(Dari kiri ke kanan) Jason Ranti, Iwan Fals, Danilla, dalam Tiba-Tiba Suddenly Sobat Missqueen and Missking (Foto: Medcom.id/Shindu)
(Dari kiri ke kanan) Jason Ranti, Iwan Fals, Danilla, dalam Tiba-Tiba Suddenly Sobat Missqueen and Missking (Foto: Medcom.id/Shindu)

Antara Iwan Fals, Danilla, dan Jason Ranti

Hiburan indonesia musik Musik Indie
Agustinus Shindu Alpito • 04 Juli 2019 10:48
Dua tahun lalu, saat album debut Jason Ranti, Akibat Pergaulan Blues, dirilis, banyak kalangan mengaitkan sosoknya dengan Iwan Fals muda. Sebuah ungkapan yang sebenarnya memuji, tetapi membuat Jeje risih sebagai seniman yang tentu ingin dikenal sebagai dirinya sendiri.
 
Tak butuh waktu lama bagi Jeje untuk mampu beredar lebih sering dalam putaran sirkuit musik nasional. Lagu-lagu dia kuat, gaya komunikasinya pun memikat. Jeje adalah representasi masyarakat pemegang teguh akal sehat yang belakangan posisinya semakin terpojok.
 
Hal-hal di atas menjadi alasan bagaimana Jeje punya kekuatan di akar rumput. Saat ini, basis penggemar Jeje - yang disebut Gerombolan Woyo - tersebar di 43 kota. Media sosial jadi sarana mereka berjejaring.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak ada yang menyangka, dalam waktu dua tahun nama Jeje melejit hingga akhirnya benar-benar berada di samping nama besar yang kerap disandingkan dengannya, Iwan Fals. Momentum bersejarah itu terjadi dalam sebuah konser bertajuk Tiba Tiba Suddenly Sobat Missqueen and Missking, pada 25 Juli 2019, di Ballroom Kuningan City, Jakarta.
 
Titel "Missqueen" dan "Missking" merujuk pada dua penampil utama, yaitu Jason Ranti, dan Danilla. Sedangkan Iwan Fals, sebagai tamu kejutan.
 
Iwan Fals hanya membawakan tiga lagu dalam konser itu, yaitu Belum Ada Judul, Rindu Tebal, dan Badut. Dia ditemani Jeje dan Danilla, yang secara usia tak jauh beda dari anaknya.
 
Usai konser, ketiganya bergegas ke belakang panggung. Tak butuh waktu lama untuk mereka mampu terlibat dalam obrolan ringan pencair suasana.
 

Antara Iwan Fals, Danilla, dan Jason Ranti
(Danilla, Jason Ranti, dan Iwan Fals, usai konser di belakang panggung. Foto: Shindu)
 
"Saya sempat satu vokal grup sama Om nya dia (Danilla). Jadi ada satu cerita yang sama," kata Iwan Fals merujuk pada sosok almarhum Dian Pramana Poetra, paman Danilla.
 
Terpaut usia yang cukup jauh bukan berarti tak bisa menyatu. Menggali kesamaan-kesamaan antar ketiganya penting, untuk membangun ikatan emosional.
 
"Aku pengin banget punya perkembangan progresi kord seperti Dian PP itu, mau belajar. tapi tidak mudah. Akhirnya (tetap apa adanya) daripada keinginan tak sampai. Cerita-cerita seperti itu memudahkan dalam (membangun) relasi (dengan Danilla)," kata Iwan.
 
Danilla sendiri mengaku terkesan dengan bagaimana seorang Iwan Fals dalam menulis lirik. Hal itu juga yang memotivasi Danilla untuk berani menjadi diri sendiri dalam menulis lirik.
 
"Om saya (Dian PP), pernah bilang, 'Kamu mau bikin lirik apapun, itu semua sah. Mau memasukkan kata apapun, kata sehari-hari juga sah. Karena Om Iwan sudah mengaplikasikan itu,'" kata Danilla.
 

Antara Iwan Fals, Danilla, dan Jason Ranti
(Iwan Fals bersama Danilla, dan Jason Ranti, membawakan Rindu Tebal. Foto: Shindu)
 
Dalam obrolan singkat itu, Oomleo, seniman yang juga salah satu penggagas konser ini sempat mengutarakan langsung kepada Jeje, tentang bagaimana pengalamannya kolaborasi dengan Iwan Fals, sekaligus mengonfirmasi soal anggapan orang yang sering mengaitkan Jeje dengan Iwan Fals.
 
"Ibu saya selalu mengajarkan saya untuk menjadi diri sendiri," kata Jeje setengah bercanda.
 
Satu hal yang menarik dalam kolaborasi ini adalah bagaimana Iwan mampu melebur dengan musisi yang bukan saja jauh di bawahnya secara usia, tetapi juga dari segi industri. Iwan terkesan ingin merangkul para musisi dari ragam latar belakang industri. Bahkan secara terang-terangan Iwan juga mengaku mengikuti perkembangan musik Indonesia hari ini, khususnya dari kolaboratornya malam itu, Jeje.
 
"Dia orang sosial. Kalau dia enggak mendengarkan teman-teman, engak mungkin banyak syair-syair seperti itu. Bukan hanya dia yang hafal, penonton juga hafal liriknya. Saya bingung hafalinnya bagaimana. Harus banyak bersyukur, banyak jogging (untuk kesehatan tubuh)," kata Iwan.
 
Apa yang dimaksud Iwan di atas adalah soal bagaimana Jeje dalam menulis lagu yang minim pengulangan kalimat, bahkan pada bagian reff. Jeje dikenal mampu menulis lagu dengan gaya bercerita yang kuat. Layaknya menyanyikan sebuah cerpen. Dan memang, para Gerombolan Woyo menjadi penggemar baik untuk urusan ini.
 

Antara Iwan Fals, Danilla, dan Jason Ranti
(Jason Ranti yang kerap menampilkan ragam visual dalam aksi panggungnya. Foto: Shindu)
 

"Orang pada kesepian, orang pada pengin diceritain, didongengin, dan Jeje adalah pencerita," kata Iwan soal bagaimana melihat karya Jeje begitu diterima anak-anak muda masa kini.
 
Kesempatan bertemu Iwan Fals, Danilla, dan Jason Ranti saya manfaatkan dengan baik untuk melontarkan sebuah pertanyaan terkait musik sebagai penanda zaman.
 
Iwan kita kenal sebagai musisi yang ulung dalam merekam ragam peristiwa sosial. Mulai dari tenggelamnya kapal Tampomas, hingga kisah potret keras Ibukota dalam lagu Sore Tugu Pancoran.
 
Iwan memaknai persoalan di tiap zaman sebenarnya tak jauh beda. Substansi dari ragam permasalahan hanya berkutat pada hal-hal yang sama.
 
"Setiap zaman itu sama, persoalan itu-itu saja. Senang, sedih, marah, iri, selalu itu. Tetapi di situ ada kebudayaan yang tumbuh bersama. Saya melihatnya seperti itu. Tinggal bagaimana merespons persoalan itu. Di antara belukar itu bagaimana kita menjadi diri sendiri dan itu tidak gampang. Itu tugas setiap kita," ujar Iwan lugas.
 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif