Denny Frust--Medcom.id/K. Yudha Wirakusuma.
Denny Frust--Medcom.id/K. Yudha Wirakusuma.

Denny Frust: Proses Solo Cukup 'Berdarah-darah'

Hiburan indonesia musik Musik Indie
K. Yudha Wirakusuma • 13 Juli 2019 06:31
Nama Denny Frust kini tak asing lagi di skena musik indie. Setelah memutuskan keluar dari Monkey Boots, nama Denny kian meroket. Ada segudang perjuangan panjang, sebelum akhirnya Denny mendapat gelar Prince of Ska Indonesia.
 

Jakarta:
Jarum penunjuk bensin berada di garis merah. Tapi saya tak mengacuhkan. Motor saya pacu di tengah belantara Jakarta saat jam pulang kantor. Seraya di dalam hati berharap motor tak mogok karena kehabisan bensin.
 
Lebih kurang 40 menit saya sampai di Kyabin Studio Jalan H. Nawi Raya No. 14 jakarta Selatan. Dengan percaya diri saya naik ke lantai dua studio tersebut. Seorang lelaki berkulit coklat gelap pun menyapa. Saya pun mencoba bertanya keberadaan di mana Denny Frust. Tak perlu lama telunjuknya menunjukkan arah keberadaan Denny Frust.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Itu lagi sesi foto,” sambil membuka pintu studio dua tempat Denny Frust melakukan foto session.
 
Setengah nyelonong saya pun masuk ke studio dua sambil memperkenalkan diri, “Tunggu sebentar ya,” kata Denny menyambut dengan senyum.
Denny Frust: Proses Solo Cukup 'Berdarah-darah'
Denny Frust--Medcom.id/K. Yudha Wirakusuma.
 
Sekitar 10 menit berselang, saya pun diberi kesempatan untuk mengulik secara dalam sosok Prince of Ska Indonesia versi Komunitas Internasional Reggae dan Ska Asia Tenggara dalam acara International Reggae Day 2016.
 
Awal Perjalanan Denny Frust
 
Perjalanan karier Denny Frust memang tak singkat. Sebelum memutuskan menjadi penyanyi solo, Denny sempat di Dancing Alaska, Nyiur Melambai dan Monkey Boots. “Dancing Alaska memang di Surabaya. Gue emang lahir dan gede di Surabaya. Ke Jakarta 2008 Maret. Kemudian terakhir band ya Monkey Boots,” kata Denny saat berbincang dengan Medcom.id belum lama ini.
 
Baginya keluar dari Monkey Boots, adalah proses untuk dewasa dalam bermusik. Lebih bebas dalam menyalurkan ide, kreativitas dan menantang.
 
“Kalau ikuti proses ya, cukup 'berdarah-darah'. Ibaratnya kalau dulu ikut perusahaan sekarang wiraswasta. Lebih bebas. Mungkin punya impian yang lebih cenderung ke obsesi dalam artian yang anak-anak enggak bisa ngimbangin. Mau enggak mau gue harus cabut. Kalau enggak blunder buat gue sendiri," imbuhnya.
 
Denny tak mau meninggalkan kota kelahirannya hanya untuk berkarier di Jakarta dan Indonesia. Dia memiliki obsesi agar karyanya dapat didengar semua orang.
 
"Gue ingin lebih jangkauan gue. Gue juga enggak mau yang dengerin musik gue cuma orang-orang di scane gue saja atau di komunitas gue saja. Gue mau cakupannya lebih luas. Ya karena mimpi. Gue punya impian lebih lagi, dan akhirnya keluar," ucapnya.
 
Memulai Solo
 
Begitu memutuskan keluar dari Monkey Boots, Denny memutar otak. Dia tak ingin namanya dan karyanya berhenti.
 
"Siapa yang enggak kenal Monkey Boots. Jam terbang lumayan. Dalam artian, aman sih aman. Segi pendapatan aman. Ya gue keluar ada passion yang lebih. Keluar dari Monkey Boots ya gue balik dari nol. Berantakan, Keputusan harus ada konsekwensinya. Mau enggak mau gue harus bikin sesuatu. Kalau enggak gue hilang, selesai," ucapnya.
 
Tak lama setelah tak lagi jadi bagian Monkey Boots, Denny merilis album berjudul tiada beban 16 Agustus 2016. Kemudian dia nekat melakukan tur Asia.
 
"Awalnya dari perkenalan dari Facebook main ke sana. Ketemu orang ini, orang itu. Membuka jaringan. Tour Singapura, Thailand dan Vietnam selama tiga minggu bawa kaos dua lusin dan cd sekitar 60 keping. Bawa di sana jalan tour. Saat manggung di depan dua orang tiga orang ya gue terus. Sambil ngelapak," terangnya.
 
Denny pun memetik pelajaran soal apa yang dilakukan di luar negeri. Menurutnya, menjadi penyanyi solo patut diperjuangkan. "Ini patut gue perjuangin sampai kapan pun. Ini memberikan semangat untuk gue. Mungkin pada saat itu jarang band-band Indonesia tour di luar negeri dengan duit sendiri. Jadi gue tour Malaysia main dengan band Malaysia. Jadi yang ngiringin beda-beda. Di Vietnam tour tiga kota. jadi pengiringnya beda-beda," paparnya.
 
Kaca mata orang luar soal Reggae/Ska di Indonesia.
 
Denny mengaku Scene Reggae/Ska di Indonesia cukup besar. Bahkan tak berlebihan jika mengatakan skena Reggae/Ska di Indonesia terbesar di Asia.
 
"Sebenarnya selama ini mutar-mutar. Skena musik reggae dan ska di Indonesia paling gede di Asia, atau bahkan di dunia. Sekarang sekitar 1.000-an band, itu juga menyusut. Dulu tahun 2012 sempet booming lebih banyak lagi. Tapi banyak band nyaman dengan membawakan lagu orang. Minim rilisan," ucapnya.
 
Denny telah merilis enam album studio, tiga diantaranya bersama beberapa band. Travelling (band Dancing Alaska, 1999), Senandung ‘Tuk Temani Harimu (band Nyiur Melambai, 2006), Big Monkey (band Monkey Boots, 2010), Interaksi (band Monkey Boots, 2015), Tiada Beban (2016), dan Jangan Lupa Bahagia (2017).
 
Denny sempat menjadi artis pembuka konser "Godfather of Dancehall," Johnny Osbourne di Singapura pada 2017.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif