Rully Shabara (kiri), dan Wukir Suryadi (kanan) (Foto: Medcom.id/Shindu)
Rully Shabara (kiri), dan Wukir Suryadi (kanan) (Foto: Medcom.id/Shindu)

Upaya Senyawa Mengenal Dirinya Sendiri

Hiburan indonesia musik Senyawa band
Agustinus Shindu Alpito • 20 Januari 2020 19:51
Grup noise-eksperimental asal Yogyakarta, Senyawa, melewati usia satu dasawarsa. Mereka menggelar tur mini, menyambangi Jakarta (17 Januari 2020, Gudskul Ekosistem), Bandung (18 Januari 2020, Selasar Sunaryo Artspace), dan Jatiwangi (19 Januari 2020, Jatiwangi Art Factory).
 
Selama dasawarsa pertama, Senyawa membawa musik mereka jauh lebih dari apa yang mereka dapat bayangkan. Pada 2016 misal, mereka sukses menggelar tur Amerika. Duo yang terdiri dari Wukir Suryadi, dan Rully Shabara ini bahkan pernah berkolaborasi dengan Bon Iver saat tampil di Michelberger Music Festival 2016.
 
"Selama 10 tahun terakhir awalnya ini sekadar bikin musik, sebatas itu setiap membikin sesuatu, ada gagasan tertentu. Saya merasa 10 tahun ini Senyawa kelompok musik yg mengejar itu. Kemudian kita merasa bahaya kalo begitu terus," kata Rully sebelum pentas di Gudskul Ekosistem, Jumat, 17 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Senyawa beruntung, dua penggawanya sadar akan hal-hal yang penting dan membuat mereka tetap hidup sebagai seniman. Mereka terus menggali makna akan entitas kebersamaan, dan berupaya keras tetap membumi.
 
"Banyak yang terjadi dalam 10 tahun. Membuat sesuatu dan ketika hal itu hidup kami coba untuk menghidupi. Kami takut lupa diri, kami rindu dengan proses membuat musik. Senyawa masih banyak harus bekerja keras," ungkap Wukir.
 
Menjadi besar tanpa meninggalkan apa saja yang mengakar adalah sukar. Seringkali gegap gempita sorot lampu panggung begitu menyilaukan, hingga membuat band lebih cepat layu sebelum benar-benar berkembang. Rully dan Wukir mengakui bahwa hubungan keduanya tak selalu mulus. Seringkali mereka berurusan dengan tafsir-tafsir satu sama lain yang banyak mengendap di kepala.
 
"Saya sendiri suka bingung artikulasi Rully dalam menyanyi," kata Wukir.
 
"Ya, coba kalian menyanyi dengan iringan frekuensi yang sangat luas seperti permainan Wukir," jawab Rully membela diri.
 
Upaya Senyawa Mengenal Dirinya Sendiri
(Senyawa saat tampil di Gudskul Ekosistem, 17 Januari 2020)
 
Mengalami Musik
 
Beberapa kawan mengajak diskusi tentang apa yang membuat musik Senyawa menarik. Atau lebih elementer, bagaimana cara menikmati Senyawa?
 
Saya beranggapan bahwa musik Senyawa adalah sebuah pengalaman yang utuh. Bahwa memang tidak bisa dipungkiri, jenis musik noise-eksperimental seperti Senyawa bukan diukur dari harmoni bunyi, atau progresi kord yang enak dinikmati sebelum tidur.
 
Senyawa menghadirkan musik sebagai medium ekspresi yang tak terbatas. Mereka melepas sekat-sekat yang membentengi pikiran kita tentang apa itu musik, dan bagaimana musik seharusnya.
 
Pada bagian tengah konser, ketika Wukir memainkan instrumen bambu rakitannya, saya terbesit, "Bagaimana selama ini kita selalu terpaku pada nada, dan instrumen yang baku, atau setidaknya kita anggap lazim di kepala." Hal itu amat mengakar di kepala kita hingga tak jarang, tanpa sadar kita menganggap bebunyian di luar instrumen-instrumen baku itu adalah hal yang janggal.
 
Bebunyian dari instrumen-instrumen Wukir memang terdengar seperti teror, nadanya tak beraturan, frekuensinya naik-turun tak terkendali. Tapi, dibarengi dengan vokal Rully yang kompleks, di situlah saya sadar mengapa mereka menamai proyek ini Senyawa.
 
Saya belum pernah menyaksikan vokalis yang se-atraktif Rully dalam mengolah bebunyian. Suara napas, gertak gigi, dan bunyi-bunyi "aneh" dari mulut begitu luwes beradu dengan iringan instrumen Wukir. Dari lirik, Rully pun saya rasa seorang penulis yang baik. Sampai saat ini saya masih terbayang bagaimana Rully melagukan mantra, "Hidup pantang mencari musuh, musuh datang pantang ditolak," dengan begitu angker.
 
"Cara kami melihat lagu tidak seperti lagu (yang sebagaimana awam pahami). Kayak misal kita diam, sebenarnya tidak diam. Bukan hanya kord yang bisa memamcing, tapi ada rasa menyatu."
 
"Posisi musik tidak seperti yang kamu pikir. Musik itu hanya jembatan untuk memahami diri sendiri. Itu sangat personal. Itu hanya medium atas banyak hal," kata Rully.
 
Upaya Senyawa Mengenal Dirinya Sendiri
(Tembakau dan jamu, merchandise Senyawa)
 
Selama satu dasawarsa ini, salah satu hal yang ingin dikedepankan Senyawa adalah kemandirian. Bagaimana mereka bersinergi dengan sekitar, dan mampu memberikan dampak nyata bagi sekitar. Salah satunya, mereka membuat lini produksi yang menghasilkan beberapa produk, mulai dari jamu, sampai tembakau.
 
Rully menjelaskan mereka menjual tembakau dengan racikan yang sesuai dengan selera mereka. Sementara jamu yang dijual, memiliki beberapa varian yang punya khasiat berbeda-beda. Salah satunya jamu untuk menurunkan kadar kolestrol.
 
Saya melihat upaya Senyawa untuk hal ini lebih dalam dari urusan berniaga. Dalam jumpa pers Wukir sempat mengutarakan dalam kekhawatiran, bahwa mereka tak bisa menolak ketika ada yang datang kepada Senyawa dan ingin membuat sesuatu. Dia tidak ingin Senyawa menjadi eksklusif. Bagi Wukir, sebagai seorang seniman tentu dirinya menghargai betul proses karya cipta, dari mana saja datangnya. Dan ketika dia merasa Senyawa tidak mampu lagi menampung atau mengakomodasi hal itu, tentu jadi beban tersendiri baginya.
 
Jika usia sepuluh tahun bagi band lain diiringi dengan harapan muluk tentang ini-itu, saya rasa satu dasawarsa Senyawa adalah momen bagi mereka untuk kembali ke dalam, mengenal diri sendiri.
 


 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif