The Adams (Foto: Dok. The Adams)
The Adams (Foto: Dok. The Adams)

The Adams, Kegilaan dalam Penantian 13 Tahun

Hiburan indonesia musik
13 Maret 2019 16:12
The Adams pada malam peluncuran Agterplaas sukses menebus rindu pendengarnya lewat 16 track dari album pertama hingga ketiga (yang terbaru). Panggung yang disuguhkan pun terbilang tidak lumrah. Masing-masing personel berdiri pada "pulau" yang memecah formasi band pada umumnya di satu panggung. Mereka mengekplorasi pertunjukan dengan tantangan tata suara yang tidak terdengar seimbang dari tiap penampilan personel.
 
Searah jarum jam, "pulau-pulau" yang membentuk huruf "U" terbalik itu diisi oleh Gina (keyboardist), Aryo Hendrawani (vokalis, gitaris), Gigih Suryoprayogo (drummer), Pandu Fuzztoni (bassist) dan Saleh Husein (gitaris).
 
Malam itu lewat Agterplaas rasanya mejadi obat yang akan selalu kami minum untuk meredam segala kejenuhan masa-masa penantian dengan dua album berusia lebih dari 10 tahun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


The Adams, Kegilaan dalam Penantian 13 Tahun
Saleh Husein dalam konser peluncuran Agterplaas (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
 
Selepas meluncurkan album pertamanya bertajuk The Adams, empat lelaki bernama Saleh Husein (gitar/vokal), Aryo Hendarwan(gitar/vokal), Beni Adhiantoro (bassist), Bimo Dwipoalam(drummer) berhasil membawa nama band mereka The Adams tampil lebih luas lewat dua singel andalan, Konservatif dan Waiting, yang juga menjadi soundtrack film Janji Joni. Dalam perjalanannya Beni dan Aryo harus pergi meninggalkan Saleh dan Aryo. Beni benar-benar meninggalkan musik dan memperdalam ilmu agama.
 
Saleh dan Aryo sempat bingung atas nasib The Adams yang menggantung karena ditinggal personel dan kesibukan masing-masing. "The Adams, kita bubarin aja atau gimana?" Kata Saleh menceritakan saat band ini hanya menyisakan dia dan Aryo. Akhirnya semua berlalu Sampai pada saat di mana mereka bertemu dengan Gigih Suryoprayogo (drummer), Arfan (bassis) dan Retiara Haswidya Nasution (keyboardist) untuk tampil dalam dalam album ke-2 mereka, v20.5.
 
Semangat yang tertanam oleh dua personel yang ditinggalkan itu memang luar biasa. Proses rekaman dan produksi yang dilakukan dalam album V2.05 hanya dikerjakan dalam waktu tiga bulan, sebelum akhir rilis pada Agustus 2006.
 
Album itu sekaligus masuk dalam daftar Album Terbaik Indonesia Sepanjang Masa urutan 112, versi majalah Rolling Stone Indonesia.
 
Hari itu, 6 Maret 2019, Jakarta sedikit diguyur hujan. The Adams menggelar hajatan konser album Agterplaasdi Studio Palem Record. Sekitar pukul 4 personel The Adams sudah berkeliaran di sekitaran venue. Salah satunya Saleh atau yang akrab disapa Ale. Mengenakan jaket dan sepatu putih, Ale tampak akrab menyapa para tamu yang hadir, sambil sesekali mengisap rokok.
 
Tanpa buang waktu, kami menghampiri Ale untuk sedikit berbincang tentang The Adams dan album terbarunya.
 

Apa yang membuat pengerjaan album begitu lama dan akhirnya baru keluar pada 2019?
 
Materi itu kalo engga salah sudah ada dari 2007, soalnya kita sudah punya satu materi yang sekarang judulnya Lingkar Luar. Terus ada yang bilang kalo kita kurang produktif, akhirnya kepikiran buat mulai bikin (album). Soalnya kalo dibilang jadwal manggung padat juga enggak, bisa dibilang The Adams manggung itu setahun sekali.
 
Kayak misalnya nih Kiting (Gigih/drummer), itukan kerjaanya bikin dokumenter, nah udah susah tuh kalo ada proyekan. Kita chat hari ini, di balesnya 4 hari kedepan. Ngelarinnya pun bisa 3-4 bulan tuh. Jadi susah kaya orang goa.
 
Tapi sebenernya trigger kita sendiri untuk semangat lagi itu ketika Pandu masuk pas 2013. Pas itu Ameng ngundang kita untuk ke acara Superbad. Karena kita udah mulai latihan-latihan lagi, akhirnya gue dan anak-anak juga senang banget dapet tawaran main (manggung) di sana. Dan itu mengejutkan banget, pas kita manggung di sana penonton masih nyanyiin lagu kami sampai sebegitunya, hafal dari awal sampai akhir. Akhirnya di grup WhatsApp mulai aktif lagi. Ada yanc chat “Rekaman kali”.
 
Nah, sejak 2016 itu kami mulai cicil rekaman. Proses mixing dan mastering juga paralel saja sambil kita bikin yang (lagu) lain.
 
Apakah ada kendala dalam penyesuaian dengan formasi baru?
 
Kalo Gigih masuk emang sudah dari album ke-2 (2006), kalo adjustment sendiri enggak ada. Soalnya, Pandu memang sudah sering bantuin juga. Beberapa kali saat gue pameran ke luar, terus kami (The Adams) ada panggilan main gitu, akhirnya telepon Pandu untuk ngisi gitar gue. Karena yang penting selain dia bisa main sama kita, dia tuh anak tongkrongan yang gampang banget buat masuk kalo kita ngobrol.
 
The Adams, Kegilaan dalam Penantian 13 Tahun
Aryo dalam konser peluncuran Agterplaas (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
 

Apakah kalian juga memberi kabar para mantan personel The Adams dalam pengerjaan album baru?
 
Pasti dong, kayak Beni juga dikabarin kemarin. Terutama tujuannya untuk lagu Masa-Masa. Lewat lagu itu kami mengenang, mengumpulkan foto bareng buat mereka yang sudah pernah bantuin The Adams. Nah itu di lagu (videoklip) Masa-Masa sebenarnya foto-foto itu belum lengkap, tapi yasudah deh kami rilis saja enggak apa-apa.
 
Begitu rilis, baru deh keinget banyak banget yang belom masuk. Bahkan kayak Nasta bantuin kami di wardrobe di album ke-dua, terus ada Batman (Henry Foundation) yang bantuin kami di videoklip album ke-dua. Ya kita engga bakal pungkiri kayak Aksara Record yang bantuin kami juga. Kayak crew yang pernah bantuin kita, mereka yang udah meninggalpun tetap kami masukin di videoklip itu.
 
Kalo Beni sendiri gue japri kemarin itu dia bilang, “Wah selamat yah sukses terus, semoga lancar”.
 
13 tahun tanpa album baru, sebenernya apa yang menjadi tujuan The Adams?
 
Kalau gue ngeliat The Adams gini. Kalo lo nongkrong sama The Adams, main (manggung), apalagi kalo sampe ikut rekaman. Itu lo punya kesenangan itu lagi. Ada kesenangan-kesenangan lama, The Adams kayak keluarga, atau saudara lama yang lo kunjungin lagi. Mengingatkan lo di mana tempat main pas kecil. Seperti itu sih rasanya.
 
Karena ini merupakan sebuah band jadi yasudah kami harus tetap produksi dan ngeluarin hal yang baru. Kami sendiri enggak punya ekspektasi apa-apa setelah album ini keluar, kayak misalkan soal pembelian, itu kita udah enggak peduli. Mendingan kami bikin lagu yang semua orang senang dengerinnya. Karena yang terpenting kami dulu yang senang. Kayak misal industri minta The Adams untuk ke arah sana, sedangkan The Adams enggak butuh itu, terus mau ngapain?
 
Nah ending-nya mau gimana, kami enggak tahu. Pas album ini selesai, kami jadi mikir lagi, “Masa 13 tahun cuma ngeluarin 12 lagu sih”, bahkan sampe kepikiran kalo mending kita rekaman terus aja deh dari pada ngeluarin album. Bahkan dulu tuh kami sebenarnya bisa ngerjain dua album dalam satu tahun. Pas album kedua aja, itu kita ngerjain dalam waktu tiga bulan, dan pengerjaannya cuma pas Sabtu-Minggu di studio Pendulum. Sebenarnya kalo kita mau push kayak gitu bisa saja (cepat menyelesaikan album).
 
The Adams, Kegilaan dalam Penantian 13 Tahun
Gigih dalam konser peluncuran Agterplaas (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
 

Konservatif dan Halo Beni merupakan lagu hit yang dibuat dengan berkolaborasi dengan pihak-pihak di luar The Adams (dua hit itu liriknya ditulis Jimi Multhazam). Adakah kolaborasi menarik di balik pembuatan lagu untuk album Agterplaas?
 
Kalau sekarang lirik produksi sendiri. Masing-masing punya materinya gimana terus di lempar dilanjutin ke yang lainnya. Jadi kayak arisan aja gitu. Jadi nanti bisa dilihat di album, di masing-masing lagu tertulis perannya. Terus kamiberempat lebih memikirkan, “Duh, mood lagunya kayak gimana yah”. Seperti itu. Di luar mood juga ada perasaan-perasaan yang lo alami di keseharian itu. Kayak rekaman itu di Joglo rumah Kiting (Gigih/drummer), Aryo di Jatiwarna. Itu kayak ke luar kota gitu, perjalanannya macet. Sampe lo tuh udah jenuh banget sebenernya di perjalanannya itu, pengen balik aja deh rasanya, atau apa segala macem. Makanya lagu Lingkar Luar bicara tentang itu.
 
Di luar The Adams, siapa saja yang berperan dalam Agterplaas?
 
Ada Kemal Reza Gibran yang berperan jadi art director. Di boxset kami pengin ada sentuhan karya seni rupa berbonus albumnya The Adams. Menurut gue itu yang dapat mengaburkan antara seni rupa dan musik, jadi menciptakan sesuatu yang hybrid.
 
Untuk kali ini, mixing dan mastering dikenalin sama Arif temennya Aryo, karena kami pengin ada kuping lain gitu yang dengar. Karena sebelumya kami produksi semua sendiri.
 
Setelah melewati berbagai dinamika selama lebih dari satu dekade, sempat mengalami fase nyaris bubar?
 
Ada kepikiran, apalagi formasi awal sekarang tinggal gue sama Aryo. Beni engga ada, Bimo cabut, terus ngobrol sama bassisnya BeQuiet si Mas Yo juga. “Gimana nih The Adams, kita bubarin saja atau gimana?” Tapi akhirnya album ke-2 keluar juga dengan mencari personel baru lainnya, kibordis (additional) baru juga.
 
The Adams, Kegilaan dalam Penantian 13 Tahun
Pandu dalam konser peluncuran Agterplaas (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
 

Apakah ada alasan tersendiri di balik semua sosok keyboardist The Adams seorang perempuan?
 
Kalau mau nyari keyboardist yang cowok itu engga banyak yang kami tahu. Tapi kalau ada yang bisa main keyboard dari teman-teman seru juga, cewek ya kenapa engga. Toh, The Adams juga cowo semua, jadi biar ada penyeimbang saja gitu. Semoga Gina juga bertahan lama nih, walaupun engga tau Ciwi bakal balik lagi enggak setelah lahiran nanti. Pas nyari penggantinya Ciwi pun yang keluar dari kita itu nama cewek semua engga ada yang cowok. Ha-ha-ha. Natural begitu saja sih memang, enggak pernah kepikiran juga kenapa harus cewek.
 
The Adams, Kegilaan dalam Penantian 13 Tahun
Gina dalam konser peluncuran Agterplaas (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
 

 

(Mardinal Afif)
 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif