Ivan Penwyn (Foto: Shindu Alpito)
Ivan Penwyn (Foto: Shindu Alpito)

Ivan Penwyn, Menjaga Payung Teduh

Hiburan indonesia musik
Kumara Anggita • 05 Juli 2019 13:10
Jakarta: Ada orang yang merencanakan hidup agar mencapai sosok ideal yang diciptakan sesuai dengan pikirannya. Mungkin ini gagasan umum yang muncul saat kita melihat sosok yang menekuni suatu bidang. Lucunya, ini tidak begitu berlaku pada perjalanan karier Ivan Penwyn, Vokalis Payung Teduh. Ivan menyukai musik namun dia tidak mengejarnya. Musik yang justru menjemputnya.
 
Ivan mulai berkenalan dengan musik sejak dia kelas 5 SD. Perkenalan itu dimuai dari organ lalu gitar dan drum. Saat kelas 6 dia semakin mengeksplorasi kemampuan musiknya dengan bergabung dalam sebuah band. Percobaan ini terus berlanjut hingga dia kelas 2 SMP menjadi seorang gitaris dari sebuah band dengan genre punk. Pada masa ini Ivan sempat manggung kecil-kecilan.
 
Selama dua tahun dia sempat berhenti untuk nge-band tapi setelah itu dia kembali lagi pada pangilannya. Ivan bergabung dengan band bergenre pop.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Alasan Ivan begitu setia pada bidang ini tak lain karena musik selalu menggugah hatinya. Namun sewaktu dia muda ketika dia harus dihadapkan dengan audisi-audisi, dia jadi kurang termotivasi.
 
“Dulu latihan bayar. Kita patungan. Ada juga manggung, tapi malasnya audisi,” kata dia.
 
Sebelum diterima di Universitas Indonesia, Ivan sempat nganggur setahun. Dia manfaatkan waktu ini untuk nge-Band lagi dengan anak-anak komplek tempat dia tinggal. Sayangnya ini tidak berjalan lancar karena manajemen yang kurang baik. Karena tetap setia pada musik. Di masa kuliah dia pun tak jauh-jauh bergabung lagi dalam band-band. Singkat cerita, dia akhirnya menjadi bagian Payung Teduh
 
“Saya kuliah siangnya kalau ada yang bawa gitar di kantin, nyanyi. Sempat dilihat sama teman satu tongkrongan. Diajak gabung dengan Teater Pagupon. Bertemu dengan Is, Comi. Gue bantu di musik. Diajak Is bantuin payung teduh. Akhirnya ikut proses rekaman,” ujarnya.
 
Semua berjalan begitu saja tanpa perencanaan. Dia tidak pernah menargetkan atau memaksakan dirinya untuk berada di suatu situasi. Yang jelas Ivan suka mengekspresikan dirinya melalui musik. Kesederhanaan berpikir itu membuat semuanya menjadi lebih mudah bahkan apa yang dicintainya menjemputnya sendiri.
 
Bersama Payung Teduh, Ivan mendapatkan pengalaman-pengalaman menarik yang menumbuhkannya. Dia memahami bahwa dirinya merasa bahagia ketika memberikan sesuatu pada orang lain. Di sini maksudnya adalah para penikmat musiknya.
 
“Kebahagiannya seorang bisa menikmati apa yang kita sajikan. Ada emosi tersendiri melihat ekspresi mereka. Seru,” ujarnya.
 
Tidak hanya senang-senang saja. Rasa tidak nyaman juga dihadapinya. Ini kaitannya dengan berhubungan dengan orang lain. Ivan harus banyak berbenturan dengan ego dari dirinya sendiri dan orang lain. Kembali pada prinsipnya, Ivan membiarkan semua berjalan begitu saja.
 
“Prosesnya saja lucu. Ribet pasti. Hadapi ego masing-masing. Benturan kepentingan tiba-tiba. Sudah banyak. Dengerin saja. Biarkan mengalir,” katanya.
 

Menjadi Vokalis Payung Teduh
 
Ivan adalah salah satu orang yang beruntung karena bisa menguasai beberapa kemampuan dalam bidang musik. Ketika mantan vokalis payung teduh, Is keluar dari band, Ivan kemudian mengambil alih peran tersebut.
 
Menjadi vokalis bukanlah hal yang mudah, Ivan butuh adaptasi dan membawa para penikmat lagu Payung Tuduh agar bisa terbiasa dengan perubahan ini. Dia bahkan mengatakn bahwa dia juga lebih suka bermain trompet.
 
“Sulitnya ketika orang nonton sudah terbiasa sama yang lama. Warna vokalnya. Jadi gimana caranya membiasakan mereka,” katanya.
 
“Sebenarnya lebih senang main trumpet. Vokal sesekali tidak apa. Nyanyi lebih senang nongkrong nyanyi-nyanyi. Karena ketika nongkrong nyanyi-nyannyi itu buat diri sendiri, Kalau sekarang ya nyanyi buat orang Itu jadi berat.”
 
Tak hanya itu. Dia pun juga harus mengubah pikirannya saat manggung karena caara perform seorang vokalis, pemain trumpet, dan guitalele begitu berbeda. Namun di balik itu, Ivan mengakui bahwa dia tetap menikmati tanggungjawab ini.
 
“Ini transformasi lumayan berat. Dulu di samping sekarang di tengah. Nervous lebih dulu. Karena di samping mungkin. Ketika sudah di tengah seperti fokusnya beda. Fokusnya lebih untuk menghibur. Kalau di samping lebih mainnya harus benar nih."
 
“Dulu main trumpet dan guitalele dan sedikit backing vocal. Kalau sekarang main gitar dan nyanyi. Bedanya sekarang jadi harus afalkan lirik. Kalau dulu tidak afal tidak masalah. dan bisa letakan contekan di bawah,” lanjutnya.
 
Di saat yang bersamaan dia juga mengakui bahwa kecintaannya terhadap trompet juga tidak bisa dipungkiri.
 
Dia pun berpikir kalau ada yang tidak merasa sesuai dengan warna vokalnya. Namun prioritas Ivan tetap lah sama yaitu pada para pendengar. Dia terus mencoba untuk memberikan yang terbaik.
 
“Takut mereka tidak menikmati. Dulu tidak seperti ini warna vokalnya,” katanya.
 
“Jadi belajar lagi. Ini sebagai sesuatu yang menantang. Namun jadi tidak main terompet saja hahaha. Nyanyi sambil main terompet susah. Agak bermasalah di napasnya. Engap,” candanya.
 
Walaupun perlu adaptasi pada perubahan ini. Ivan bisa menjalankannya dengan smooth. Ini karena tidak ada perubahan yang signifikan pada musik Payung Teduh sendiri.
 
“Tidak ada perubahan. Sebenarnya payung teduh ini dan musiknya masih seperti itu. Hanya gayanya sedikit berbeda karena beda orang dan warna suara.”
 
Kuncinya kembali lagi pada prinsip Ivan yang selalu ingin melihat semua berjalan dengan sendirinya. Dengan seperti itu, dia bisa menghadapi berbagai macam tekanan dan menjalankan transformasi ini dengan lebih mudah.
 
“Saya dalam menghadapinya tidak mau seperti “Inginnya ini, itu” itu susah. Kalau tidak kesampaian stres sendiri. Yang dijaga itu. Yang penting seimbang,” katanya.
 
Secara garis besar Ivan menikmati segala perannya di Payung Teduh. Dia tidak mau banyak berpikir dan menjalankannya dengan santai saja.
 
“Tidak tau orang lain seperti apa. tapi dari dulu hingga sekarang tetap menikmati,” ujar Ivan.
 

Mempertahankan Payung Teduh
 
Perubahan yang dialami Payung Teduh merupakan salah satu bentuk ujian. Untungnya mereka bisa melewati masa-masa itu. Bentuk pertahanan yang mereka punya adalah dengan terus berkarya.
 
“Menjalankan band, jalani saja. Bikin karya. Kita berjalan itu karena ada karya agar berkelanjutan.”
 
“Masih ada pendengar payung teduh juga kan. Kita coba menghargai mereka saja. Intinya kita tetap lanjut karena ada dukungan,” katanya
 
Karya yang mereka hadirkan di sini tidak akan mengubah nuansa musik Payung Teduh yang khas. Ivan menyebutkan bahwa lagunya tidak jauh-jauh dari akustik.
 
“Lagu ya mungkin bisa berubah tapi kalau aransemen masih seperti itu saja sih. Mungkin dengan gaya yang berbeda. Vokalnya juga berbeda. Di kuping pendengar kok beda ya,” ujarnya.
 
Sementara untuk lirik sendiri mungkin akan ada perubahan. Saat ini Comi dan Cito dalam proses pembuatan lagu.
 
“Penulisan lirik pasti berubah. Bahasanya pasti sedikit banyak berubah. Beda gaya aja. Beda orang beda gaya. Lagu payung teduh kan ada Is yang buat ada Mas Catur Ari Wibowo yang buat jadi di antara dua itu saja punya gaya masing-masing. Kalau yang sekarang Cito punya lirik dengan gaya sendiri. Comi juga. Gue tidak ikutan karena tidak bisa. Paling misalnya ada lagu direkam dalam bentuk draft. Ya coba dimasak, diaransemen seperti apa.”
 
Lagu-lagu ini belum bisa dipastikan kapan akan dirilis. “Belum tahu kapan mau dirilis. Biasanya kalau direncanain ngaret. Mending ya sudah saja. Ikutin saja,” katanya.
 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif