Ilustrasi (Foto: AFP)
Ilustrasi (Foto: AFP)

Bagaimana NFT Berdampak pada Perjalanan Musisi Kamar asal Depok

Hiburan indonesia musik musik indonesia cryptocurrency Musik Indie
Agustinus Shindu Alpito • 31 Desember 2021 17:00
Aloysius Nitia atau dalam berbagai proyek musik menggunakan nama At.Nite adalah satu dari sekian banyak musisi bawah tanah Indonesia yang terbuka jalannya lewat keberadaan sistem Non-Fungible Tokens atau biasa disebut NFT. Dalam wawancara bersama Medcom, Aloy yang berasal dari Depok menceritakan bagaimana NFT turut berdampak pada perjalanan kariernya.
 
Tahun 2021 membawa dampak yang luar biasa bagi dunia lewat kehadiran kontrak pintar dan blockchain yang diaplikasikan dalam token yang ditanam pada beragam karya seni. Hal ini membuka cakrawala baru bagi para seniman dalam menjual karyanya dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya.
 
NFT yang beroperasi lewat sistem blokchain menawarkan keuntungan bagi para seniman dalam menjual karyanya. Salah satu yang paling menggiurkan adalah royalti tak terputus sebagaimana penjualan karya-karya konvensional. Sistem royalti ini mengikat pada karya. Seniman pada saat minting (mengunggah karya) di platform jual-beli karya lewat sistem NFT, dapat menentukan besaran royalti pada karyanya. Semisal seniman A menetapkan royalti sebesar 15% dari karyanya, maka jika karya itu dijual lagi dalam secondary NFT market sang seniman tetap mendapatkan royalti 15% dari harga jual. Ini berlaku seterusnya, sehingga royalti tak putus ini sangat menguntungkan para seniman.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sistem royaltinya fair. Misal gue rilis karya terus gue tetapkan royalti 15 persen. Terus misal karya itu dibeli dan dijual lagi, gue akan tetap dapat royalti dan datanya lengkap. Gue bisa tahu karya gue di secondary market jalan atau enggak, dan semua history-nya gue bisa lihat," kata Aloy. 
 
Di Indonesia sendiri, para musisi sudah mulai merambah dunia NFT. Menariknya, NFT mampu menjadi alternatif untuk melepas sekat antara musisi yang telah mapan secara karier dan musisi bawah tanah.
 
"Semua orang yang masuk NFT dari nol lagi. Gue bisa ketemu Indra Aziz, Sari 'White Shoes and The Couples Company.' Gue biasa jualan di Twitter. Ada kolektor yang lihat terus dibeli. Artist support artist terasa di situ. Gue lebih merasa diapresiasi di NFT. Kalau gue unggah ke Spotify atau Instagram, paling gue cuma dapat likes," tukas Aloy.
 
Bagaimana NFT Berdampak pada Perjalanan Musisi Kamar asal Depok
(Aloysius Nitia di studio kamarnya. Foto: dok. Aloysius Nitia)
 
Aloy sendiri sudah lebih dari lima tahun menjajaki dunia musik. Mulai dari era musik 8-bit dan chiptune yang populer pada era 2014-an, sampai saat ini Aloy banyak memproduksi musik-musik ambience dan eksperimental berbasis elektronik.
 
Aloy biasa minting karya di situs Hic Et Nunc yang dalam transaksi NFT menggunakan mata uang digital bernama Tezos. Minting sendiri adalah istilah untuk proses pengunggahan karya ke situs jual-beli NFT dan mengidentifikasi karya digital ke dalam sistem blockchain. Dalam proses minting ini karya digital diberi identitas dalam blockchain, sehingga keberadaannya diakui dan dapat diperjualbelikan secara digital dalam ekosistem blockhain yang telah disematkan.
 
Selain Hic Et Nunc, terdapat berbagai platform jual-beli NFT yang beroperasi dengan berbagai mata uang digital. Salah satu yang terpopuler adalah OpenSea yang menggunakan mata uang digital Ethereum.
 
NFT sendiri seperti halnya mata uang digital, banyak bergerak lewat kekuatan komunitas. Baik komunitas penggemar dari seniman-seniman tertentu, komunitas anggota platform jual-beli NFT, sampai komunitas mata uang digital yang menjadi pembayaran utama dalam platform jual-beli. Aloy sendiri mengaku bahwa komunitas NFT di media sosial sangat membantunya dalam menjual karya.
 
Proses promosi karya NFT sendiri terbilang unik. Aloy mengungkapkan salah satu cara paling efektif adalah mempromosikan karya via Twitter. Bagi pemilik karya, wajib hukumnya untuk berjejaring dengan para kolektor atau komunitas platform jual-beli NFT. Para seniman memanfaatkan tanda pagar yang sekiranya dapat menjangkau para kolektor dalam menemukan karya. 
 
"Lo harus super aktif di Twitter, lo enggak bisa hanya sekadar menaruh karya saja di platform," tukas Aloy saat menceritakan betapa pentingnya untuk berjejaring dengan komunitas NFT di Twitter.
 
Karya-karya NFT Aloy seluruhnya terjual habis, dan kemungkinan besar hanya bisa didapatkan melalui secondary-market. Sejauh ini, Aloy membungkus karya musiknya dengan animasi abstrak tiga dimensi. Ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena bukan sekadar menawarkan pengalaman audibel pada kolektor, tetapi juga visual.
 
"Gue basic-nya kuliah animasi. Gue seperti termakan omongan sendiri, dulu gue enggak suka sama 3D animasi sampai akhirnya mengundurkan diri dari UMN (Universitas Multimedia Nusantara), dan 3D itu tepakai sekarang. Untung gue masih ngerti basic-basic-nya," kata Aloy.
 
Selain itu, treatment personal juga dilakukan Aloy untuk membangun ikatan yang baik dengan para kolektor dan membangun iklim apresiasi yang baik dalam komunitas NFT.
 
"Gue timbal balik ke kolektor gue kasih file aslinya via cloud-drive. Jadi misal karya gue ada yang collect, gue bisa lihat data si pembeli, biasanya ada data akun sosial medianya, setelah itu biasanya gue kontak via DM (Direct Message) terus gue inisiatif share via drive file aslinya. Itu salah satu treatment gue ke kolektor."
 
Perkembangan NFT meski masih baru terbilang pesat. Apa yang dilakukan Aloy hanya berselang beberapa bulan saja dari NFT musik pertama di dunia. Pada Maret 2021, sejumlah musisi untuk pertama kalinya mulai menjual karya dalam konsep NFT. Salah satunya adalah grup musik asal Amerika Serikat, Kings of Leon yang merilis album When You See Yourself.


Potensi NFT di Masa Depan


Para kolektor tidak semata melihat karya yang dijual dalam konsep NFT sebatas karya, tetapi juga sebuah investasi. Beberapa seniman merilis karya-karya edisi terbatas yang berpotensi mengalami kenaikan harga karena telah memiliki ekosistem komunitas penunjang. Belum lagi mata uang digital yang menjadi alat utama pembayaran dalam platform jual-beli NFT selalu fluktuatif angkanya. Hal ini menjadikan karya-karya NFT menjadi medium investasi bagi para kolektor.
 
Para pegiat mata uang digital menebak bahwa tren NFT kian menjamur pada 2022 dan menjadi alternatif baru yang diterima oleh banyak kalangan di masa depan.
 
"Tren NFT semakin meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini karena minat masyarakat untuk memperjual-belikan aset dan karya seni digital melalu NFT semakin tinggi, seiring dengan pengetahuan mereka soal manfaatnya dan peluang pada pertumbuhan ekonomi kreatif dan digital," kata Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) yang juga COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda, dikutip dari siaran pers Tokocrypto.
 
Menurut DappRadar, perputaran uang di dunia NFT pada kuartal III 2021 di seluruh dunia mencapai USD10,7 miliar atau sekitar Rp152 triliun. Angka ini meningkat tajam dari data kuartal II 2021 sebesar USD1,3 miliar atau sekitar Rp18,5 triliun, dan kuartal I sebesar USD1,2 miliar atau sekitar Rp17 triliun.
 
Apa yang dilakukan Aloy dari studio kamarnya di bilangan Depok, Jawa Barat, bergumul dengan dunia NFT adalah jawaban bagaimana para seniman muda dan ekosistem digital berdinamika. Niscaya, ini adalah perjalanan menuju ekosistem digital yang solid dengan segala rencana besarnya seperti metaverse dan gagasan kehidupan virtual lain. 
 
(ASA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif