Iga Massardi (Foto: Shindu Alpito)
Iga Massardi (Foto: Shindu Alpito)

Bersama Iga Massardi, Membahas Album Terbaru Barasuara

Hiburan indonesia musik
Agustinus Shindu Alpito • 16 Maret 2019 08:27
Setelah empat tahun menyemai badai Taifun, Barasuara akhirnya merilis album kedua berjudul Pikiran dan Perjalanan.
 
Beberapa hari sebelum album itu benar-benar dirilis, saya mendapat kesempatan untuk mendengarkan sembilan lagu dalam album itu bersama Barasuara.
 
Pikiran dan Perjalanan bisa dibilang jadi album yang "benar-benar" Barasuara. Jika pada album Taifun seluruh materi datang dari Iga Massardi, kini para personel lain juga memberikan kontribusi pada proses pembuatan lagu. Eksplorasi musik yang dilakukan juga lebih luas. Seperti memasukkan bebunyian rebana, sampai melibatkan Adra Karim untuk urusan suara-suara virtual.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Melihat apa yang terjadi pada Barasuara empat tahun ke belakang, tentu ada ekspektasi besar dari para penggemar mereka atas album ini. Beruntung, mereka tidak terbebani hal itu. Iga mengaku dirinya cukup luwes dalam meramu musik di album kedua.
 
"Buat gue, karya gue sifatnya absolut. Gue enggak mau membuat karya dari opini orang lain. Kalau kata almarhum Om Yockie Suryoprayogo, 'Musik Saya Adalah Saya (merujuk pada titel album Yockie)," kata Iga.
 
Sore itu, 25 menit sebelum acara sesi dengar album Pikiran dan Perjalanan dimulai, saya mewawancarai Iga.
 
Lewat perbincangan singkat itu, Iga menjelaskan apa saja yang terjadi pada dia dan Barasuara. Termasuk keputusannya vakum dari aktivitas di media sosial demi merampungkan album ini.
 
Ada pemandangan yang tak biasa sore itu, Iga yang sebelumnya tidak pernah terlihat memegang sigaret, kini menyulut rokok sebelum memulai sesi wawancara.
 
"Gue dicengin teman-teman 30 tahun enggak merokok, baru sekarang merokok," kata Iga.
 
Iga juga bercerita bagaimana aktivitas seni sang ayah, Yudhistira Massardi, memengaruhi gaya penulisan liriknya. Banyak spekulasi tentang bagaimana Iga meramu lirik untuk Barasuara.
 
"Gue terbiasa melihat tulisan-tulisan bokap. Puisi-puisi bokap, bahkan di kamar mandi rumah pun ada puisi bokap dipajang."
 
Apa yang dikatakan Iga menyiratkan bagaimana dia dekat dengan beragam diksi, yang mungkin bagi beberapa orang dicap pretensius.
 

Apa alasan lo vakum dari media sosial selama 3 bulan?
 
Simply karena itu distracting. Gue cek aplikasi yang paling banyak gue buka, pertama WhatsApp, terus YouTube, Instagram. Kalau diakumulasikan dalam sehari bisa menghabiskan lima jam untuk media sosial. Gue berpikir kalau waktu lima jam gue habiskan di studio, tentu bisa jadi lagu.
 
Apa dampak yang lo rasakan dari "puasa" media sosial itu?
 
Menyenangkan. Dengan adanya media sosial, seakan kita punya urgensi membagikan hal-hal yang impulsif. Itu enggak ada dasar berpikir yang panjang. Kalau misal gue bikin konten YouTube, gue punya perjalanan berpikir yang terstruktur. Gue bikin videonya, editing, akhirnya yang gue taruh di sana bentuk pemikiran yang matang. Setelah albumnya selesai, gue main Instagram lagi.
 
Beberapa musisi menghindari merilis album di tahun Pemilu. Apa momen Pemilu juga menjadi pertimbangan Barasuara dalam merilis album?
 
Musik bakal cari jalannya sendiri. Buat gue, ada orang yang berpikir sistematis untuk merespons momen. Gue rencana rilis tahun lalu, cuma molor terus. Kalau gue, keluarin mah keluarin saja lah. Itu bakal ada pengaruh, tapi tidak jadi pertimbangan gue.
 
Album pertama seolah-olah menunjukkan seorang Iga Massardi yang dominan dalam materi Barasuara. Lantas, bagaimana keterlibatan personel lain dalam album Pikiran dan Perjalanan?
 
Sekarang gue bisa bikin lagu berdua sama Gerald, Tirai Cahaya sama Guna Manusia, itu lagu Gerald sebenarnya. Lebih kolaboratif, kalau Taifun mostly lagu-lagunya dari gue, tetapi sekarang lebih kolaboratif.
 
Masing-masing personel Barasuara punya karier musik sendiri atau proyek solo. Bagaimana cara kalian menjaga kerekatan di tengah kemampuan individu yang menonjol?
 
Kalau di Barasuara, sifatnya kolaborasi. Gue memastikan semua ide dicoba dulu. Apa yang lo anggap aneh, bisa jadi bagus buat gue. Kalau enggak dicoba, enggak ada yang tahu. Tapi kalau dicoba bisa jadi sesuatu yang menarik
 
Beberapa lagu kalian sebelumnya terdengar sekular, apakah hal serupa masih punya porsi besar di album Pikiran dan Perjalanan?
 
Kalau dulu gue melihat perbedaan, kalau Hagia itu sebuah harapan gue untuk orang bisa menyikapi perbedaan. Menghargai dan merayakan perbedaan.
 
Kalau Masa Mesias Mesias, gue merasa harapan gue di lagu Hagia belum maju. bahkan lebih parah. Masa Mesias Mesias satire, semua orang berlomba-lomba menjadi juru selamat, setiap golongan merasa benar. Seharusnya kita jadi juru selamat untuk diri sendiri. Mesias sebenarnya adalah kita sendiri.
 
Bersama Iga Massardi, Membahas Album Terbaru Barasuara
 
Apakah sikap-sikap itu dilatari juga dengan perbedaan keyakinan dan latar belakang di antara para personel Barasuara?
 
Karena barasuara sebuah kumpulan yang sangat eklektik, tetapi kita semua punya pemahaman sama. Kami jengah dengan semua ini, setiap hari disuguhkan berita A lawan B. Semua orang dipaksa mengikuti paham yang ada kepentingannya masing-masing. Lirik sangat personal, ketika gue kasih ke anak-anak somehow menerima juga. Anak-anak tetapi lebih (fokus) ke musik.
 
Berarti untuk urusan lirik, semua masih dipegang oleh Iga?
 
Gue semua, di Guna Manusia ada sumbangan lirik dari Gerald.
 
Keadaan politik dan sosial-budaya yang belakangan makin dinamis, juga memprihatinkan, apakah turut memengaruhi proses penulisan lagu-lagu Barasuara?
 
Gue enggak membuat itu untuk tujuan momen politik. Tetapi terinspirasi dari situasi sosial ada banyak; Pikiran dan Perjalanan, Masa Mesias Mesias, Tentukan Arah, terus ada satu lagu judulnya Haluan.
 
Haluan itu bukan lagu tentang politik, tetapi lagu itu lahir karena itu. Nothing particular, sebenarnya tentang banyak berita bohong.
 
Liriknya "Deras berita beda cerita membakar kita," jadi bagaimana sebuah berita bisa di-twist dan memprovokasi kita semua. Dengan segala macam distorsi informasi yang ditaruh di internet, itu tinggal klikshare dan semua orang terpancing dan itu menjadi kultur yang berbahaya. Seperti peredaran berita hoax di WhatsApp grup.
 
Barasuara saat ini bernaung di bawah label baru Darlin' Records. Mengapa memutuskan pindah label?
 
Prinsip bekerjanya. Juni Records sangat membantu barasuara di album Taifun. Di album Pikiran dan Perjalanan akhirnya punya partner baru untuk mengakomodasi kebutuhan untuk album kedua.
 
Bagaimana Barasuara melihat regenerasi band alternatif rock lokal?
 
Gue lihat .Feast, banyak band lain juga, seru banget. Banyak yang menarik. Band-band baru bergulir terus itu menyenangkan.
 
Belakangan banyak komentar di internet yang mengaitkan grup Tashoora dengan Barasuara. Kalian mengetahui hal itu?
 
Ketika gue dengar gue enggak merasa mereka mirip. Mereka bukan bikin musik karena gue, gue yakin mereka enggak memikirkan Barasuara ketika bikin lagu. Ketika mereka punya output kreatif seperti itu gue enggak berhak nge-judge. Si Danang (vokalis, gitaris Tashoora) berteman sama anak-anak, si Gusti (bassist Tashoora) baik banget orangnya.
 
Bersama Iga Massardi, Membahas Album Terbaru Barasuara
Barasuara saat tampil dalam seri konser Liztomania di Gedung Kesenian Jakarta, 2018 (Foto: Shindu Alpito)
 

 

(ASA)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi