Rinto Harahap (Foto: MI)
Rinto Harahap (Foto: MI)

Andre Taulany Nyanyikan Ulang Salah Satu Lagu Paling Getir

Hiburan indonesia musik trivia musik Andre Taulany
Agustinus Shindu Alpito • 14 September 2020 10:52
Andre Taulany, mantan vokalis Stinky yang kini lebih dikenal sebagai pelawak, baru saja membawakan ulang lagu Ayah. Sebuah lagu klasik yang ditulis dan kita kenal dipopulerkan oleh Rinto Harahap.
 
Andre bukan tanpa alasan membawakan kembali lagu ini. Dia mengaku, keputusan memilih Ayah sebagai bentuk kerinduan atas mendiang ayahnya.
 
"Lagu Ayah ini saya persembahkan untuk Almarhum Ayah saya tercinta Robby Haumahu.. Begitu banyak kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan bersama dengan Ayah yang akhirnya membawa saya bisa menjadi pribadi yang seperti sekarang dan Ayah adalah sosok yang menjadikan rangkaian peristiwa yang saya lalu menjadi sempurna.. Ayah, engkau akan selalu ada di hatiku.. Sampai kita bertemu lagi Ayah.. Al-Fatihah," bunyi keterangan di TAULANY TV.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski lagu ini tidak masuk dalam kanonisasi 150 Lagu Indonesia Terbaik yang pernah dirilis media Rolling Stone, tetap saja Ayah punya tempat tersendiri bagi mereka yang mendengarnya. Dan rasanya pantas, lagu ini disebut lagu bertema ayah paling ikonik yang pernah ditulis musisi Indonesia.
 


 

Rasanya, lagu Ayah karya Rinto sangat cocok disandingkan dengan lagu Bunda dari Potret. Keduanya sangat ikonik dan punya kekuatan magis yang jika dinyanyikan atau didengar pada momen-momen tertentu, seperti otomatis merangsang keluarnya air mata.
 
Rinto menjadikan lagu ini sebagai litani bagi mereka yang ingin mengenang sosok ayah, dengan nada dan air mata. Rasanya, siapapun yang punya hubungan sentimental dengan ayah, akan bergetar mendengar lagu ini. Rinto menulis dengan lugas, jujur, dan tanpa tedeng aling-aling.
 
Gaya penulisan lirik Rinto pada lagu ini menarik. Alih-alih menulis lagu pedih dengan kalimat-kalimat putis semiotik, dia justru gamblang bicara apa adanya sebagai seorang anak yang terdengar kebingungan menghadapi kegamangan hidup dan dihujani sepi. Namun apa daya, sang ayah telah tiada.
 
Titik klimaks lagu ini adalah pada penggalan lirik. "Untuk ayah tercinta/Aku ingin bernyanyi/Walau air mata di pipiku."
 
Pada lirik itu menggambarkan puncak kepasrahan sang anak, atas kondisi ayah yang sudah meninggal, namun memiliki kerinduan yang meledak-ledak. Lewat lagu sang anak ingin berteriak pada dunia, bagaimana dirinya sungguh rindu kehadiran sang ayah.
 
Getir. Ini adalah kata yang tepat menggambarkan bagaimana lagu ini.
 
Balada patah hati, meratapi kepahitan hidup, dan mecampurnya dengan nada minor, adalah anugerah tersendiri yang dimiliki Rinto. Sampai pada suatu saat di era 1980-an, Rinto kena "tegur" rezim. Menteri Penerangan pada saat itu yang dijabat Harmoko menuding lagu-lagunya yang cengeng dianggap tidak selaras dengan semagat negara yang pada masanya sedang santer-santernya menggaungkan pembangunan nasional. Era ini sekaligus memperkenalkan kita istilah "Muka Rambo Hati Rinto" yang merujuk pada sosok-sosok sangar namun berhati melankolis.
 
Rinto meninggal dunia pada 9 Februari 2015 di Singapura. Lagu Ayah jadi salah satu warisan Rinto yang sangat berharaga bagi khazanah musik Indonesia.
 

Lagu-lagu Bertema Ayah
 
Sebenarnya, Rinto bukan satu-satunya yang merilis lagu tentang Ayah. Panbers sempat merilis lagu dengan judul Ayah, begitu juga dengan Koes Plus. Namun, lagu-lagu itu tidak sepopuler Ayah milik Rinto.
 
Salah satu balada tentang ayah lain yang tak kalah getir ditulis dari Ebiet G. Ade. Lagu berjudul Titip Rindu Buat Ayah ini masuk dalam album Camelia 4 yang dirilis pada 1980. Ebiet tak kalah getir dalam memotret sosok ayah, salah satu penggalan lirik paling kuat dari lagu ini adalah "Keriput tulang pipimu gambaran perjuanga/Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari/Kini kurus dan terbungkuk."
 
Banyak juga penulis lagu yang menjadikan ayah sebagai inspirasi utama, tetapi memilih menggunakan kata-kata yang tersirat. Salah satunya Eross Candra, gitaris dan penulis lagu-lagu Sheila On 7.
 
Eross menulis lagu Lapang Dada, terinspirasi dari hubungannya dengan sang ayah yang diceritakannya cukup dingin.
 
"Terinspirasi dari ayah saya yang meninggal tahun 2000. Saya semakin merasa kehilangan ayah saya setelah punya anak. Semakin saya dekat dengan anak, semakin saya terpikirkan ayah saya. Masih banyak yang belum tersampaikan antara saya dan ayah saya. Mungkin dia kurang bisa berkomunikasi dengan anaknya. Jadi, inti lagu itu yang sudah, sudah (biarkan berlalu)," kata Eross menjelaskan lagu ini.
 

 

Band masa kini yang juga mengabadikan sosok ayah dalam karya adalah Maliq & D'Essentials. Maliq bahkan memiliki dua lagu tentang ayah, pertama berjudul Idola, kedua berjudul Momen Bersama Ayah.
 


 

Dari Rinto, Koes Plus, Ebiet, sampai Eross Candra, tema tentang ayah selalu menarik untuk dituang ke dalam karya. Masing-masing punya cara tersendiri dalam memotret sosok ayah. Menarik bagi kita, karya-karya itu ikut menemani kita bertumbuh dengan perasaan kita pada ayah kita masing-masing.
 

 

 

 

 

 
(ASA)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif