Christabel Annora (Foto: Prialangga)
Christabel Annora (Foto: Prialangga)

Perjalanan Musikal Christabel Annora

Hiburan indonesia musik
Cecylia Rura • 17 Februari 2019 12:01
Dari sudut Kota Malang nama Christabel Annora menggema di benak penggemar musik pop. Christabel memulai karier bermusik sejak kecil dengan memelajari instrumen musik piano.
 
Talking Days menjadi album perdananya yang dirilis 14 Mei 2016. Sesuai arti harfiahnya, album ini bercerita tentang rutinitas sehari-hari dan bentuk ungkapan syukur.
 
Christabel sempat terlibat aksi panggung live session Payung Teduh dan belum lama ini menjadi additional player dalam acara HUT Slank ke-35 pada 23 Desember 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta. Dia menjadi satu tamu kehormatan di panggung Slank bersama para musisi perempuan lain di antaranya Eva Celia, Marion Jola, Aurelie Moeremans, Evelyne Hutagalung, dan Meilita Kasiman serta para instrumentalis Tiwi Shakuhachi (keyboard, akordeon), Rani Ramadhani (perkusi) dan Sistha Anindya (saxophone).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kira-kira pada September 2016, Christabel sempat bertemu Slank dalam Konser Liztomania with Slank "Not for Sale". Musisi lulusan studi Design Management di Heriot-Watt University, Edinburgh ini tampil bersama Slank dan mengiringi Marsha Timothy membacakan puisi Moammar Emka.
 
Selain bermusik, Christabel juga mengajar musik kepada anak-anak. Ini menjadi salah satu anak tangga untuk menggapai mimpinya mendirikan sekolah musik.
 
Pada 8 Februari 2019 Christabel meluncurkan singel Menunggu Pagi yang bercerita tentang memperjuangkan mimpi. Dari lirik, komposisi, hingga produksi lagu dikerjakan sendiri oleh Christabel dengan mastering dari Bambang Iswanto. Video musik Menunggu Pagi dirilis pada 14 Februari 2019, bertepatan dengan Hari Valentine.
 
Perjalanan Musikal Christabel Annora
 

Pertemuan pertama saya bersama Christabel terjadi pada April 2018. Dari Edinburgh, dia menyempatkan mampir ke sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan untuk bermusik bersama sepasang musisi Gabriel Mayo dan Ruth Priscilla, sebelum bertolak ke Surabaya. Dalam sesi itu, tak banyak waktu untuk berbincang dengan musisi yang juga menggeluti bidang arsitektur dan desain interior tersebut.
 
Waktu yang terbilang singkat dan kedatangan saya tanpa perencanaan saat itu rupanya tidak memberi ruang untuk berbincang. Atas kebaikan hatinya, sejumlah pertanyaan saya melalui surel dijawab oleh dara kelahiran Malang itu.
 
Bagaimana awal perkenalan Christabel dengan musik?
 
Berkenalan dengan musik jazz dan klasik awalnya, dari eyang dan les piano klasik. Kemudian merambah genre lainnya.
 
Lalu, bagaimana dalam proses kreatif, apa yang biasa dilakukan Christabel dalam membuat lirik dan membuat komposisi lagu?
 
Langsung ke piano, mencocokkan liriknya dengan musik. Ditinggal ngopi, ngapa-ngapain dulu, balik lagi. Biasanya ada revisi, ha-ha-ha!
 
Talking Days menjadi debut album panjang Christabel. Dalam susunan 13 nomor lagu, dominan berbahasa Inggris. Apakah Christabel memang nyaman, lebih mudah menyampaikan pesan lagu melalui bahasa Inggris?
 
Enggak juga, apa yang ditulis merupakan yang ada di kepala waktu itu. Mungkin waktu itu kebetulan nulis bahasa Inggris. Begitu pula dengan menulis bahasa Indonesia. Meskipun, saya akui, menulis lagu berbahasa Indonesia itu sebuah tantangan. (Bocoran, lagu-lagu baru akan berbahasa Indonesia!)
 
Dalam repertoar album Talking Days, beberapa lagu menyiratkan pesan rindu dan angan. Ada pula judul unik yaitu singel 60 Km/H. Apa yang terbersit ketika menentukan urutan lagu dan pembuatan konten dalam album Talking Days?
 
Urutan lagu di Talking Days itu diambil dari urutan seseorang beraktifitas dari subuh hingga larut malam. Personal, sih. Tapi dialami semua orang.
 
Perjalanan Musikal Christabel Annora
Rilisan fisik album Talking Days (Foto: Instagram @christabelannora)
 

Membawakan lagu Desember dari Efek Rumah Kaca (ERK) dalam album Talking Days, kemudian sempat berkolaborasi dengan Slank dalam perayaan HUT Slank yang ke-35 pada Desember 2018 di GBK Jakarta. Apakah ini bentuk dukungan Christabel atau selaras dengan musisi yang ikut memperhatikan isu-isu sosial dan politik? Mengingat Slank dan ERK pun cukup lantang menyuarakan isu tersebut dalam lagu mereka.
 
Keduanya (mendukung dan selaras). Meskipun saya tidak menulis lagu yang berkaitan dengan isu sosial dan politik, saya cukup memperhatikan. 'Kan saya warga negara Indonesia juga, he-he-he.
 
Sempat juga berkolaborasi dengan Payung Teduh sebagai live-session pianist. Pun beredar rumor Christabel Annora akan bergabung dengan Payung Teduh. Apakah itu benar?
 
Saya dengan teman-teman Payung Teduh waktu itu bantu-bantu live aja, karena dulu belum ada pianisnya, bukan bergabung. Seru bangetlah bareng mereka itu pokoknya.
 

 
Belum lama ini merilis EP Late December spesial menyambut Natal. Apa makna dalam album hingga membuat Christabel merilis album spesial di Hari Natal tahun kemarin? Bagaimana dengan inspirasi membuat komposisi dan lirik lagu?
 
Dua lagu itu terinspirasi waktu saya di Edinburgh setahun dan melewatkan Natal di sana, both lirik dan komposisi bener-bener murni terinspirasi di sana.
 
Sejak kecil menekuni musik, lalu mengambil studi Arsitektur dan ditekuni. Apakah ini menjadi bentuk alter ego seorang Christabel Annora?
 
Bisa jadi. Kebetulan memang tertarik mendalami seni dari kecil (kata Mama). Baik seni musik maupun yang lain, termasuk desain.
 
Selain sebagai musisi, bergelut dalam bidang arsitektur dan desain interior, Christabel aktif mengajar musik. Apakah ada mimpi atau visi/misi khusus mengajar musik?
 
Ada, ingin bikin sekolah musik memang untuk jangka panjangnya, sekarang menabung dulu! He-he. Lagu anak udah ada kok beberapa waktu yang lalu. Bikin lagu untuk album Kecil Itu Indah. Sepertinya akan bikin lagi, sih. Hi-hi, doakan!
 

Perjalanan Musikal Christabel Annora
Christabel Annora (Foto: Prialangga)
 
Musik indie mulai menjamur dan tak bergantung pada label besar. Bagaimana menurut Christabel? Apakah sekarang pasar musik Indie lebih menjanjikan daripada bergabung dengan label besar?
 
Sebenernya dua-duanya ada pasar sendiri. Cuma indie merintis karier dengan tidak bergantung ke label besar sehingga lebih punya kebebasan buat atur waktu. Ya, sama-sama menjanjikan juga.
 
Bagaimana Christabel menggambarkan mimpi bersama dunia musik?
 
Ingin mendirikan sekolah musik, lengkap dengan songwriting lesson. Lebih banyak karya, lebih baik.
 
Apakah ada rencana merilis karya terbaru atau kolaborasi dalam waktu mendatang?
 
Tentunya, akan ada album baru tahun ini. Hi-hi-hi lagi digarap, nih. Udah hampir selesai, tinggal finishing.
 


 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi