Sub master piringan hitam lagu Indonesia Raya di Lokananta, Solo, Jawa Tengah (Foto: ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)
Sub master piringan hitam lagu Indonesia Raya di Lokananta, Solo, Jawa Tengah (Foto: ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

Cerita Lagu Indonesia Raya yang Dianggap Plagiat

Cecylia Rura • 09 Maret 2019 07:00
Autentisitas lagu kebangsaan Indonesia Raya masih menjadi perbincangan beberapa pakar. Sastrawan Remy Sylado dengan tegas mengatakan lagu Indonesia Raya diduga jiplakan lagu Lekka Lekka Pinda Pinda dari Belanda.
 
Dia menulis secara runtut perjalanan WR Supratman ketika merilis Indonees Indonees dalam Harian Kompas edisi Minggu, 5 Januari 1992 halaman 10 dengan judul Supratman "Indonees Indonees", dan Kasus Hak Ciptanya. 
 
Remy Sylado menjabarkan perjalanan WR Supratman dengan latar belakang sekolah berbeda mulai dari sekolah Belanda Europese Lagere School, lalu berpindah ke sekolah Melayu sembari belajar musik dan kursus bahasa Belanda hingga mendapat diploma Klein Ambtenaar Examen. WR Supratman diceritakan menjadi guru di Normaal School.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam tulisan Remy, Indonesia Raya bermula dari tajuk Indonees Indonees. WR Supratman mengirimkan rekaman lagu itu kepada Bung Karno untuk dapat diputar dalam kongres pemuda. Lagu itu mendapat sambutan baik, diikuti saran perbaikan karena nada dan irama yang menyerupai lagu Lekka Lekka Pinda Pinda.
 
Remy menjabarkan, 14 tahun setelah peristiwa itu, Indonees Indonees dilarang oleh Belanda hingga Jepang masuk ke Indonesia. Kata merdeka pada refrain dilarang oleh Belanda karena Indonesia dilarang merdeka. Bung Karno lalu memberikan saran perubahan menjadi "Indonesia Raya, mulia, mulia/Tanahku, negriku, yang kucinta". Pada zaman penjajahan Jepang, lirik ini kembali diubah menjadi "Indonesia Raya, merdeka, merdeka/Tanahku, negriku yang kucinta".
 
Remy menulis setidaknya ada delapan bar pada lagu Lekka Lekka Pinda Pinda yang sama dengan Indonesia Raya. Ketika lagu Indonesia Raya menjadi lagu kebangsaan, banyak kalangan menganggap lagu ini lagu Barat. Pembenahan untuk lagu Indonesia Raya yang menyerupai lagu Lekka Lekka Pinda Pinda secara resmi dibuatkan panitia khusus pertama kali pada 8 September 1944 dengan ketua Bung Karno bersama anggota Ki Hadjar Dewantara, Achiar, Soedibjo, Damawidjaja, Koesbini, KHM Mansjoer, Muhammad Yammin, Sastromoeljono, Sanoesi Pane, Simandjoentak, Achmad Soebardjo, dan Oetojo.
 
Tulisan Remy dalam tajuk Supratman Indonees Indonees, dan Kasus Hak Ciptanya adalah tanggapan terhadap pendapat pengamat musik Kaye A. Solapung yang tidak sepakat Indonesia Raya menjiplak lagu milik Belanda.
 
Remy tidak hanya menyebutkan satu lagu saja yang menjiplak karya Belanda. Karya lain WR Supratman yang dinilai menjiplak lagu lain adalah Ibu Kita Kartini. Hal ini dipaparkan Remy ketika Medcom.id berkunjung ke kediamannya di kawasan Bogor. Lagu Ibu Kita Kartini tidak jauh berbeda dengan lagu O Ina Ni Keke asal Manado.
 
"Jadi ada dua yang terkenal dia punya lagu, yaitu Indonesia Raya dan Ibu Kita Kartini. Lagu Ibu Kita Kartini tidak lebih tidak kurang sama dengan lagu rakyat Manado, Ina Ni Keke," terangnya sambil menyanyikan sedikit lagu O Ina Ni Keke dan Ibu Kita Kartini. 
 
Remy juga memaparkan lewat tulisannya bahwa lagu Ibu Kita Kartini tidak hanya memiliki kemiripan dengan lagu O Ina Ni Keke, tetapi juga Bolelebo dari Timor. Kedua lagu itu disebut bersumber dari lagu Portugis.
 
Sastrawan yang juga menekuni berbagai bidang seni ini memaparkan, cara menghargai komponis besar itu terlalu berlebihan. "Tapi kita juga harus terima bahwa dia komponis besar perlu kejujuran dan pengkajian benar supaya kita enggak salah ngomong," papar Remy.
 
Lagu kebangsaan Indonesia Raya masih disinggung keasliannya ketika Hari Musik Nasional datang. Hari Musik Nasional secara resmi ditetapkan pada 9 Maret melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2013 dalam masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
 
9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional bertepatan dengan hari lahir komponis besar Wage Rudolf Supratman yang menggarap lagu Indonesia Raya. Sayang, hari lahir WR Supratman yang sebenarnya pun juga tak luput dari perdebatan.
 
"(Penetapan Hari Musik Nasional) Itu juga enggak jelas, satu. Apalagi kalau ambil (dari hari lahir) WR Supratman, ini lagu dia Indonesia Raya saja cacat. Saat itu plagiat dari lagu Lekka Lekka Pinda Pinda. Itu kalau kamu baca (artikel yang ditulis) dokter giginya Bung Karno yang diterbitkan oleh Intisari di situ ada lagu teks asli Lekka Lekka Pinda Pinda," kata Remy Sylado kepada Medcom.id.
 
Bolehkah lagu Indonesia Raya dibuatkan aransemen baru?
 
Musisi muda Alffy Rev tahun lalu merilis video musik Indonesia Raya dengan aransemen baru. Video ini menuai protes lantaran gubahan Alffy Rev dianggap kurang pantas karena mengurangi esensi lagu Indonesia Raya yang dianggap sakral. Gubahan lagu Indonesia Raya dari Alffy Rev dianggap tidak sesuai dengan Undang Undang No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.
 
"Kalau ada yang keberatan tentang aransemen baru itu saya kira sah saja. Itu di luar bahwa, di luar dari kita menghormati visi sosok seseorang yang muda untuk menggarap lagu kebangsaannya. Sah saja. Tapi juga harus diingat bahwa ada Undang Undang jadi harus dihormati juga. Kalau tidak boleh sembarangan, jangan sembarangan," terang Remy.
 
Sebenarnya, lagu Indonesia Raya telah mengalami penggubahan sebanyak tiga kali melalui panitia khusus yang diketuai langsung oleh Soekarno. Panitia ini dibentul pertama kali pada 8 September 1944.
 
"Lagu Indonesia Raya sendiri sudah mengalami pengubahan setidaknya tiga kali. Yang sekali itu tahun 1944, setahun sebelum kemerdekaan dan itu atas usul Bung Karno terdiri dari 10 orang ada di situ Cornel Simanjuntak, Koesbini, dan lain-lain saya lupa tapi bisa dibaca di Ensiklopedia Musik, saya tulis di situ," papar Remy.
 
"Tahun 1948 setelah proklamasi terjadi perubahan lagi, jadi sudah ketiga kali perubahan. Terakhir itu ketika sudah merdeka, setelah manifesto politik tahun 1959," kata Remy.
 
Remy Sylado pun mengaku sempat diundang oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama Des Alwi tentang kewajiban menyanyikan lagu Indonesia Raya.
 
"Undang Undang untuk Indonesia Raya itu saya lupa persis itu tapi saya yang diundang DPR untuk membicarakan itu, Undang Undang tentang keharusan menyanyikan Indonesia Raya. Saya lupa persis, tapi yang diundang oleh DPR waktu itu ada tiga orang. Termasuk saya dan orang Banda yang selama pemerintahan sebelum Soeharto jatuh itu dia tinggal di Malaysia, Des Alwi namanya, itu yang diundang di DPR termasuk saya. Saya dianggap sebagai ahli waktu itu untuk membahas tentang itu," jelas Remy.
 

Cerita Lagu Indonesia Raya yang Dianggap Plagiat
(Lagu Indonesia Raya 3 Stanza (Grafis: Media Indonesia))
 
 
(ASA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif