Andi Rianto. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
Andi Rianto. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Andi Rianto dan Stigma Musik Orkestra

Hiburan indonesia musik andi rianto
Cecylia Rura • 17 November 2019 11:15
Jakarta: Tampak awet muda dengan simpul senyum, bukan isapan jempol belaka ketika Andi Rianto disebut memiliki tangan dingin di balik karya-karya besar dan musik yang kerap diperdengarkan. Nyaris empat dekade sudah pria kelahiran Sorong, 7 Mei 1972 itu duduk di dapur rekaman untuk musisi ternama sebut saja mulai dari Rita Effendy, Ebiet G. Ade hingga Agnez Mo yang kini sejajar dengan musikus internasional di Amerika Serikat.
 
Andi Rianto menempuh pendidikan Film Scoring di Berklee College of Music, Boston Massachusetts, Amerika Serikat. Dapat dikatakan Andi Rianto adalah satu dari sekian musikus Indonesia yang memang menempuh jalur akademi menekuni musik. Semasa kecil, Andi Rianto sudah bertekad ingin menjadi pembuat musik untuk film.
 
"Awalnya karena pertama kali waktu kecil saya nonton film, suka amaze sama musiknya karena khusus dibuat untuk film, sedemikian rumit dan elaborate cuma buat film. Pertama kali seperti The Sound of Music (1965) terus ingin melihat film lainnya," ungkap Andi Rianto ditemui Medcom.id di Jakarta Pusat.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Film lain yang meyakinkan Andi Rianto untuk menempuh pendidikan Film Scoring adalah E.T. the External Terrestrial (1982). Bagi Andi, John Williams yang saat itu memegang peran sebagai penata musik membuatnya semakin bergairah memelajari Film Scoring.
 
"Benar-benar salah satu film yang membuat saya kepingin jadi film scoring. Dari kecil saya ditanya, nanti mau sekolah apa? Saya mau sekolah musik untuk film di luar negeri. Dari kecil umur 5 saya sudah tahu jawabannya," jelas Andi Rianto.
 
E.T. the External Terrestrial adalah film science-ficition yang dikerjakan sutradara Steven Spielberg, dibintangi Drew Barrymore, Henry Thomas, dan Robert MacNaughton. Film ini dicatat sebagai debut karier Drew Barrymore sebagai aktor cilik.
 
Kebangkitan perfilman Indonesia yang sempat mengalami mati suri pada era 90-an juga ikut dirayakan Andi Rianto. Ketika film-film Indonesia mulai berjaya di tanah sendiri, Andi Rianto mengerjakan musik untuk sinetron 90-an. Untuk proyek film komersial perdana melalui Cau Bau Kan (2002) yang diangkat dari buku karya Remy Sylado oleh Nia Dinata. Mereka bertemu ketika sama-sama menempuh studi di Negeri Paman Sam.
 
"Waktu itu kebetulan pas saya balik (selesai studi) film Indonesia lagi mati suri. Akhirnya saya nyemplung ke sinetron dulu kayak Bidadari, Panji Milenium, Kemuning. Kemudian akhirnya saya ketemu Nia Dinata, waktu itu kita pernah ketemu waktu saya dan dia masih sekolah di Amerika. Kita ketemu, 'Nanti aku buat film (kamu) buat musiknya, ya'. Akhirnya kita buat Cau Bau Kan (2002), dilanjutkan film Arisan (2003). Dari situ saya mulai banyak film-film lain dengan sutradara lain," cerita Andi Rianto.
 
Andi Rianto dan Stigma Musik Orkestra
Andi Rianto (Foto: Instagram Andi Rianto)
 
Bicara soal film scoring atau musik pengiring dalam adegan film, Andi Rianto menjelaskan esensi penting dari peran scoring film. Baginya, film itu tanpa nyawa ketika tak disertai dengan musik.
 
"Kalau untuk sebuah film of course itu jiwanya, soul of the movie, actually is the score. Jadi memang bagian tak terpisahkan untuk men-support penyampaian cerita. Film itu mau menceritakan apa, message-nya apa? Film scoring sangat berperan," terangnya.
 
Mengerjakan film scoring bukan berarti Andi Rianto meninggalkan panggung musik. Magenta Orchestra didirikan Andi Rianto bersama Indra U Bakrie dan Supartono. Panggung perdana mereka bertajuk The Sound of Colors digelar di Plenary Hall, Jakarta Convention Center pada 2004. Dalam catatan biografi, Magenta Orchestra meraih MURI sebagai pagelaran dengan jumlah penampil terbanyak.
 
Musik Orkestra Jadi Selera Rakyat
 
Andi Rianto mengemban misi khusus ketika menyuarakan musik orkestra. Dia ingin mematahkan stigma tentang musik orkestra yang hanya didengarkan oleh orang "di atas rata-rata". Dia ingin membuat musik orkestra terdengar easy listening di telinga masyarakat Indonesia.
 
"Waktu itu, ada sebuah pertunjukan orkestra saya ajak teman-teman saya. Ini simpel banget, dibilang, 'malas, ah, kalau rock band gue mau'. Saat ditanya kenapa, dia bilang enggak ngerti. 'Gua enggak suka klasik'. Padahal sebetulnya ada juga klasik yang lite classic," kata Andi.
 
Penikmat musik Indonesia lebih akrab dengan musik-musik pop. Andi pun mengamini hal itu dan meyakinkan musik orkestra hanya perkara kemasan. Dia yakin musik pop mainstream sekalipun bisa didengarkan asyik ketika dibawakan secara orkestra.
 
"Saya yakin saja mau buat orkestra bukan yang klasik, karena yang klasik sudah ada, etnik sudah ada mungkin. Akhirnya saya buat yang pop," katanya.
 
"Misalkan orkestra memainkan lagu itu dengan dangdut tapi dengan instrumen dari sebuah simfoni orkestra bisa juga. Jadi sebetulnya kemasannya yang harus kita pikirkan sedemikian rupa biar nempel di telinga dan enggak berat," jelas komposer musik yang kini sudah menggarap film scpring untuk sekitar 70 judul film.
 
Ragam genre musik memberi pilihan bagi penikmat musik. Musik orkestra, menurut Andi Rianto adalah salah satu opsi dan bukan sebagai panjat sosial atau pembeda strata di bidang musik. Hanya perkara selera dan pergantian zaman.
 
"Buat saya jangan ngomong naik tingkat. Kalau kita enggak suka kenapa kita dipaksa? Kalau kita sekarang buat konser di YouTube, kalau dulu TV, misalnya ada yang menggunakan musik orkestra apapun buat saya itu baik karena penonton Indonesia dikasih pilihan lagi," kata Andi Rianto.
 
"Lagu apapun ternyata kalau dimainkan sama orkestra asyik juga. Ternyata bisa, orkestra enggak berat malah lebih asyik, megah. Buat saya selama kita mendapatkan pilihan dan penonton tetap menyukainya kenapa enggak," sambungnya.
 
Andi Rianto dan Stigma Musik Orkestra
Andi Rianto (Foto: Instagram Andi Rianto)
 
Tahun ini, Andi Rianto pun masih disibukkan dengan sejumlah proyek film scoring seperti film anak DoReMi and You, 99 Nama Cinta, Ambu, dan Mahasiswa Baru. Selama berkarier, Andi Rianto sangat menggemari karya musik untuk anak. Namun, dia pun tak melupakan karya debutnya mengerjakan musik yang saat itu dipopulerkan Titi DJ.
 
"Kalau membekas saya bisa bilang Bahasa Kalbu karena itu pertama kali saya buat musik Indonesia. Kalau di film Mengejar Matahari, banyak lagi," kata Andi Rianto.
 
Andi Rianto merayakan 15 tahun karier bermusik dalam tajuk Konser MOXV bersama Magenta Orchestra. Sekitar 65 musisi digandeng mengusung tema Jawa dibantu art director Jay Subiakto. Panggung perayaan itu diselenggarakan di Jakarta International Velodrome, Sabtu, 23 November 2019. Sebelumnya, Andi Rianto menggelar perayaan 10 tahun berkarier dalam Konser Magenta Orchestra 10 Tahun (MOX) pada 2014. Saat itu, Jay Subiakto juga yang menangani artistik panggung.
 
Andi Rianto tak pernah melakukan ritual khusus untuk mendapatkan inspirasi dalam bermusik. Dia mengikuti zaman dengan bermain gawai di waktu senggang. Andi juga tetap menjaga menjaga solidaritas serta kekompakan bersama Magenta Orchestra untuk menjaga konsistensi bermusik selama 15 tahun.
 
"Karena saya profesional. Buat saya kalau sudah profesional mood itu harus diadain, jangan bilang enggak ada, enggak bisa, enggak ada mood. Kamu harus bekerja untuk musik, mood harus ada dong, bukan sidejob, kan musisi," pungkas Andi Rianto.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif