Ras Muhamad.(foto:Agustinus Shindu Alpito)
Ras Muhamad.(foto:Agustinus Shindu Alpito)

Ras Muhamad, Sang Pencerah Reggae Indonesia

Agustinus Shindu Alpito • 14 Agustus 2014 18:19
medcom.id, Jakarta: Muhamad Egar atau dikenal dengan nama Ras Muhamad memang bukan musisi yang kerap mewarnai televisi. Tetapi karya-karyanya mengalir deras, walau tidak terlalu nampak di permukaan.
 
Tidak berlebihan rasanya menobatkan Ras Muhamad sebagai salah satu musisi reggae terbaik di Indonesia. Semakin lengkap anggapan itu disematkan pada  Ras Muhamad jika melihat karya-karya dan sumbangsih yang telah diberikannya terhadap dunia reggae di Indonesia.
 
Mengenyam pendidikan di New York selama 12 tahun, Ras Muhamad yang berdarah Jawa-Sunda itu kemudian tumbuh di lingkungan hip-hop New York sejak usianya baru menginjak 13 tahun. Di kota itu, Ras Muhamad banyak bersinggungan dengan musik dan pergaulan dengan para imigran dari Amerika Selatan dan Afrika. Hal itu lantas turut menempa identitas Ras Muhamad sebagai pribadi yang terbuka dan membentuk karakternya dalam bermusik.  

“Kehidupan saya waktu di New York sangat berpengaruh. Karena awalnya saat ke New York  tahun 1993, sayamengenal musik hip-hop. Pertama kali mendengarkan Wu-Tang, di mana memadukan kultur, bahkan ada nuansa kung-fu, suara pedang. Secara lirik enggak begitu ngerti, tetapi memang (terkena terpaan) dari situ,” aku Ras Muhamad saat berbincang dengan Metrotvnews.com di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pekan lalu.
 
Rasa ingin tahu akan musik semakin bergejolak pada Ras Muhamad muda, hingga akhirnya rasa itu mempertemukannya dengan reggae. “Kalau dari reggae ada satu saudara yang dengerin musik reggae, tapi yang dancehall. Mendengar pertama kali merasa kayak musik rap, itu sekitar tahun 1993 atau 1994 waktu usia saya 10 tahun.”
 
Selain hip-hop dan reggae, salah satu jenis musik yang cukup membentuk karakter Ras Muhamad adalah metal. Ras Muhamad mengaku bahwa dirinya hingga kini adalah seorang penggemar Slayer, Megadeth dan Metallica. Ia tidak menampik bahwa musik metal turut memengaruhi dirinya dalam menulis lirik.
 
“Kalau secara lirik beberapa tema lirik gue gelap. Seperti metal. Tapi biar gelap tetap positif karena di reggae itu sendiri semua tentang positif,” ujar Ras Muhamad.
 
Ras  bisa dibilang terbiasa dengan kontroversi sejak kecil. Hobi mendengar musik reggae dipadu dengan gayanya yang nyentrik membuat teman-teman sekolah Ras Muhamad menganggapnya aneh. Salah satu bukti nyata gaya nyentrik Ras Muhamad kini adalah rambut gimbalnya yang terurai hingga hampir menyentuh tanah. Untuk memiliki rambut itu, Ras Muhamad mengaku rela ‘puasa’ potong rambut selama 14 tahun.
 
Lepas dari New York dan kemudian menetap di Jakarta tidak praktis menghilangkan citra “aneh” dalam diri Ras Muhamad. Musik dancehall yang diusung Ras Muhamad di awal kariernya di Indonesia membuat para penikmat reggae tanah air merasa janggal. Maklum, di Indonesia musik reggae secara umum dipandang sangat dekat dengan “pantai” dan musik yang  mudah dinikmati.
 
Adalah “Reggae Ambassador”, debut album Ras Muhamad di Indonesia di tahun 2007 yang kemudian menghentak para penikmat musik. Nuansa dancehall yang kental di album itu lantas membuka wawasan bahwa sebenarnya musik reggae itu sangat luas dan beragam.
 
“Tahun 2005 (pemahaman masyarakat Indonesia akan musik reggae) lebih parah (dibanding saat ini), tetapi informasi teknologi semakin meningkat, kini pemahaman lebih meningkat. Walaupun masih banyak yang terpatok reggae itu suara gitar yang, 'ncet-ncet'. Saat ini yang gue lihat banyak musisi reggae di Indonesia yang  mengikuti irama gitar, padahal sebenarnya patokannya bass sama drum,” ujar Ras Muhamad.
 
Pertama merintis karier bermusik di Indonesia, Ras Muhamad mengaku banyak dibantu komunitas hip-hop yang mengerti perkembangan musik dancehall. “Awalnya ke Indonesia gue banyak dibantu sama komunitas hip-hop  karena banyak komunitas reggae yang kontra sama gue,” kata Ras Muhamad.
 
Meski kaya pengalaman dan memiliki musikalitas yang baik, bukan berarti perjalanan karier Ras Muhamad semudah membalikan telapak tangan. Setapak demi setapak Ras Muhamad merintis karier hingga kesempatan demi kesempatan diraih.
 
Proses Berkarya, Ganja dan Identitas Reggae
 
Dalam membidani karyanya, Ras Muhamad mengaku menyerap berbagai hal tanpa pandang bulu. Mulai dari perbincangan ringan dengan siapapun hingga realita keadaan sosial yang kerap mewarnai berita televisi.
 
“Inspirasi dari banyak hal, dari ngobrol, dari berita, dari pengalaman seseorang, atau dari bacaan sejarah. Kalau jadwal padat, ujung-ujungnya menyempatkan waktu khusus untuk menulis lirik, setidaknya delapan kalimat dengan satu reffrain. Gue ungkap (perasaan) semua di situ,” ungkap Ras.
 
Ganja tak mendikte proses kreatif Ras Muhammad. Bagi dia, keduanya adalah hal yang berbeda dan tidak berkaitan. Reggae, menurut Ras Muhamad adalah suatu bentuk gaya bermusik yang utuh dan murni sedangkan gaya hidup menggunakan ganja dilakukan oleh para rastafari.
 
Reggae memang terlanjur identik dengan ganja sehingga pemusik yang terjun di aliran ini akan dengan mudah dicap sebagai seorang ‘rastafari’ ( gerakan gaya hidup  di Jamaika yang menganggap menghisap ganja merupakan  tindakan spiritual). Ganja menjadi sesuatu yang dituding berada di balik proses kreatif pemusik reggae.   
 
VIDEO WAWANCARA RAS MUHAMAD KLIK DI SINI
 
Kendati demikian, Ras Muhamad juga tidak menampik bahwa ganja sempat mewarnai masa remajanya ketika di New York. “Waktu SMA di New York pernah (menggunakan ganja), tapi saya sudah melewati masa-masa itu. Saya tidak bergantung dengan itu (ganja) dalam berkarya atau saat tampil.  Jadi saya enggak, ‘Gue butuh ganja nih supaya lebih enak’. Karena saya mengerti musiknya. Itu waktu SMA, seperti proses. Sekarang menjadi lebih dewasa,” kata Ras Muhamad.
 
“Secara identitas reggae itu manusia yang menghargai orang lain, makhluk hidup yang lain. Bukan hanya gimbal, tapi secara perilaku,” tegasnya.
 
Musik Turunan Reggae
 
Banyak yang menganggap apa yang dibawakan Ras Muhamad di album ‘Reggae Ambassador’ adalah bagian dari hip-hop. Kepada Metrotvnews.com lantas Ras Muhamad berbagi kisah seputar perkembangan singkat musik reggae yang memang tidak lepas dari unsur-unsur musik lain, termasuk rap.
 
“(musik-musik turunan reggae) Itu karena ada perkembangan budaya, mulai dari jazz terus ke SKA. Makanya SKA sangat kental dengan musik jazz, tapi dengan irama afro-caribbean, habis itu ke rocksteady. Kalau rocksteady itu agak pelan dan vokalnya lebih banyak. Akhirnya lagu mereka banyak bertemakan cinta,” papar Ras Muhamad.
 
“Tapi waktu terjadi gejolak sosial-politik di Jamaika, muculah lagu-lagu yang lebih revolusioner dan masuknya rastafarian. Itu sebelum Bob Marley terkenal. Kemudian tahun 70-an roots reggae mulai dikenal. Bisa dibilang era 70-an adalah golden era dari reggae. Tahun 60-an masih di Jamaika saja, kemudian tahun 70-an mulai menyebar, yang pertama kena itu Inggris.  Kalau kayak Prancis, Jerman itu awal 80-an,” sambung penggemar Tony Q Rastafara itu.
 
Secara lebih rinci lagi Ras Muhamad menjelaskan bahwa musik reggae terbagi dalam empat aliran utama yang diklasifikasi berdasar gaya musiknya. Empat aliran itu adalah dub reggae, lovers rock, roots reggae, dan dancehall.
 
“Pada tahun 70-an, karena reggae terlalu dominan dengan tema revolusi, anti penindasan dan anti kolonialisme, makanya muncul keinginan mengubah menu musik dengan tema asmara, cinta.  Kalau dub reggae itu vokal dihilangkan, lebih banyak instrumen seperti SKA dan secara teknis memainkan reverb, echo, delay, dan lainnya. Sedangkan dancehall itu sebenarnya sudah ada tahun 60-an, mereka nge-rap dengan iringan irama,” ucap Ras Muhamad.
 
“Tahun 80-an itu dancehall seperti kristalisasi reggae,  orang banyak mengenal raggamuffin, sebenarnya raggamuffin itu dari gettho atau gangster, hidupnya keras. Makanya lirik yang mereka bawakan keras, kata-katanya lebih padat dan agresif karena mencerminkan gaya hidupnya. Dia bukan seorang rasta-man. Liriknya frontal, ngomongin pistol. Itu arus baru dancehall music. Lantas pada awal 90-an, dancehall musik mulai berubah, liriknya lebih ke roots reggae tapi dengan musik yang sama,” imbuhnya.
 
Ras Muhamad dan Album Baru
 
Tahun 2014, tepatnya pada 25 Juli, menjadi babak baru bagi Ras Muhamad, album solo keempatnya, “Salam”, berhasil dirilis secara internasional melalui label asal Jerman, Oneness Records. Dalam waktu kurang dari satu bulan album itu mendapat respons luar biasa dari berbagai komunitas reggae dunia.
 
Pujian juga datang tanpa henti, mulai dari pengguna media sosial, hingga ulasan dari media komunitas reggae dunia, salah satunya portal musik reggae terbesar,  Reggaeville.
 
Kepada Metrotvnews.com, Ras Muhamad mengatakan bahwa album “Salam” adalah bentuk kejujurannya dan cermin dari identitasnya sebagai seorang reggae-man. Dengan memakan waktu pengerjaan album selama dua tahun, Ras Muhamad membuktikan bukan hanya pada publik Indonesia, tetapi pada dunia, bahwa Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menafsirkan musik-musik dunia dengan cita rasa yang menjanjikan.
 
“Salam” juga menyajikan kolaborasi lintas benua dengan melibatkan musisi-musisi reggae kenamaan seperti Kabaka Pyramid dan Naptali dari Jamaika, juga Sara Ugo dan Uwe Kaa dari Jerman. Satu bintang tamu spesial yang membuat album “Salam” sebagai karya agung Ras Muhamad adalah hadirnya saksofonis Bob Marley, Dean Fraser, yang mengisi dua lagu, “Re-Education” plus “Good Over Evil”.
 
Album “Salam” seolah menjadi bukti kematangan Ras Muhamad dalam berkarya. Setiap lagu dalam album ini merupakan hasil racikan yang komposisinya diperhitungkan benar. Lagu “Leluhur” misalnya, meski berusaha menarik berbagai instrumen lokal dan mencampurkan tembang Jawa, Ras Muhamad tetap mampu mengawinkan dengan padu dan menghasilkan lagu reggae dengan nuansa baru yang segar.
 
Terlibatnya Ras Muhamad dengan Oneness Records seolah sudah digariskan. Kedatangan pentolan reggae Jerman, Uwe Kaa ke Indonesia untuk tur empat kota (Jakarta, Jogja, Surabaya, Manado) ternyata menjadi berkah tersendiri bagi Ras Muhamad. Band pengiring Uwe Kaa, One Drop band, sering terlibat dengan proyek-proyek dari Oneness Records, hingga suatu saat One Drop band menawarkan proyek album kompilasi kepada Ras Muhamad.
 
Gayung bersambut, Ras Muhamad lantas mengajak Naptali, penyanyi reggae Jamaika, untuk turut serta dalam proyek itu. Hasilnya, sebuah lagu berjudul “Farmerman” lahir. Ras Muhamad dan Naptali berusaha menggali sinonim antara Indonesia dan Jamaika, hingga mereka menyadari bahwa dua negara beda benua ini memiliki akar kehidupan sosial-ekonomi yang sama, yakni negeri agrikultur.
 
Musik yang Mengedukasi
 
Ras Muhamad terbilang cukup cerdas dalam menyampaikan misi “pencerahan” dengan karya-karyanya. Secara perlahan, Ras Muhamad memberi pemahaman reggae yang sesungguhnya dengan cara yang tepat tanpa terkesan menggurui.
 
‘Negeri Pelangi’ adalah salah satu buktinya. Buku yang berisi catatan perjalanan Ras Muhamad  ke Ethiopia berhasil mengedukasi masyarakat Indonesia khususnya pecinta reggae tentang sejarah musik reggae dan semangat yang ada di dalamnya. Kisah perjalanan di Ethiopia seolah menjadi jembatan antara gagasan dan wawasan yang ada di kepala Ras Muhamad kepada publik di Indonesia. Hasilya? Sempurna. Gagasan dan wawasan tersampaikan dengan baik.
 
“Saya terinspirasi konsep KRS One tentang edutainment, yaitu pendidikan melalui hiburan. Karena musik bisa membawa pesan. Sama dengan spirit musik reggae, musik yang manis dengan lirik yang berat. Lupakan masalah, dan mari berdansa,” kata Ras Muhamad.
 
Apa yang dilakukan Ras Muhamad dalam hal mengedukasi kini mulai tampak hasilnya. Masyarakat pecinta reggae mulai terbuka wawasannya tentang apa itu reggae dari segi musikalitas maupun gaya hidup. Lebih dalam tentang semangat yang ada di balik nafas lirik dan embusan musiknya.
 
“Rencananya saat ini mencerahkan melalui karya, setidaknya mencerahkan anggapan dunia tentang Indonesia. Sebagai pembuktian sisi positif tentang indonesia. Mudah-mudahan bisa menginspirasi,” tutup Ras Muhamad.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIT)




TERKAIT

BERITA LAINNYA