Ilustrasi (Foto: AFP/Eric Baradat)
Ilustrasi (Foto: AFP/Eric Baradat)

Meraup Untung dari Piringan Hitam di Tengah Pandemi

Hiburan indonesia musik
Dhaifurrakhman Abas • 23 Juni 2020 14:06
Bagus Permana, pemilik Kamar Gelap Records, tersungging lebar. Belakangan, lapak tempat dia berjualan vinyl (piringan hitam) secara online ramai dikunjungi pembeli.
 
“Dua tahun terakhir lagi berkembang banget penjualannya,” kata Bagus ketika berbincang dengan Medcom.id melalui pesan elektronik, Rabu 17 Juni 2020
 
Lapaknya semakin menuai keuntungan semenjak pandemi virus korona melanda bumi pertiwi. Keuntungannya mencapai dua kali lipat dari hari-hari sebelum adanya pandemi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kalau selama pandemi ini, penjualan pribadi 100 persen naik. Teman-teman pedagang juga penjualan naik,” ucap Bagus.
 
Bagus menuturkan, puncak penjualan terjadi pada bulan Mei 2020. Saat itu penjualan Bagus di Kamar Gelap Record tembus hingga 400 plat vinyl dari yang biasanya hanya 200 keping setiap bulannya.
 
“400 vinyl, lumayan banyak untuk store kecil kayak kita, hehehe,” ujar Bagus semringah.
 
Hal itu praktis bikin Bagus senang bukan kepalang. Semenjak pandemi virus korona, dirinya bisa membawa keuntungan bersih mencapai Rp15 juta per bulan.
 
Meraup Untung dari Piringan Hitam di Tengah Pandemi
(Bagus Permana, pemilik Kamar Gelap Records. Foto: dok. Pribadi)
 

“Biasanya kurang lebih Rp 8 juta-Rp10jutaan. Selama korona Rp15 jutaan kurang lebih mas,” terangnya.
 
Hal senada juga diungkapkan Denny Sondjaja, pemilik Millers Records Bali. Denny mengakui bisnis penjualan piringan hitam ini menemukan gairahnya dua bulan belakangan di saat pandemi virus korona.
 
"Dari aku sih sejak dua bulan terakhir justru meningkat lumayan sih," ujar Denny.
 
Denny tak menyebut berapa nominal yang dia dapatkan dari keuntungan yang diraih. Hanya saja, penjualannya meningkat hingga 50 persen.
 
"Bisa naik sekitar 50 persen," ucap dia.
 
Tak hanya vinyl, Denny mengatakan penjualan rilisan fisik macam compact disc (CD) juga mengalami peningkatan meksipun tak signifikan. Kebetulan Denny juga menjual rilisan CD di toko yang dia dirikan di pulau Bali.
 
"Kalau CD paling 20 persenan lah," tutur dia.
 
Meraup Untung dari Piringan Hitam di Tengah Pandemi
(Denny Sondjaja pemilik Millers Records yang berbasis di Bali. Foto: dok. Pribadi)
 

Gara-gara WFH
 
Meningkatnya penjualan vinyl semasa pandemi virus korona menjadi pertanyaan tersendiri buat Bagus dan juga Denny. Pasalnya, pandemi global biasanya memicu banyak sektor bisnis terganggu.
 
Namun ini justru terbalik untuk bisnis vinyl yang justru mengalami peningkatan. Sebab itu, Bagus menduga peningkatan penjualan ini berhubungan dengan anjuran pemerintah terkait bekerja dari rumah atau work from home (WFH).
 
“Mungkin selama WFH dari rumah, mereka jadi punya waktu lebih untuk hobinya. Salah satunya denger musik dari koleksi vinyl,” ujarnya.
 
Senada, Bagus mendasari hal tersebut dari profil pembeli yang terbanyak berasal dari angkatan produktif berusia 20-30 tahun. Semasa WFH mereka lebih punya waktu luang untuk mendengarkan lagu melalui medium vinyl dari rumah mereka.
 
”Kalau umur rata 25-35 paling banyak, terus 35-50 kedua. (Semenjak WFH) mereka punya waktu lebih untuk hobinya, salah satunya denger musik atau koleksi vinyl. Mereka butuh sedikit invest time buat dengerin koleksinya lagi,” jelas Bagus.
 
Terlebih, kata Bagus, pemborong vinyl saat ini merupakan pembeli tetap dan jangka panjang. Vinly pun menjadi barang rilisan fisik musik yang diapresiasi masyarakat Indonesia.
 
“Tipe customer-nya sekarang rata-rata udah establish ke arah long term buyer atau hobi serius. Kalau dulu kayaknya memang lebih ramai banget. Cuma lebih banyak one time buyer, enggak lama bosen. Nah kalau sekarang pun customer udah selektif dan mau digging soal vinyl,” kata Bagus.
 
Buktinya, Bagus menuturkan, pelanggannya tersebar sampai ke penjuru Indonesia. Meskipun hingga saat ini masih didominasi oleh warga Jakarta.
 
“Perkiraanya sekitar 90 persen Jakarta. Sisanya pulau Jawa 1-2 persen, dan Sumatra. Kalimantan. Sulawesi agak jarang,” ucapnya.
 
Meraup Untung dari Piringan Hitam di Tengah Pandemi
(Ilustrasi. Foto: AFP/Kamil Krzaczynski)
 

Ekel, pemilik Moonships Records juga menuturkan pendapatnya soal fenomena meningkatnya penjualan vinyl semasa pandemi virus korona. Rasa bosan berada di rumah membuat sebagian masyarakat Indonesia mulai mengembangkan hobi dan minat baru. Salah satunya mengoleksi pringan hitam.
 
"Karena di rumah terus bosen, jadi pasti balik ke hobi. Melihat-lihat, browsing karena bosen di rumah. Terus ada aja yang pengin dibeli dari hobi yang sebelumnya ditekuni itu. Ditambah dengan THR yang didapatkan, mungkin jadi meledak penjualan vinyl," terang Ekel.
 

Genre City Pop Kembali Digemari
 
Sementara itu, Bagus menuturkan, penjualan vinyl bereda-beda dari waktu ke waktu. Saat ini khusus pada masa pendemi, para pembeli rata-rata memborong vinyl dengan lagu bernuansa city pop Jepang.
 
“Kalau genre untuk selama pandemi ini masih (didominasi) city pop Jepang,” ucapnya.
 
Hal serupa juga terjadi untuk rilisan vinyl dari band legendaris macam The Beatles hingga Pink Floyd masih menjadi rebutan pembeli. Seolah pencinta vinyl pantang jika tidak memiliki koleksi vinyl band-band legendaris tersebut.
 
“Untuk indie dan alternative, psychedelic kurang begitu diminati akhir-akhir ini. Sementara main staple item kayak The Beatles, Queen, Led Zeppelin, Pink Floyd kayaknya enggak akan turun ya,” ucap dia.
 
Sementara itu, vinyl bernuansa lagu alternatif atau yang biasa disebut indie justru mengalami penurunan penjualan semasa pandemi virus korona. Penurunan yang terjadi merosot cukup tajam.
 
“Selain indie, lagu-lagu psychedelic juga kurang diminati akhir-akhir ini,” papar dia.
 

Rilisan Fisik Tak Lekang oleh Waktu
 
Vinyl atau piringan hitam tidak asing bagi pencinta dan penikat musik era 80-90an. Eksistensinya terus bertahan hingga saat ini ketika medium musik berkembang ke arah digital. Penjualan piringan hitam bahkan mengalami pertumbuhan konstan dalam beberapa tahun terakhir.
 
Tahun lalu, Recording Industry Association of America’s (RIAA) vinil menyumbang lebih dari sepertiga dari pendapatan yang berasal dari rilis fisik. Tren ini terus berlanjut dalam laporan tengah tahun yang tercatat bahwa vinyl menghasilkan $ 224.1 juta atau sekitar Rp3,1 triliun untuk pendapatan negara Amerika Serikat.
 
Bagus menuturkan banyak alasan mengapa vinyl tak lekang oleh waktu. Kualitas suara yang dihadirkan menjadi salah satu mengapa masyarkat makin cinta dengan vinyl.
 
“Vinyl menurutku di Indonesia sendiri udah bukan cuma barang novelty aja, tetapi sudah menjadi salah satu bagian dari format musik yang serius di terima pasar, pertama suara bagus,” paparnya.
 
Selain itu, kata Bagus, vinyl juga menjadi barang koleksi yang digemari masyarakat modern. Buktinya, beberapa label lokal ternama pun mulai kembali meramaikan bisnis ini. Musica misal, mereka merilis ulang album dari musisi-musisi populer seperti Chrisye, Guruh Soekarnoputra, Iwan Fals, dan Ebiet G. Ade.
 
“Kayak major label seperti Musica pun mulai nge-press ulang katalog-katalog nya yang dulu, tanda udah makin matengin kembali rilisan fisik khusunya vinlyl,” tutur Bagus.
 
Meski begitu, streaming masih mendominasi industri musik khususnya di era saat ini. Menurut RIAA, layanan streaming menghasilkan 62 persen dari pendapatan industri. Sebab itu, Bagus berharap apresiasi masyarakat terhadap vinyl terus berlangsung seiring perkembangan zaman. Dia juga menginginkan inovasi agar rilisan musik era saat ini bisa dilakukan secara digital sekaligus fisik, salah satunya dengan vinyl.
 
“Harapnnya, semoga platform musik digital bisa saling gandeng sama fisik. Toh udah berpuluh-puluh tahun rilisan fisik masih ada. Kalaupun harus berganti format kedepannya semoga yang terbaik buat musik,” tandas dia.

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif