Ananda Sukarlan: Musik adalah Dokumentasi Atas Kejadian Sekarang

Purba Wirastama 18 Februari 2018 09:11 WIB
indonesia musikwawancara musik
Ananda Sukarlan: Musik adalah Dokumentasi Atas Kejadian Sekarang
Ananda Sukarlan (Foto: MI/Permana)
Jakarta: Ananda Sukarlan adalah salah satu pianis dan komponis besar dari Indonesia. Karya-karya musiknya dikenal di tingkat internasional, sejumlah penghargaan diraih, dan dia juga aktif di beberapa organisasi, seperti Yayasan Musik Sastra Indonesia dan Yayasan Art Brut Indonesia.

Lahir di Jakarta pada Juni 1968, Ananda lulus dari SMA Kolese Kanisius dan menempuh studi musik ke AS dan Belanda. Tiga bulan lalu, tepatnya Sabtu, 11 November 2018, Kolese Kanisus mengadakan perayaan 90 tahun di Jakarta. Ananda, yang hadir untuk menerima penghargaan almamater, dengan sengaja berjalan keluar ruangan demi menghindari pidato Gubernur DKI Anies Baswedan, yang saat itu baru sebulan menjabat.

Tindakan ini berbuntut polemik tatkala kabarnya tersebar ke media sosial. Dalam beberapa kesempatan, Ananda mengaku tidak menyesal atas keputusannya, tetapi menyesalkan kabar bohong yang mewarnai pemberitaan atas kejadian tersebut. Misalnya soal identitas agamanya atau kabar yang memicu ajakan boikot aplikasi gawai Traveloka.


"Saya tidak menyesal. Hal yang saya sesali adalah "gorengannya", apa yang dibikin terhadap kasus itu, terutama fitnah-fitnahnya," kata Ananda kepada Medcom.id di Jakarta, Rabu, 7 Februari 2018.

Tindakan Ananda berakar antara lain dari berbagai konflik yang mewarnai Pilkada DKI Jakarta 2017 dan kasus hukum yang menyeret Gubernur sebelumnya, Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama.

Setelah rangkaian peristiwa ini, dia mengaku punya perhatian lebih terhadap isu post-truth atau pasca-kebenaran. Apalagi kini dia mendapat sorotan di media sosial, tak hanya terkait musik, tetapi juga pandangan politik. Setelah kasus pidato di Kanisius, Ananda menerima banyak komentar negatif di media sosial, terutama Twitter.

Lebih jauh, pandangan Ananda terhadap situasi tersebut dituangkan ke karya terbaru berjudul No More Moonlight Over Jakarta, yang didedikasikan bagi Ahok, merujuk ke nama belakangnya Purnama. Komposisi sonata ini digubah sebagai bagian 32 Bright Clouds, proyek musik dari AS untuk melestarikan 32 sonata Ludwig van Beethoven.

Ananda mengadopsi Sonata No. 2 Moonlight karya Beethoven dan lagu Ambilkan Bulan, Bu karya AT Mahmud. Menurut dia, karya ini diciptakan dengan cara mendistorsi karya aslinya untuk melambangkan Jakarta yang diacak-acak dan telah menjadi kacau atau disonan. Karya ini akan ditampilkan perdana di Indonesia pada 5 Maret 2018, sebelum lanjut ke Korea Selatan pada 7 April 2018.



Belum lama ini, Medcom.id mendapat kesempatan untuk ngobrol dengan Ananda Sukarlan terkait pandangannya mengenai informasi di era post-truth, pertarungan opini di media sosial, serta pandangan soal Jakarta yang dituangkan ke karya terbaru. Berikut petikannya.


Purba (P): Bagaimana pandangan Ananda mengenai post-truth dan kaitannya dengan sejumlah situasi yang pernah Anda sebut, seperti Pilpres AS, Brexit, Katalunya, atau Pilkada Jakarta?
Ananda (A): Keadaan ini bernama post-truth, pasca-kebenaran. Bagi saya, post-truth sudah ada dari dulu. Dalam bahasa Inggris, namanya bullshit, omong kosong. Sekarang, strategi untuk meyakinkan orang tentang satu hal yang tidak benar, tekniknya sudah sangat canggih. Bisa dibuktikan dengan kemenangan Donald Trump dengan strategi itu.

Definisi post-truh itu adalah fakta obyektif yang sudah tidak berpengaruh pada pembentukan opini atau opini publik. Hal yang lebih penting adalah emosi dan keyakinan personal. Definisi ini  ditahbiskan Kamus Oxford pada 2016. Nah itu adalah gimana cara meyakinkan orang dengan hal-hal yang tidak benar, tetapi mereka pikir itu benar.

P: Misalnya?
A: Soal Trump, soal imigran. Trump bilang bahwa 'we want to make America great again', terus bilang bahwa Amerika adalah milik kita, milik pribumi, sampai orang lupa bahwa Trump bukan pribumi. Enggak ada orang Amerika pribumi. Pribumi sudah dibunuh sejak abad berapa. Trump sudah jelas orang Irlandia, tetapi dia bisa bikin orang percaya dan bilang, bahwa orang yang non-pribumi adalah imigran. Misal orang Hispanik atau Afrika, yaitu yang dibawa orang-orang kulit putih sebagai budak.

P: Menurut Anda, seberapa bahaya situasi ini?
A: Kalau dulu, itu saat (Adolf) Hitler. Hitler sudah bilang ke semua orang, bahwa kaum Yahudi itu berbahaya dan harus dimusnahkan. Zaman dulu belum ada media sosial, itu masalahnya. Sekarang sudah ada media sosial. Jadi begitu ada kejadian, kabarnya ke seluruh dunia. Kalau dulu hanya sebatas Austria, Polandia, Jerman. Sudah dibuktikan, bahwa strategi ini dipakai di mana-mana, termasuk untuk referendum Brexit, referendum Catalunya di Spanyol, dan Pilkada DKI Jakarta.


Ananda Sukarlan (Foto: MI/Permana)

P: Seperti apa Anda mengaitkan post-truth dengan DKI Jakarta?
A: Itu bukan ke post-truth tapi lebih ke populisme. Ini sama juga dengan strategi Trump untuk sampai kepada rakyat awam atau kecil yang jumlahnya banyak, di mana pemilih justru dari mereka. Lagi-lagi meyakinkan rakyat kecil untuk hal-hal, misalnya bahwa becak kembali ke Jakarta itu demi membela rakyat kecil.

Rakyat kecil butuh makan dan kehidupan yang dicukupi. Mereka tidak akan berpikir jauh bahwa becak akan mengganggu kelancaran lalu lintas. Kalaupun sampai becak mengganggu kelancaran lalu lintas, yang salah adalah orang-orang pemilik mobil, yaitu orang-orang yang punya uang.

Artinya, Gubernur ini membela rakyat kecil karena membela becak dan bukan mobil. (Ini adalah sebuah masalah) karena sudah tidak ada hukum, sudah tidak ada aturan lagi, yang penting rakyat kecil dikasih kebebasan.

P: Namun soal becak, kabarnya becak akan dibatasi di lingkup tertentu. Kendati sudah dilarang di Jakarta sejak lama, becak masih tetap beroperasi di beberapa wilayah kecil.
A: Iya, padahal kan sudah tidak bisa. Becak itu sudah bukan zaman lagi.

P: Sejak kapan Ananda punya perhatian terhadap persoalan post-truth, populisme, dan kaitan dengan politik di lingkungan sekitar Anda?
A: Dulu saya buta politik banget. Pertama kali dalam seumur hidup, saya memilih, nyoblos, itu pada zaman Jokowi jadi calon Presiden (2014). Saya melihat keadaan sekarang sudah ekstrim. Bukan karena saya pro Jokowi atau pro Ahok, tapi kalau bukan Jokowi itu akan sangat bahaya bagi negara. Kejadian Hitler, Mussolini, Stalin, dan segala macam itu bisa terjadi di Indonesia.

Kita musti mengingat bahwa Hitler menang dan sebagian besar kaum Yahudi memilih Hitler.  Saya melihat lagi kejadian (serupa) di sini, kehancuran Jakarta, di mana sebagian besar rakyat Jakarta memilih kehancurannya sama seperti sebagian besar kaum Yahudi (pada era Hitler).

P: Apakah karena ketakutan ini, anda lantang bersuara di tempat publik, misal media sosial?
A: Karena mereka juga lantang bersuara dan tidak tanggung-tanggung, termasuk ada strategi "ternak akun". "Ternak akun" itu bukan hanya bot. Satu orang punya lebih dari 50 akun media sosial, yang saya tahu Twitter. Mereka menyampaikan satu pesan tapi diduplikasi 50 kali di 50 akun yang berbeda, padahal orangnya sama.

P: Jadi ini klaim atau temuan?
A: Saya dikasih tahu oleh orang-orang setelah saya dipersekusi setelah kejadian Kanisius.

Saya juga melihat pola, kok ada puluhan ribu akun (Twitter) dan akun-akun itu bekerja terus setiap 3-5 detik. Tiap kali saya bangun pagi, notifikasi ada paling sedikit 10 ribu. Gimana bisa itu terjadi terus? Saya tanya kepada ahli – saya tak mau kasih tahu siapa. Mereka bilang, ini memang "cyber army" dan mereka beternak akun. Jadi, sebenarnya yang menyerang saya mungkin 20-an orang, tetapi kalau dari satu orang saja 50 akun, itu sudah 1.000.

P: Setelah aksi walk out dalam acara di Kanisius, banyak yang membahas tindakan Ananda, memberi analisa, menilai tindakan tak bijak, dan sebagainya. Ada pro kontra. Setelah kejadian tersebut, apa yang Ananda pelajari mengenai situasi ini?
A: Tentang ternak akun, tentang cyber army, tentang strategi mereka, lalu saya juga bertemu para korban persekusi. Kicauan (ke saya) itu sehari kira-kira ada 1.000 atau berapa ribu. Saya ambil yang penting-penting (untuk dibalas), yang terlihat pengikutnya lebih dari 100. (Deteksi) ternak akun itu gampang, cek saja akunnya, follower kadang sampai nol. Ini gimana sih, kalau daftar Twitter paling tidak pengikut ada paling sedikit lima atau enam karena selalu ada akun pembesar payudara dan pemanjang penis yang mengikuti.

Ada beberapa hal yang saya suka dari kejadian itu. Pertama, saya jadi tahu mana teman mana musuh. Kalau teman itu nusuk dari depan, kalau musuh nusuk dari belakang. Saya jadi tahu bahwa ada teman saya yang ternyata nusuk dari belakang.

Kedua, biasanya ada orang-orang yang iri: Ananda bikin ini (polemik) supaya pengikut media sosial tambah banyak atau tambah populer. Tidak, saya tidak tambah populer. Orang yang baru tahu saya, begitu dengar musik saya, enggak ngerti lalu pergi lagi. Kalau tambah pun paling berapa ratus (akun). Saya tak pernah berorientasi pada jumlah pengikut di media sosial karena memang saya tahu bidang (musik) saya sangat tersegmen.

Saya tidak begitu, tetapi saya juga berpikir bahwa bagi influencer, yang paling penting adalah pengikut beneran yang benar-benar ada di situ dalam beberapa tahun. Saya tambah pengikut dan beberapa haters (pembenci). Saya pikir, kapan mereka mau unfollow? Karena mereka jadi tahu setiap kali saya ngetwit. Saya malas untuk membuang-buang mereka. Mereka yang harus kerja dong. Mereka yang follow, ya mereka yang harus unfollow.


Ananda Sukarlan (Foto: MI/Retno)

P: Apakah peristiwa itu membuat Ananda lebih berhati-hati dalam membicarakan sesuatu? Anda sekarang menjadi sorotan di bidang lain, tak hanya musik.
A: Lebih berhati-hati, iya. Namun saya tahu, saya tidak bisa menjawab mereka dengan logika karena lagi-lagi post truth. Mereka sudah percaya hanya dengan satu situs web, mereka tidak akan bisa percaya bahwa saya Islam. Walaupun di Google ada ratusan situs yang bilang bahwa saya Islam, tapi dengan ada satu yang bilang bahwa saya Kristen, mereka akan bilang bahwa saya kafir. Kita juga tidak bisa bilang bahwa Derianto (Kususma) ada di San Fransisco.

(Setelah kabar aksi walk out Ananda di acara 90 tahun Kolese Kanisius, beberapa berita dari media massa menyebut bahwa Derianto Kusuma, salah satu pendiri dan bos Traveloka, berada di lokasi dan ikut walk out. Muncul ajakan untuk memboikot aplikasi gawai ini. Baru kemudian diketahui, saat itu Derianto sedang berada di San Fransisco, 13 ribu kilometer dari Jakarta.)

Jadi, kami tidak bisa melawan mereka dengan logika. Dalam post-truth, yang penting itu. Kita harus belajar dari Buni Yani di twitnya 6 Desember 2012. Ada di Chirpstory, semua komplit, di mana dia bilang, cara paling mudah untuk memasukkan suatu hal adalah dengan agama. Karena Indonesia adalah negara (mayoritas) Islam, apapun yang berbau Islam akan mudah untuk dijual.

P: Setelah Ananda kencang bersuara soal pandangan politik, apalagi sangat spesifik, apakah ini berpengaruh ke karier sebagai musisi?
A: Enggak karena mereka yang membenci saya juga tak pernah tahu saya. Begitu mereka tahu dan menyelidiki saya, cuma bikin (respons) dislike dan komentar "tai" segala macam di semua video saya (di media sosial streaming video). Mereka tidak pernah datang dan mereka tidak akan datang. Jadi bagi saya, itu tidak berpengaruh.

Namun bagi orang-orang yang lebih populer, mungkin (berpengaruh) karena pekerjaan mereka menjangkau kalangan lebih luas. Kalau pekerjaan saya ke masyarakat yang lebih tersegmen. Siapa yang awalnya suka nonton atau beli CD saya, akan terus datang dan beli CD saya. Yang jadi kenal dengan saya, haters, dengar musik saya dan enggak ngerti, mereka juga tidak akan datang. Ada yang berkicau, "Gue bakal out dari konser lu." Terus aku bilang: Ya beli tiketnya dulu dong.



P: Dalam album yang baru, Ananda memasukkan pandangan tentang kekacauan Jakarta. Anda bilang: Ini bukan karya indah, jangan harap bisa terlena dan terhibur mendengarnya. Seperti apa kekacauan yang Anda maksud? Apakah karya ini ekspresi pemuas diri?
A: Bagi saya, musik adalah seperti dokumentasi atas apa yang terjadi sekarang. Kalau kita nulis tentang Romeo and Juliet, itu sudah agak keluar dari konteks. Saya percaya bahwa seorang seniman harus merefleksikan tempat dan kejadian di mana dia menuliskan itu. Nah ini yang saya lihat dari Jakarta. 50% mungkin enggak akan setuju, tapi yang saya lihat, Jakarta seperti ini. Kalau mau diperbaiki lagi, butuh 10 Ahok (Basuki Tjahaya Purnama), enggak hanya satu karena sekarang Jakarta jauh lebih buruk daripada tahun pertama Ahok.

P: Apa yang membuat kondisi lebih buruk?
A: Ya dari banjir, becak, lalu lintas. Lalu sekarang mereka (pihak Gubernur Anies) tiap hari bikin sesuatu yang menaikkan rating mereka karena tentu saja orang harus terus membicarakan dan menyebut nama mereka. Saya pernah berkicau beberapa hari lalu: Maaf, yang menyebut nama mereka akan saya unfollow karena mereka bikin ini untuk menaikkan rating mereka. Jadi nanti di statistik akan terlihat bahwa mereka populer di media sosial.

P: Apakah Ananda menyadari kemungkinan gejala terlalu cinta pada sosok?
A: Saya enggak cinta dengan sosok siapa-siapa. Kalau misal Ahok brengsek, saya tidak suka dia. Saya hanya butuh negara saya dipimpin orang yang baik. Sebelum Jokowi, semua sama. Jadi, saya enggak peduli. Ada yang sedikit lebih buruk, sedikit lebih baik, tapi saya enggak peduli.

Namun keadaan ini sangat ekstrem, di mana Jokowi dan Ahok itu seperti banyak pemimpin di negara-negara Eropa. Saya membandingkan Jokowi, misal dengan Justin Trudeau (Perdana Menteri Kanada) atau dengan Barrack Obama (Presiden ke-44 AS). Calon Presiden yang lain itu seperti misal dengan George W Bush (Presiden ke-43 AS) atau Donald Trump (Presiden AS sekarang). Apalagi, strateginya persis sama dalam cara-cara memenangkan dengan post-truth, populisme.

(Hal yang dibandingkan juga) bagaimana cara untuk memimpin sebuah negara, dengan anti-korupsi, pro rakyat beneran, bukan pro rakyat untuk mengambil hati mereka, tetapi itu demi keadilan.

Saya tidak percaya dengan kesetaraan. Saya tidak percaya bahwa semua orang itu sama. Kita semua berbeda tapi kita harus adil. Artinya, kalau kita kasih kursi yang sama (tinggi) untuk satu konser, orang yang di belakang tidak akan bisa melihat panggung. Orang di belakang, kursinya harus lebih tinggi.


 



(ELG)