Konser Sore bertajuk Oye, Adelante! yang digelar di Studio Palem, Jakarta Selatan, pada Minggu, 22 Desember 2019 (Foto: Medcom/Shindu)
Konser Sore bertajuk Oye, Adelante! yang digelar di Studio Palem, Jakarta Selatan, pada Minggu, 22 Desember 2019 (Foto: Medcom/Shindu)

Menikmati Sore Tak Pernah Seresah Ini

Hiburan sore Musik Indie
Agustinus Shindu Alpito • 24 Desember 2019 08:00
Jika menyaksikan penampilan-penampilan Sore sebelumnya saya berangkat dengan pikiran akan bernyanyi sepanjang konser, tidak demikian pada hari itu, Minggu, 22 Desember 2019. Entah siapa yang memulai, kabar mundurnya gitaris Sore, Reza Dwiputranto, menyeruak di media sosial. Hal itu yang membuat perasaan resah timbul-tenggelam menghadapi konser bertajuk Oye, Aledante!
 
Sejatinya, ini bagian dari pesta perilisan album baru Sore, Mevrouw. Sore mengajak sejumlah nama besar untuk berkolaborasi dalam konser ini. Mulai dari Andi Rianto, Joko Anwar, Iga Massardi, Indra Aziz, penyanyi asal Malaysia Noh Salleh, hingga musisi generasi muda Sal Priadi, dan Bilal Indrajaya.
 
Ramainya nama yang terlibat dibarengi dengan set list sebanyak 27 lagu. Sebelum konser dimulai, saya sempat mengintip daftar lagu yang akan dibawakan."Malam yang sempurna, andai duka tak bercokol di baliknya," batin saya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Menikmati Sore Tak Pernah Seresah Ini
Ade Paloh, vokalis Sore (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
 

Ini adalah panggung yang berat bagi Sore dan siapapun yang telanjur jatuh hati pada band ini. Ade Paloh baru saja mengalami peristiwa duka. Empat hari sebelum konser, ayahanda Ade, Rusli Paloh, meninggal dunia. Pada konser itu, Ade mempersembahkan lagu Come by Sanjurouuntuk almarhum sang ayah.
 
Konser dibuka dengan lagu Bebas dari album Centralismo (2005), berturut-turut kemudian, Ernestito, dan Merintih Perih. Dua lagu itu diambil dari album Ports of Lima (2008).
 
Nyaris seluruh lagu dari album Ports of Lima dan Centralismo dibawakan. Sayang, Sore sama sekali tidak membawakan lagu-lagu dari album Los Skut Leboys (2015).
 
"Enggak ada intensi (untuk sengaja tidak membawakan materi dari Los Skut Leboys), mungkin ke-skip juga," kata vokalis Ade Paloh ketika saya konfirmasi usai tampil.
 
Sulit menikmati penampilan Sore malam itu secara lepas. Setiap pandangan mengarah ke bagian kiri panggung, sosok Echa yang tenang memainkan gitarnya membuat benak berkelana soal kabar tentang keputusannya mundur. Echa tak memberikan konfirmasi apapun di atas panggung sepanjang konser. Begitu juga dengan para personel Sore yang lain. Hal itu bisa dimaklumi, dan menurut saya itu adalah sebuah cara yang sangat dewasa menyikapi apa yang terjadi pada band yang sudah berdiri lebih dari satu dekade itu.
 

Kontradiksi
 
Mevrouw adalah "bayi" yang lahir dalam suasana berkabung band ini. Merayakan kelahirannya di tengah suasana duka tentu bukan pilihan, tetapi menyambutnya sebagai sebuah penanda zaman bagi Sore adalah hal yang bijak.
 
Usai konser, Ade juga mengatakan hal itu. Perayaan Mevrouw dalam tajuk Oye, Adelante! dianggapnya sebagai sebuah kontradiksi, lebih tajam dia menyebutnya ironi.
 
"Ini kontradiktif (dengan melihat tajuk konser, dan apa yang sedang terjadi pada tubuh Sore), ironi. Arti 'Oye, Aledante!' adalah 'go ahead.' Terus saja walau ada atau enggak ada," kata Ade.
 
Lebih lanjut Ade mengatakan bahwa dirinya ke depan dalam kemungkinan untuk tidak tampil lagi di atas panggung. Namun, itu bukan berarti dirinya berhenti bermusik.
 
"Gue bakal merilis (karya musik), tapi enggak bakal manggung. Yang penting berkarya, gue rilis (lewat) Spotify."
 
Pernyataan Ade tentu bisa dimaknai bermacam-macam. Bagi saya yang mendengarkan Sore sejak duduk di bangku SMA, berat rasanya untuk mengurai makna dari apa yang dikatakan Ade.
 
Ade sempat berbagi cerita tentang salah satu materi dalam album Mevrouw, yaitu Berendam Bintang. Bagi yang mengikuti karya-karya Ade, baik bersama Sore atau Marsh Kids, tentu akrab dengan bagaimana ia memaknai kepedihan sebagai sebuah titik penting dalam merayakan hidup. Hal itu juga yang Ade sampaikan pada Berendam Bintang.
 
"Berendam Bintang tentang happines itu cuma ilusi. Bahkan nestapa itu adalah kebahagiaan yang sebenarnya," ujar Ade disusul dengan menirukan penggalan lirik lagu itu yang berbunyi, "Memberi nestapa di samping ratapan 'Inikah surga di dunia?'"
 

Keputusan Echa
 
Sekitar 30 menit sebelum mewawancarai Ade, saya lebih dulu mewawancarai Echa. Suasana Studio Palem, lokasi konser, sangat ramai. Penggemar dan kerabat silih berganti mendatangi para personel Sore, sehingga cukup sulit untuk mewawancarai keempat personel bersama-sama.
 

Menikmati Sore Tak Pernah Seresah Ini
Reza Dwiputranto dalam konser Oye. Adelante! (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
 

Dalam wawancara singkat itu, Echa memberi konfirmasi terkait kabar yang berhembus.
 
"Gue 31 Desember 2019 terakhir di Sore. Bukan suatu hal yang besar. Kayak gini, orang lagi hobi dan bosan dari hobinya."
 
"Gue kenal (para personel Sore) dari SMP, cuma waktu SMP enggak main, pas kuliah satu kampus sama Awan, terus baru main (band). Semua enggak ada yang abadi. Gue bosan, jenuh, kalau yang lain masih semangat tapi gue enggak berapi-api, kasihan yang lain," kata Echa.
 
Saya mencoba menguasai diri mendengar jawaban itu. Mencoba tenang dengan melempar pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Secara personal, saya dekat dengan karya Echa. Saya pernah menulis penggalan lirikAku(lagu yang ditulis Echa untuk album Centralismo) di tembok kamar, pada masa kuliah. Lagu Merintih Perih dan Layu pun jadi lagu andalan ketika awal-awal memutar Ports of Lima.
 
Echa punya pola penulisan lirik yang menarik. Semua lagu karya Echa pada dua album pertama Sore sangat reflektif. Echa menggunakan sudut pandang orang pertama dalam menyelami konflik batin. Lagu Cermin yang terdapat dalam Centralismo misal, "Diri, Biarkan karma berbicara, tak heran dirimu terisak." atau penggalan lagu Keangkuhanku yang juga berasal dari album Centralismo, "Oh diriku, terlalu larut dalam keangkuhan. Setiap detik terus melingkari aku, rasuki jiwa dan juga ragaku ini." Lirik-lirik tersebut cenderung mengajak untuk menyelami dan mengakui sisi kelam diri.
 
"Tanpa dia, bukan sesuatu yang gampang," kata Ade menanggapi keputusan Echa.
 
27 lagu berlalu sudah. No Fruits for Today dipilih sebagai penutup. Saya pulang dengan perasaan yang janggal. Sempat juga berpikir, apakah mereka sengaja memakai "angka keramat" 27 untuk jumlah lagu dalam konser ini? Ah, Sore selalu berhasil menyisakan misteri-misteri yang menarik untuk diselami.

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif