tidak sehat. Kok seniman seperti ini (perilakunya)," sesal Eros.
 
Kini, 44 tahun berlalu sejak album "Badai Pasti Berlalu" dirilis. Namun, materi yang terkandung dalam album itu tak pernah usang. Karya musik "Badai Pasti Berlalu" abadi, dan menjadi saksi sejarah perjalanan panjang musik pop Indonesia yang masih terus kita rayakan sampai hari ini.
 
Simak wawancara lengkap Shindu's Scoop bersama Eros Djarot di bawah ini:
 

 


 
(ASA)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif