Setelah 41 Tahun Bersama, Jhonny Iskandar Keluar dari OM PMR
Jhonny Iskandar (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
Jakarta: Istilah “tua-tua keladi, makin tua makin jadi” rasanya tepat disematkan pada grup musik jenaka Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR). Pada usia yang tak lagi muda, mereka tetap menunjukkan semangat berkarya di industri musik. Terbentuk dengan formasi awal sextet, yakni enam orang personel di antaranya Jhonny Madu Mati Kutu, Boedi Padukone, Yuri Mahippal, Imma Maranaan, Ajie Cetti Bahadur Syah, dan Ian Tai Mahal, kini mereka harus berbesar hati merelakan keputusan Johnny hengkang.

Dengan formasi baru, apakah OM PMR bisa bertahan? Rupanya, kendala dari OM PMR tak kunjung menelurkan materi baru salah satunya lantaran kesibukan Jhonny yang saat itu masih terikat kontrak kerap kali memprioritaskan solo kariernya.

Boedi, sang gitaris pun angkat bicara tentang Jhonny yang belakangan menghilang dan tak tampak bersama OM PMR lagi.


“Untuk klarifikasi masalah Johnny dari kemarin-kemarin itu, sebetulnya masalah ini sudah lama sejak Januari (2018). Cuma ini masalahnya bukan masalah yang klise. Dari tahun '77 sampai '86 itu ikut Warkop. Johnny sendiri ikut Warkop dan pernah tidak aktif. Keluar masuk lah. Tahun '88 itu dia menyatakan sendiri,(sebagai) Jhonny Iskandar. Bukan Jhonny Madu Mati Kutu (di PMR),” papar Boedi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, saat peluncuran dua materi lagu terbaru OM PMR, yaitu Engkong dan Temen Gue.

“Berjalan dengan kontraknya, kita tidak bisa mengikuti. Berjalan dengan itu kita ketemu lagi 2013. Masalahnya sama, akhirnya kami memutuskan bahwa Jhonny lebih mementingkan solo kariernya. Kita kan mau berkarya juga,” kata Boedi.

Hitung-menghitung masalah bayaran, Boedi mewakili OM PMR cukup maklum jika Jhonny memilih bersolo karier. Sebab, upah yang diterima dari aksi panggungnya seorang diri jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan harus dibagi dengan personel lain.

“Jhonny itu kalau sekali manggung tuh seratus juta lima belas ribu (rupiah),” ucap Boedi dengan nada berkelakar.

“Kita tuh selalu terbentur, kalau mau latihan, dia enggak bisa. Ya, lebih baik ya monggo lah Jhon. Akhirnya dia berjalan sendiri. Sekarang dia lagi dakwah ke Suriah kali, ya. Gitu lah kira-kira garis besarnya. Jadi dia lebih mementingkan solo karier," kata Boedi diselingi lemparan tawa keci kepada personel lain.


Formasi baru OM PMR tanpa Jhonny Iskandar (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)


Berbicara soal dakwah yang dilontarkan Boedi, Jhonny memang sempat mendirikan Majelis Taklim bersama Almarhum Zainuddin M.Z atau Bang Udin pada era 1970-an. Kala itu, Jhonny baru hijrah ke Jakarta. Sebelum menjadi seniman dan bermusik ria bersama OM PMR, Jhonny dalam Majelis Taklim berperan sebagai pembaca Al-Quran sementara Bang Udin sebagai penceramah. Jhonny dan Bang Udin kemudian berpisah pada 1977.

Indro sebagai salah seorang saksi yang memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan musik OM PMR ikut berkomentar. Menurutnya, sebuah kelompok akan mudah rapuh ketika salah seorang anggota menunjukkan sikap superior atau mudah tersinggung.

“Kalau satu sudah ada yang merasa lebih, tersinggungan, bikin komitmen. Anda mau meneruskan tapi semuanya gini-gini aja, apa Anda mau gimana? Itu saran saya untuk PMR. Mau itu Jhonny kek atau siapa. Saya katakan, sederhanalah, sederhana dalam berpikir. Ketika kita lihat sederhana, kita akan peka. Tetaplah berbudaya,” kata Indro.





Indro memang memiliki andil dan peran penting dalam OM PMR. Hal menarik yang menjadi perhatiannya, kepergian Jhonny di grup OM PMR tak menyurutkan semangat OM PMR bermusik. Sosok Jhonny memang ikonik dan tak tergantikan. Tetapi bukan berarti tanpa Jhonny, OM PMR akan binasa.

Indro justru lebih bangga melihat kehadiran sosok Harri yang pandai memainkan alat musik gendang. “Ini sekarang PMR pakai Harri main gendang bagus banget. Sebetulnya dia bisa main gendang dangdut banget. Bahkan gendang Jawa bisa. Justru dengan kayak gini jadi punya kreativitas.”

Kini, OM PMR memperkenalkan dua lagu terbaru mereka yang dibuat tanpa keterlibatan Jhonny Iskandar. Dua lagu itu berjudul Engkong dan Temen Gue. Lagu Engkong telah dibuatkan video musik dan dipublikasikan melalui akun YouTube sejak Kamis, 10 Mei 2018. Sementara Temen Gue masih dalam tahap final dan siap untuk dirilis dalam waktu dekat.





Sejarah Nama OM PMR

Sebelum nama Orkes Moral Pengantar Minum Racun, keenam penggawa musik dangdut jenaka tersebut tak memiliki nama. Mendiang Dono kemudian memberi usul nama Orkes Moral Kurang Gizi, tetapi tak disetujui.

“Warkop itu induk semang PMR. Warkop yang kasih nama PMR. Sebelumnya (kami) enggak punya nama.  Awalnya (almarhum) Dono bilang, ‘kasih nama saja Orkes Moral Kurang Gizi’. Tetapi yang lain enggak setuju.”

“Kami dibilang kayak orang teler. Jadi ada usul namanya Orkes Moral Irama Teler Pengantar Minum Racun, atau disingkat OM ILER PMR. Soalnya waktu itu ada (orkes) Telerama jadi diplesetin Irama Teler. Pengesahan nama itu ditandai dengan beli nasi padang di Prambors. Dan setiap malam Jumat kami siaran sama Warkop di radio,” papar Jhonny dalam wawancara ekslusif dengan medcom.id tiga tahun lalu.

Kendati kini populer dengan jalur musik  komedi, OM PMR sempat ingin berkiblat ke Gombloh yang sukses menelurkan lagu-lagu nasionalis. Sayangnya, ketika itu mereka belum menemukan formula yang tepat.

Jhonny Iskandar sendiri sebenarnya sudah lama memiliki kiprah sebagai penyanyi dangdut di luar OM PMR.

Jhonny juga sempat membuat album bersama Evie Tamala berjudul Yogya-Bandung (1990) yang dirilis di bawah label rekaman GP Records.

Ke depan, OM PMR masih tetap akan terus bermusik dengan formasi lima personel. Untuk mengisi posisi vokalis menggantikan Jhonny, OM PMR belum berencana mencari vokalis baru. Mereka pun tidak ambil pusing dengan mengajak beberapa musisi untuk berkolaborasi.

“Tetap berlima, ya paling featuring,” pungkas Boedi.




 



(ASA)