Dalam pernyataan sikap yang dirilis melalui akun Instagram resmi pihak festival pada Senin (12/10/2026), penyelenggara menegaskan bahwa kondisi sosial, ekonomi, politik, dan keamanan tanah air saat ini membutuhkan empati yang lebih besar daripada sekadar sebuah perhelatan panggung musik. Pihak panitia menyoroti serangkaian musibah nasional, mulai dari bencana gempa bumi di Flores, erupsi Gunung Anak Krakatau, hingga kebakaran hutan meluas yang melanda kawasan Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Papua. Penanganannya yang dinilai belum maksimal di berbagai daerah menjadi alasan utama tim penyelenggara merasa tidak tepat untuk memaksakan gelaran pertunjukan berskala besar di atas duka publik.
"Semua itu menjadi perhatian dan pertimbangan kami dalam melangkah dan mengambil sebuah keputusan berat. Kami merasa tidak mampu untuk tetap menyelenggarakan perhelatan besar di tengah keadaan seperti ini, maka kami memutuskan untuk menunda penyelenggaraan Rock In Solo 2026 sampai tahun depan," tulis pihak Rock In Solo dalam keterangannya.
Pernyataan resmi Rock In Solo (Sumber: Instagram @rockinsolofestival)
Kendati acara puncak edisi 2026 ini batal bergulir sesuai jadwal, tim Rock In Solo memastikan bahwa nafas pergerakan festival tidak sepenuhnya terhenti. Sebagai bentuk komitmen dan pertanggungjawaban moral kepada para penggemarnya, mereka tengah menyiapkan rangkaian acara pendamping bertajuk A Journey of Rock in Solo dalam skala yang lebih kecil dan proporsional, yang informasinya bakal diumumkan dalam waktu dekat.
Langkah penundaan ini menjadi bagian dari catatan perjalanan panjang Rock In Solo sejak pertama kali dihelat pada tahun 2004. Bermula dari panggung kecil wadah apresiasi musisi lokal, festival ini tumbuh menjadi salah satu barometer musik heavy metal dan hardcore terbesar di kawasan Asia Tenggara. Rekam jejaknya mencatat panggung ikonik yang pernah dihuni oleh sederet raksasa cadas dunia, seperti Carcass, Cannibal Corpse, Behemoth, hingga Death Angel, bersanding dengan nama-nama besar dari skena musik nasional.
Keterikatan yang kuat antara arena bersejarah seperti Benteng Vastenburg dengan riuh moshpit para penikmat musik metal dari berbagai daerah telah membentuk identitas budaya yang khas bagi Kota Solo. Bagi penyelenggara, nilai-nilai kemanusiaan dan etika yang melandasi berdirinya Rock In Solo menjadi alasan utama mengapa pesta musik harus mengalah sementara demi solidaritas nasional, sebagaimana pesan penutup mereka yang menegaskan bahwa sejarah festival ini tidak akan pernah dituliskan di atas duka.