Ambisi BEKraf Ekspansi Pasar Musik Indonesia ke Eropa
(Dari kiri ke kanan) Yonathan - Trinity Optima, Gumilang Ramadhan - ASIRI, Joshua Puji Mulia Simanjuntak - Deputi Bidang Pemasaran Bekraf, Dino Hamid Berlian Entertainment, Irfan Aulia Irsal - Apmindo, Bramantyo Ibrahim Kuassa Technica (Foto: Medcom.id/Pu

Jakarta: Indonesia untuk pertama kalinya akan bergabung ke pameran bisnis musik tahunan skala internasional di Prancis, yaitu MIDEM pada 5-8 Juni 2018 mendatang. Bagi sejumlah delegasi peserta pameran, keterlibatan ini menjadi wujud konkret dukungan dari pemerintah terhadap pemajuan industri kreatif dalam negeri, terutama musik. 

Keikutsertaan Indonesia merupakan buah kerja sama antara Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI). Awalnya mereka bertemu direktur MIDEM dalam forum Music Matters di Singapura 2017. Pertemuan ini berlanjut ke obrolan tentang potensi Indonesia dalam sektor musik, yang berlanjut lagi ke agenda pameran bisnis pekan mendatang. 

MIDEM, singkatan dari Marche International du Disque et de l'Edition Musicale, adalah forum internasional dengan format bisnis antar bisnis (B2B). Dari seluruh dunia, berbagai pelaku industri musik mulai dari label, distributor, hingga perusahaan teknologi akan bertemu untuk berjejaring dan saling mengenalkan peluang serta proyek masing-masing. 



Karena baru pertama kali, Gumilang Ramadhan dari ASIRI mengaku mereka tidak memasang target muluk. Tujuan utama kehadiran tersebut adalah mengenalkan peta industri musik di Indonesia saat ini. 

"Kami ke sana mengenalkan musik di Indonesia sekarang seperti apa, petanya seperti apa, pemainnya seperti apa, ada apa saja, itu adalah misi tahun ini supaya orang tahu. Habis kami menjadi pembicara, langsung ada acara namanya speed meeting. Speed meeting ini akan B2B, langsung berbisnis di situ," kata Gumilang dalam jumpa pers di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis, 31 Mei 2018.

Untuk gelaran tahun ini, ada sembilan pelaku indstri musik dari delapan institusi yang akan bergabung ke MIDEM. Salah satunya Dino Hamid, bos eksekutif perusahaan pertunjukan musik Berlian Entertainment.

"Sepanjang saya hidup dan berkarya secara profesional, kesempatan dari sisi dukungan pemerintah secara langsung, baru kali ini kayaknya," kata Dino dalam kesempatan sama. 

"Saya mewakili industri promotor (musik) – populasi penduduk Indonesia itu jauh lebih besar ketimbang Singapura, tetapi citra merek kita selalu kalah dari Singapura (...). Saat ini, banyak festival (musik) yang dikembangkan promotor lokal yang punya hype lebih besar ketimbang Singapura. Jadi itu yang ingin kami bagikan, bahwa Indonesia itu potensial," lanjutnya. 

Yonathan Nugroho dari perusahaan label dan manajemen artis Trinity Optima juga berujar hal sama. Yonathan menyebut bahwa selama mengikuti konferensi musik internasional, pihaknya selalu memakai uang sendiri dan pemerintah belum pernah ikut mendukung. 

Dalam forum MIDEM nanti, Yonathan hendak mengenalkan portfolio manajemen artis dengan harapan bisa menjalin kerja sama bisnis tingkat internasional. Tujuan utamanya, terbuka jalan lebih lebar bagi musisi dalam negeri untuk mendapat sorotan dunia. 

"Selama ini kita kebanyakan impor. Sekarang kami juga mau ekspor talenta artis di Indonesia supaya bisa tersorot di luar negeri. MIDEM adalah salah satu tempat kita punya kesempatan itu (...). Kita mencari kontak bisnis, mega deal, suruh mereka datang, dan kita akan fasilitasi para insan musik di sana untuk bisa berkolaborasi dengan musisi di sini," ungkap Yonathan. 

Dari bisnis manajemen artis, Yonathan tidak sendiri. Musica Studio juga akan bergabung ke forum ini untuk mengenalkan portfolio bisnis musik mereka ke dunia, terutama Eropa. 

Gumilang dari ASIRI, asosiasi yang menaungi 69 perusahaan rekaman, menaruh perhatian khusus terhadap persepsi dunia atas budaya kontemporer Indonesia. Menurut Gilang, karya musik domestik memang sudah dikenal di tingkat regional, tetapi itu belum cukup. 

"Musik kita ini jangan jago di Indonesia saja (...). Kami akan ambil kesempatan ini sebaik-baiknya untuk menyorot bahwa Indonesia tidak hanya sawah, pemandangan yang baik, tetapi juga musik yang bagus – ada musik tradisional yang tidak kalah bagusnya dari musik pop," ujar Gumilang.


Teknologi Peralatan dan Lisensi Karya

Industri musik tidak hanya mencakup artis serta karya rekaman dan pertunjukan. Ada pula pos lain yang punya peran besar dalam lingkaran ini, seperti dukungan teknologi peralatan dan manajemen hak cipta.

Dalam urusan dukungan peralatan, setidaknya ada dua bisnis rintisan domestik yang ikut datang ke MIDEM untuk mengenalkan diri, yaitu Seruni Audio dan Kuassa. Seruni, yang berbasis di Yogyakarta, mengembangkan piranti rekam suara ukuran clip-on yang dirancang khusus untuk alat musik perkusi, petik, gesek, hingga tiup. 

Kuassa adalah perusahaan pengembang piranti lunak yang berbasis di Bandung. Fokusnya membuat piranti digital guitar amplification dan audio processing untuk kebutuhan rekaman. 

"Kebanyakan pembeli kami dari luar negeri, terutama Amerika dan Eropa. Kebetulan di Eropa, paling banyak dari Jerman dan Prancis. Sebelumnya kami sudah pameran di SXSW (AS) dan Jepang. Terakhir di AS, kami mendapat reseller, membuka jalur bisnis baru ke Amerika," tutur Bramantyo Ibrahim, Head of DSP Engineering di Kuassa.

"Kami sering disangka sebagai software house dari pecahan negara Uni Soviet. (MIDEM) ini kesempatan baik, bahwa sebenarnya Indonesia punya rumah piranti lunak bidang musik. Bagi kami pribadi, ini membuka jalan bagi investor asing untuk mengembangkan piranti lunak lebih lanjut," imbuhnya.

Terkait lisensi karya, ada dua delegasi yang punya perhatian khusus, yaitu Asosiasi Penerbit Musik Indonesia (Apmindo) dan Sentra Lisensi Musik (Selmi). Sebagai salah satu lembaga manajemen kolektif (LMK) sejak 2013, Selmi mewakili musisi dan produser rekaman untuk menerima pembayaran setiap kali karyanya dipasang di depan publik. 

Lalu Apmindo, yang dibentuk pada 1997, menaungi sedikitnya 29 label penerbit musik. Fokus mereka saat ini adalah mengembangkan pengelolaan data hak cipta Indonesia dan menjadi percontohan untuk kawasan Asia Tenggara. Salah satu proyek yang mereka inisiasi bersama Bekraf adalah Portamento, platform dalam jaringan untuk mendata karya cipta dan besaran royalti yang diterima pelaku musik. 

Irfan Aulia Irsal dari Apmindo mengklaim bahwa Indonesia adalah salah satu negara Asia-Pasifik yang paling berkembang dalam kesadaran tentang hak cipta. Namun manajemen hak ciptanya, termasuk juga negara lain di Asia Tenggara, masih bertumpu ke Hong Kong. 

"Kami berhasil mendapat semacam dukungan dari organisasi besar hak cipta untuk bisa memimpin di Asia Tenggara. Jadi, Indonesia bisa memimpin dari sisi pengelolaan. Ini yang akan kami bawa ke pasar musik dunia, yaitu di MIDEM, supaya Indonesia bisa muncul dan punya tempat lagi di internasional," ujar Irfan. 


Kontribusi Ekonomi

Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia menyebut musik adalah salah satu subsektor kreatif yang menjadi prioritas Bekraf untuk dikembangkan. Menurut Puji, kontribusi sektor musik bagi Produk Domestik Bruto (PDB) sektor ekonomi kreatif masih sangat rendah. Pada 2016, persentase musik hanya sebesar 0,48% dari total PDB Rp922 triliun. 

"Kita berharap, nanti kalau pertengahan 2018 kita lakukan survei, kompilasi hasil dengan BPS (Badan Pusat Statistik) lagi, mudah-mudahan (naik). Bahkan pada 2017, PDB kita sudah lewat Rp1.000 triliun untuk ekonomi kreatif keseluruhan," tutur Puji. 

"Kita perlu angkat kontribusi ini. Caranya, kita harus aktif menggerakkan industri musik kita, baik di dalam (negeri) maupun keluar. Keluar ini penting karena menghasilkan devisa. Karena itu, kami berkolaborasi agar kontribusi dari subsektor musik meningkat," imbuhnya. 

Dalam MIDEM 2018 nanti, Bekraf membangun paviliun kecil seluas 27 meter persegi sebagai etalase untuk mengenalkan berbagai produk subsektor musik ke berbagai calon rekan bisnis yang datang. Apa yang ditampilkan dan menjadi sorotan?

"Tentu portofolio yang dibawa para pelaku kreatif kita, baik dari ASIRI, promotor, manajemen artis. Itu akan kami tunjukkan ke paviliun Indonesia," ujar Puji.

Menurut Gumilang, mereka tidak memilih secara spesifik artis tertentu sebagai representasi musik Indonesia. Mereka hendak mengenalkan ke para pelaku bisnis musik internasional, seperti apa perkembangan dan potensi musik Indonesia terkini. 

Kendati begitu, tetap ada karya musik yang akan dikenalkan lewat paviliun Bekraf. Gumilang menyebut bahwa mereka membawa misi dari INASGOC untuk mempromosikan ulang ASIAN Games 2018 lewat album musik kompilasi berisi 13 lagu dari belasan musisi. Tiga lagu sudah dirilis dan bisa kita simak, yaitu Bright As The Sun, Janger Persahabatan, dan Unbeatable. 

"Lagu-lagu itu akan kami putar terus di situ," ujar Gumilang. 

MIDEM digelar sejak 1967. Dalam perjalanan 51 tahun pameran bisnis ini, Indonesia adalah pemain yang masih sangat baru. Namun Puji tetap optimis. 

"Ini adalah kali pertama sehingga booth kami tidak besar. Mudah-mudahan ini bisa memberi dampak kepada industri musik kita.”


 





(ASA)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id