Bemby Noor.(foto:Shindu A)
Bemby Noor.(foto:Shindu A)

Bemby Noor, Pria di Belakang Lagu Laris

Agustinus Shindu Alpito • 28 Juli 2014 12:17
medcom.id, Jakarta: Pada 22 Maret 2014, grup musik Gigi genap berusia 20 tahun. Band yang digawangi Armand Maulana, Dewa Budjana, Gusti Hendy, dan Thomas Ramadhan itu secara khusus merilis sebuah album penanda kematangan usia mereka.
 
Album bertajuk "Gigi Live at Abbey" itu dengan gagah direkam di studio legendaris – yang pernah merekam lagu-lagu The Beatles – Abbey Road. Single pertama "Gigi Live at Abbey" adalah lagu "Tak Lagi Percaya" yang ditulis komposer muda, Bemby Noor. Perlu ditegaskan bahwa ini adalah kali pertama Gigi membawakan lagu ciptaan orang lain (di luar Gigi) dalam albumnya.
 
Adalah sosok Bemby Noor, pria berusia 31 tahun yang mendapat kesempatan luar biasa karya ciptaannya dibawakan oleh salah satu band besar Indonesia. Kiprah Bemby belakangan cukup mendapat sorotan, terlebih karena lagu-lagu ciptaannya secara beruntun menjadi hits. Mulai dari "Buktikan" Dewi Sandra, "Wajahmu Mengalihkan Duniaku" dan "Dia Dia Dia" Afgan, hingga "Love is You" Cherrybelle, adalah bukti tangan dingin seorang Bemby dalam mengulik nada dan lirik menjadi padu dan matang untuk didengarkan telinga.
 
Terlahir dengan nama Bambang Permadi, Bemby tumbuh di lingkungan yang dekat dengan dunia musik. Bemby merupakan keponakan dari Almarhum Chrisye. Ia memiliki orangtua yang cukup modern untuk mendukung aktivitas Bemby di dunia musik yang sudah ditekuninya sejak SMP.

“Waktu saya kelas 2 SMP, teman saya memaksa saya main musik karena dia bilang gaya saya seperti musisi, padahal saya enggak bisa main musik sama sekali. Sampai akhirnya dia bawa saya ke studio dan baru percaya kalau saya enggak bisa main alat musik,” kenang Bemby.
 
“Setahun kemudian, waktu saya ulang tahun saya diberi gitar sama ibu saya, padahal saya enggak minta. Karena saya enggak minta, saya anggurin tuh gitar cukup lama. Waktu itu saya punya tetangga namanya Oge Nagoro. Dia teman band saya pertama kali, saya lihat dia bisa mengarang lagu sendiri. Saya kagum, akhirnya saya tertantang. Saya terinspirasi dari dia. Lagu pertama saya judulnya "Di Kamar Ini". Saya mencoba mendeskripsikan suasana saya di dalam kamar. Gara-gara saya bisa mengarang lagu itu, saya merasa bahagia. Karena euforia itu, saya mengarang lagi. Satu hari bisa mengarang tiga sampai empat lagu,” lanjut Bemby menceritakan awal mula bisa menciptakan lagu.
 
Hobi baru Bemby ini terus berlanjut hingga dirinya menjadi pelanggan tetap kaset pita kosong. Hampir setiap hari Bemby membuat lagu dan merekamnya dengan medium kaset pita. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga lulus SMA.
 
“Saya waktu itu belum tahu kalau lagu bisa dijual. Saya pertama tahu lagu bisa dijual itu dari almarhum Chrisye. Awalnya Chrisye berencana buat album, dan karena keluarga besar saya tahu saya suka bikin lagu, almarhum Chrisye tanya ke saya,‘ada lagu enggak?’. Saya kasih tahu lagu saya dan beliau suka. Itu pertama kalinya lagu saya dibeli, waktu itu sama Musica Studio. Chrisye juga ajari saya tentang industri. Tapi lagu itu enggak jadi keluar karena akhirnya konsep album Chrisye duet (Album "Senyawa", Chrisye, rilis pada 2004 dengan menggandeng sejumlah musisi)”, tandas Bemby.
 
Seolah memang sudah digariskan hidup di dunia musik, Bemby secara alami dipertemukan dengan orang-orang yang kemudian membuka jalannya di industri musik. Awal dekade 2000, Bemby membentuk band dengan nama Bintang di mana band itu berhasil bergabung dengan label Sony Music Entertainment. Sebuah label bergengsi yang menaungi beberapa band “sejuta copy” seperti Padi dan Sheila On 7.
 
Lahirnya band Bintang dan bergabungnya dengan Sony Music Entertainment diakui Bemby tidak lepas dari peran Dimas Wahab, Ketua Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) yang putranya menjadi drummer Bintang.
 
Tidak bertahan lama, Bintang bubar. Persaingan ketat di industri musik membuat Bintang tidak bersinar seperti namanya. Bemby kemudian melanjutkan petualangannya di dunia musik seorang diri.
 
“Enggak beberapa lama setelah Bintang bubar, saya diajak Gilang Ramadhan untuk bikin band. Entah kenapa waktu ketemu Gilang, dia tertarik dengan lagu-lagu saya. Dia ingin kolaborasi dengan anak muda. Akhirnya kami rekaman dan masuk Musica, nama bandnya Kode. Lucunya, Gilang diganti Managing Director Musica yang juga kakaknya Gilang, Gumilan Ramadhan. Gilang kemudian diganti Demas Narawangsa. Tapi band kita pending karena masih ada beberapa band yang mau dirilis pada waktu itu, karena pending dan semakin nggak jelas, akhirnya akhirnya dibubarkan,” kata Bemby.
 
Sepak terjang Bemby tidak berhenti setelah gagal membangun band komersial. Justru setelah lepas dari status personel band, jalan Bemby sebagai penulis lagu semakin terbuka. Diawali dengan menciptakan lagu "Buktikan" untuk Dewi Sandra yang kemudian menjadi hits, perlahan karya-karya lagu Bemby mulai dilirik.
 
Penyanyi solo ternama asal Malaysia, Sheila Majid, Hedi Yunus, hingga Memes, adalah mereka yang kemudian datang pada Bemby untuk meminang lagu. Di luar dugaan, salah satu penyanyi solo terbaik Indonesia, Afgan, datang kepada Bemby untuk meminta lagu yang akan dijadikan promo produk kecantikan.
 
“Gue dikenalkan dengan Afgan lewat teman. Terus tiba-tiba dia mengontak untuk minta lagu buat produk kecantikan. Gong pertama itu lagu "Wajahmu Mengalihkan Duniaku", terus gong kedua lagu "Dia Dia Dia".Bersamaan dengan itu, saya buat lagu untuk Vidi Aldiano,"Datang dan Kembali" dan lagu untuk Calvin Jeremy,"Dua Cinta, Satu Hati",” ujar Bemby.
 
“Kalau lihat TV saya suka tergugah, misal di acara Inbox Afgan bawa lagu saya terus setelah itu Vidi juga bawa lagu saya. Kalau dengar di radio juga bisa berurutan diputar lagu Vidi, Afgan dan Calvin yang ciptaan saya semua. Di situ saya sangat bersyukur, saya sangat beruntung. Tapi bukan berarti orang lain tidak bisa seperti saya,” sambung Bemby.
 
Setelah mengecap kesuksesan lagu yang dibawakan Afgan, Bemby mendapat tantangan baru. Tim manajemen girlband bernama Cherrybelle menghubungi Bemby untuk memesan sebuah lagu yang bagian reffrain-nya menggunakan Bahasa Inggris yang sederhana dan mudah ditirukan.
 
Awalnya Bemby sempat pesimistis ketika mendapat proyek ini, mengingat tren girlband terbilang baru di Indonesia. Akibatnya, lagu yang dipesan pun tak kunjung jadi.
 
“Saya enggak pernah mengira bakal ada momen boyband dan girlband, lagu saya yang untuk Cherrybelle itu lagu yang terakhir masuk di album mereka. Saya dulu sempat bingung ini grup tapi banyak banget anggotanya, apa ini paduan suara. Ternyata saya amati memang seperti ini trennya.  Mereka minta lagu yang liriknya Bahasa Inggris yang simpel. Tapi lagu itu nggak jadi-jadi. Akhirnya saya minta waktu tiga hari untuk garap lagu itu. Saya buatnya mendadak, selama satu jam. Saya bikin mulai dari bagian reff-nya. Saya lagi merenung, yang terlintas kata-kata "Love is You", terus saya kembangin. Di luar dugaan, lagu itu terpilih jadi single dan judul album Cherrybelle,” kisah Bemby.
 
Bemby bahkan tidak menyangka bahwa "Love is You" dan Cherrybelle membawanya semakin populer. Ia tidak menampik bahwa pundi-pundinya banyak dipenuhi dari lagu "Love is You".
 
“Dari kejadian Cherrybelle saya belajar untuk tidak memandang sebelah mata siapapun klien saya. Sekarang kalau Cherrybelle minta lagu saya selalu stand-by. Lagu "Love is You" sampai sekarang masih mendatangkan keuntungan (royalti), lagu itu pernah dipakai dua iklan sekaligus dan film. Bahkan lagu "Diam-diam Suka" dipakai untuk sinetron dan sudah 200-an episode,” tutur Bemby.
 
Proses Kreatif
 
Bagi seorang Bemby menciptakan lagu bukan perkara sulit. Inspirasi datang di mana saja dan kapan saja. Kepada Metrotvnews.com, Bemby mengakui bahwa dirinya pernah menciptakan lagu saat berada di mal, di dalam bus kota, bahkan saat naik ojek.
 
“Kalau di tempat umum biasanya dapat nada langsung gue rekam pakai handphone. Pura-puranya telefon, yang penting nadanya ke rekam,” ujar Bemby.
 
Bemby tergolong sederhana dalam melakoni proses kreatifnya. Pria lulusan sekolah bisnis ini tidak menguasai partitur dan alat musik selain gitar, “Gue mengerti nada yang gue mau, biasanya gue arahkan yang main keyboard. Gue pakai suara nada yang gue mau, nanti mereka mengikuti,” tandasnya.
 
Mengenai teknis pembuatan, Bemby secara gamblang menjelaskan proses kreatifnya dalam menciptakan lagu.
 
“Teknis menciptakan lagu, pertama harus menentukan tema. Karena dari tema menentukan nuansanya. Apakah mau cerah ceria, mau pilu mau sedih atau mau balada? Lalu kita mau bikin temponya beat-up atau yang lain. Yang penting temanya dulu. Setelah dari tema, kemudian saya mencoba mencari nada,” papar Bemby saat berada di Backbeat Studio, Cipete, Jakarta Selatan.
 
“Ada tiga pilihan setelah menentukan tema, mau cari nada dulu baru lirik, lirik dulu baru nada atau sekaligus dua-duanya. Prinsipnya adalah kita harus mengutamakan nada dulu dari lirik. Lirik itu harus mengalah, yang kita majukan harus nada,” sambung Bemby antusias.
 
Menurut Bemby, proses penciptaan lagu akan lebih efektif tanpa alat musik. Hal ini dikarenakan pilihan nada yang jamak dari alat musik justru akan mengganggu konsentrasi lantaran banyaknya opsi nada yang ada.
 
“Instrumen itu menjadikan kita memiliki banyak option untuk menembak nada. Jadi bisa luas. Misalnya, kita main di kunci C, bisa saja dari C ke G atau ke A-minor. Kan jadi luas, jadi bingung. Kalau kita karang nada nggak pakai instrumen lebih sederhana jadinya. Saya punya prinsip lagi begini, kenapa nada dan lirik harus sederhana? karena lagu yang menurut saya mudah dicerna orang dan adalah lagu yang nadanya “ngambang di udara”. Dalam arti kata begini, orang nunggu bus bisa nyanyiin, bersenandung. Mereka nyanyinya juga enggak pakai musik,” tukas Bemby.
 
Meski telah memiliki talenta dan karier yang menjanjikan, apa yang dilakukan Bemby Noor tidak lepas dari proses belajar. Secara rinci Bemby mempelajari lagu-lagu hits dan para pencipta lagu terbaik dan membongkar konstruksi lagunya, hingga Bemby memahami betul karya-karya itu.
 
”Saya membangun karakter,  saya sering mendengar lagu-lagu hits di Indonesia seperti apa. Ternyata, penciptanya Bebi Romeo, nah saya cari karya-karya dia. Terus saya dengar lagi lagu hits, ternyata penciptanya Ryan‘D’Massiv’, saya cari karya-karyanya Ryan, begitu juga dengan Yovie Widianto. Dari situ saya menemukan kalau nada lagu hits itu harus gampang. Nah, kita belajar dari situ. Kita melihat mereka ternyata lagu-lagu mereka yang nge-top adalah lagu-lagu yang bisa dinyanyikan tanpa alat musik,” aku Bemby.
 
Komposer saat ini bisa disebut sebagai jenis pekerjaan yang terkait dalam industri kreatif. Di Indonesia sendiri, pekerjaan ini mungkin belum begitu familiar. Salah satu cara menjajaki karier dalam bidang ini menurut Bemby adalah motivasi dan keinginan yang besar, serta selalu pro-aktif mempromosikan karya ke label rekaman. Meski cara ini kerap dianggap sia-sia, Bemby mengatakan bahwa kesempatan akan terbuka ketika kita menjalani usaha-usaha itu.
 
“Kalo komposer itu seperti pedagang, harus mencari klien. Harus menjual “diri” ke klien. Pertama, ketika sudah punya karya harus direkam. Terus hasil rekamannya bawa ke Warnet (Warung Internet) atau kalau di rumah ada komputer, lagu itu simpan di CD atau masukin ke email. Lalu bikin profil masukin ke amplop sama CD-nya. Cari di Google nama-nama label rekaman, cari kontak personal label,” papar Bemby.
 
“Kalau ke label, percaya diri saja datang bawa amplop isi profil sama CD. Lalu  ke resepsionis dan serahkan CD itu dengan tujuan untuk pimpinan label, cari tahu nama petinggi label itu lewat internet. Atau kalau petingginya ada, bilang ingin ketemu dan serahkan langsung. Zaman sekarang manusia bisa semakin produktif, karena banyak cara yang memudahkan. Selain percaya diri,kita juga harus menunjukkan tingkah laku yang bagus,” tutup Bemby.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIT)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan