Seorang seniman membawa potret dari Wage Rudolf Supratman dalam teatrikal ketika berziarah di Makam WR Soepratman, Surabaya. (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Seorang seniman membawa potret dari Wage Rudolf Supratman dalam teatrikal ketika berziarah di Makam WR Soepratman, Surabaya. (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Landasan Sejarah Hari Musik Nasional yang Simpang Siur

Hiburan indonesia musik Kontroversi Hari Musik Nasional
Purba Wirastama • 09 Maret 2019 07:30
Hari Musik Nasional adalah momentum tahunan yang secara resmi baru berusia enam tahun. Namun 10 tahun sebelum disahkan, momentum ini sudah dicanangkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dan dirayakan dalam lingkup terbatas oleh para penggawa asosiasi musisi kala itu.
 
Peringatan ini disepakati dan ditetapkan secara resmi untuk dirayakan pada 9 Maret setiap tahun. Ini adalah tanggal yang diyakini sebagai tanggal lahirnya Wage Rudolf Supratman, 116 tahun silam. WR Supratman adalah komposer dan pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.
 
Siapa yang sepakat? Salah satunya PAPPRI, asosiasi yang kala itu masih punya kepanjangan Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia. Nama lengkapnya kini adalah Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Landasan Sejarah Hari Musik Nasional yang Simpang Siur
{Presiden Megawati bertemu sejumlah artis dalam rangka penetapan dan pencanangan Hari Musik Indonesia, pada tahun 2003 (Foto: via Public Domain Wikipedia))
 

Menurut catatan Historia, PAPPRI sudah mengusulkan adanya hari musik nasional sejak kongres ketiga mereka pada 1998. Bens Leo, pengamat musik yang kini menjabat Kepala Humas PAPPRI, membenarkan kepada Medcom.id bahwa PAPPRI adalah pengusul hari musik nasional. Asosiasi ini berembuk dan memilih tanggal lahir WR Supratman terkait riwayatnya sebagai pencipta Indonesia Raya, lagu yang paling mewakili bangsa dan rutin dinyanyikan setiap pekan.
 
Siapa yang menetapkan? Adalah pemerintah lewat Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013 yang ditandatangani Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 Maret 2013.
 
Keppres ini juga memuat tujuan begitu ideal. Penetapan hari musik dianggap sebagai bagian dari upaya "meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik Indonesia, meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi para insan musik Indonesia, serta meningkatkan prestasi yang mampu mengangkat derajat musik Indonesia secara nasional, regional, dan internasional".
 
PAPPRI menyambut keputusan itu dengan gembira. Tantowi Yahya, penyanyi country yang waktu itu menjabat Ketua Umum PAPPRI dan anggota DPR, menyebut bahwa perjuangan mereka selama 10 tahun akhirnya membuahkan hasil. Tantowi, seperti dikutip Harian Kompas, menganggap penetapan hari musik nasional sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap kontribusi para praktisi musik Indonesia sejak era pra kemerdekaan.
 
"Kami berterima kasih kepada pemerintah dan berharap, selanjutnya pemerintah dapat bahu-membahu dengan kami dalam menanggulangi pembajakan," kata Tantowi.
 
Isu pembajakan rilisan karya musik sudah disuarakan PAPPRI dan sejumlah pihak terkait setidaknya sejak 1990-an. Bisa dilihat bahwa dengan ketetapan Hari Musik Nasional, para praktisi musik yang diwakili organisasi seperti PAPPRI punya "momentum nasional" untuk menyuarakan masalah dalam industri permusikan atau menggelar kegiatan terkait musik.
 
Sejak 2004, PAPPRI dan sejumlah musisi menggelar perayaan hari musik antara lain dengan ajang penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia (NBMI) dan pertunjukan musik di Istana Negara.
 
Kelak, Konferensi Musik Indonesia perdana di Ambon pada 2018, yang turut didukung PAPPRI serta punya kaitan dengan draf RUU Permusikan yang kontroversial itu, juga digelar dalam momentum ini (Menurut Glenn Fredly, konferensi kedua akan digelar di Jakarta pada November 2019).
 
Namun satu masalah mendasar menyeruak, bahkan sebelum 9 Maret disahkan sebagai hari musik. Cerita sejarah lain menyebutkan bahwa WR Supratman tidak lahir pada 9 Maret 1903, melainkan 19 Maret 1903. Tempat lahirnya pun bukan di Jatinegara, Jakarta, melainkan di Purworejo.
 
Tempat dan tanggal lahir adalah salah satu kontroversi lain mengenai WR Supratman, di samping kontroversi tentang asal usul lagu Indonesia Raya ciptaannya.
 

Tanggal Lahir WR Supratman
 
Kepastian kapan tanggal lahir WR Supratman sudah diperdebatkan sejak satu dekade terakhir. Buku sejarah, nisan makam, dan pihak keluarga menyebut bahwa Wage lahir di Meester Cornelis (kini bernama Jatinegara) pada Senin Wage, 9 Maret 1903.
 
"Perlu kami jelaskan, tanggal kelahiran Wage Rudolf Supratman adalah 9 Maret 1903, bukan tanggal 5 Maret," tulis B Budi Harry, cucu Wage yang tinggal di Jakarta Timur, kepada Harian Kompas lewat surat pembaca.
 
Soerachman, keponakan Wage, memrotes pihak Museum WR Soepratman di Surabaya sebelum museum ini diresmikan pemerintah kota pada 10 November 2018. Soerachman menyebut museum ini telah membelokkan cerita sejarah karena menulis bahwa Wage lahir di Purwerejo pada 19 Maret 1903. Dia merujuk kepada cerita keluarga, buku tulisan ayahnya, nisan di makam Jalan Kenjeran, serta biola warisan Wage.
 
"Tiga rujukan ini menguatkan di mana WR Supratman dilahirkan, yaitu tanggal 9 Maret 1903 dan Jatinegara. Jadi, itu harus dipegang teguh. (Informasi) di Museum yang akan diresmikan Pemkot kok berbeda," kata Soerachman kepada Surya.co.id.
 
Menurut Soeracman, tidak mungkin Wage lahir di Purworejo karena ketika dikejar pemerintah Belanda, Wage lari sampai ke Surabaya dan bukan ke Purworejo.
 
Sementara itu, Tim Pelurusan Sejarah WR Supratman dan Pengadilan Negeri Purworejo menyatakan bahwa Supratman lahir Dusun Trembeleng, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Purworejo pada Kamis Wage, 19 Maret 1903. Keputusan itu diketok pengadilan pada 29 Maret 2007 dengan nomor 04/Pdt.P/2007/PN Pwr.
 

Landasan Sejarah Hari Musik Nasional yang Simpang Siur
(Diorama Museum Sumpah Pemuda, W.R Supratman yang memainkan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya. (Foto: MI/Teresia Aan Meliana))
 

Tim Pelurusan Sejarah WR Supratman telah dibentuk oleh Pemkab Purworejo pada 2008. "Sebagai warga Purworejo," kata Wakil Bupati Mahsun Zain seperti dikutip Antara, "Kami berharap ada pengakuan formal bahwa WR Supratman adalah putra bangsa yang lahir di Purworejo. Kami juga meminta pelurusan sejarah agar anak cucu mendapatkan informasi yang benar."
 
Permohonan pengubahan tersebut, kata Mahsun, sudah masuk ke Sekretariat Negara pada 2008. Perubahan didasarkan pada keputusan hukum pengadilan serta sejumlah informasi yang dihimpun tim pelurusan sejarah. Jika pemerintah pusat menetapkan hal yang sama, Pemkab Purworejo akan menjadikan Somongari sebagai desa wisata.
 
Menurut Soekoso DM, anggota tim pelurusan sejarah, informasi bahwa Jatinegara adalah tempat lahir Wage berangkat dari pengakuan Roekijem Soepratinah van Eldik (kakak Wage), yang dituliskan oleh Oerip Supardjo (adik Wage). Oerip mengirim cerita itu kepada Matu Mona, yang kemudian menulis biografi WR Supratman, Pencipta Lagu Kebangsaan Kita bersama Yusuf A Puar. Buku ini diterbitkan CV Indradjaya pada 1976.
 
Namun, menurut Soekoso, dokumen kelahiran Wage di Jatinegara dan Arsip Nasional Jakarta tidak pernah ditemukan. Dia juga menyebut bahwa Oerip telah meralat informasi yang pernah dia berikan kepada Matu Mona. Katanya, Wage lahir di Desa Somongari.
 
Kenapa Roekijem menyebut Jatinegara? Mereka menduga Roekijem, yang bersuami orang Belanda, malu jika pencipta lagu Indonesia Raya ternyata lahir di desa.
 
Itu soal tempat lahir. Mengenai tanggal lahir, Soekoso dan tim berangkat dari putusan sidang di PN Purworejo pada 1978. Kata Soekoso, sidang tersebut menghadirkan dua warga Somongari sebagai saksi kelahiran Wage, yaitu Amatrejo Kasum dan Martowijoyo Tepok. Menurut mereka, Wage lahir di sana pada hari Kamis Wage pada Maret 1903, tetapi lupa tanggalnya.
 
Kata "Wage" di sini merujuk pada nama hari dalam penanggalan Jawa. Selama bulan Maret 1903, hari Kamis dan Wage jatuh bersamaan pada tanggal 19, sedangkan tanggal 9 adalah Senin Wage.
 
Selain itu, putusan sidang PN Purworejo 29 Maret 2007 mendukung fakta versi Pemkab Purworejo. Sidang memutuskan bahwa Wage lahir di Somongari pada 19 Maret 1903.
 
"Hingga saat ini, referensi tentang asal usul Wage di Purworejo masih lengkap," ungkap Soekoso, seperti dikutip Antara.
 
Pemerintah pusat tampaknya bermain aman. Dalam Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013 yang disahkan Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 Maret, tidak tertulis keterangan apapun tentang WR Supratman sebagai dasar penentuan. Terkait tanggal, Keppres hanya menuliskan bahwa "para insan musik Indonesia bersama masyarakat selama ini memperingati tanggal 9 Maret sebagai hari musik nasional".
 

Perayaan Hari Musik Nasional Kini
 
Saat dicanangkan pada 2003 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, Hari Musik Nasional dirayakan di Istana Negara Jakarta bersama PAPPRI dan sejumlah musisi. Ada Titiek Puspa juga di sana, yang menurut Kompas, menyanyi "berduet" dengan Megawati untuk lagu Di Wajahmu Kulihat Bulan.
 
PAPPRI menggelar perayaan tahunan sejak 2004. Mereka membuat ajang penghargaan tahunan Nugraha Bhakti Musik Indonesia kepada praktisi musik yang dianggap penting dan berpengaruh, termasuk yang sudah meninggal. Mereka juga menggelar pertunjukan musik di Istana Negara dan Ancol. Mereka tidak ingin hari musik nasional tidak hanya pencanangan belaka, tetapi dirayakan pula oleh publik.
 
PAPPRI Jawa Timur membuat perayaan Hari Musik Nasional 2004 dengan pertunjukan musik dan ziarah ke makam WR Supratman. Selain itu, mereka juga membuat kampanye anti pembajakan. Namun menurut laporan Kompas (6 Maret 2004) gaung perayaan ini kurang terdengar.
 
Momentum tahun-tahun berikutnya hampir selalu diisi dengan perayaan, setidaknya oleh PAPPRI. Bahkan pada 2006, musisi seperti Iga Mawarni, Vina Panduwinata, James F Sundah, dan Dina Mariana membagi-bagikan bunga kepada warga di sekitar Bundaran HI.
 
Pada 2018, PAPPRI mendapat kesempatan untuk merayakan Hari Musik Nasional di Istana Negara bersama Presiden Joko Widodo. Banyak musisi hadir, salah satunya Raisa yang mendapat hadiah sepeda dari Jokowi. Dalam momentum itu, PAPPRI juga mengadakan Musyawarah Nasional ke-7.
 

Landasan Sejarah Hari Musik Nasional yang Simpang Siur
(Maestro biola Idris Sardi mencoba biola milik WR Supratman yang dimainkan pada Sumpah Pemuda 1928. (Foto: MI/Safir Makki))
 

Sementara itu di Ambon, Glenn Fredly bersama organisasi Kami Musik Indonesia (KAMI) sedang mengadakan Konferensi Musik Indonesia perdana selama tiga hari. Konferensi ini membahas berbagai masalah dalam industri musik, yang kemudian dirangkum dalam 12 poin deklarasi.
 
Tahun ini, PAPPRI sudah punya agenda untuk kembali merayakan Hari Musik Nasional pada 9 Maret. Menurut Bens Leo, seremoni akan digelar di Perpustakaan Nasional Jakarta. PAPPRI akan menjadi fasilitator Karya Cipta Indonesia (KCI) yang akan memberikan royalti rutin kepada pemusik dan penyanyi terdaftar. Lewat UU Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014, royalti diberikan tidak hanya kepada pencipta lagu, tetapi juga musisi yang membawakan.
 
Selain PAPPRI pusat, PAPPRI daerah juga akan membuat perayaan mereka sendiri. Menurut Bens, biasanya mereka akan menggelar diskusi.
 
Bagaimana sikap PAPPRI terhadap perdebatan tanggal lahir WR Supratman, yang mana menjadi satu-satunya dasar historis penentuan Hari Musik Nasional?
 
Sebagai Humas PAPPRI, Bens menyatakan sebaiknya persoalan tanggal lahir Wage tidak perlu dipersoalkan lagi. Dia menilai persoalan itu sudah selesai lewat Keppres 10/2013 tentang Hari Musik Nasional. PAPPRI tetap yakin dengan tradisi mereka semula, bahwa tanggal 9 Maret adalah hari lahir Wage dan Hari Musik Nasional.
 
"Sudah ditetapkan oleh Keputusan Presiden. Sebenarnya yang jadi perdebatan adalah tempat lahir," ujar Bens.
 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif