Sebuah Upaya Menyejahterakan Musisi di Usia Senja
Triawan Munaf (Foto: dok. bekraf)
Jakarta: Pada Oktober 2017, Yockie Suryoprayogo harus terbaring di rumah sakit. Kondisi kesehatan musikus legendaris itu tak lagi prima seperti dulu. Rekan Yockie sesama musisi dan jurnalis musik seperti Adib Hidayat dan Denny MR menginisiasi acara amal untuk membantu pengobatan musisi legendaris itu.

Dari konser malam itu terkumpul dana sejumlah Rp514 juta. Melalui laman KitaBisa.com Adib melaporkan setidaknya dana yang terkumpul total menjadi Rp520 juta, dana yang terbilang sudah cukup untuk bisa membantu Yockie agar dapat kembali pulih dari sakit di usia senjanya.

Jauh sebelum Yockie, personel Koes Plus, Yon Koeswoyo semasa hidupnya pernah mengalami fase yang sama. Yon kesulitan membayar pengobatan karena tidak lagi memiliki penghasilan. Meski keduanya tidak mengharapkan belas kasihan, para penggemar dan sahabat tetap sukarela memberikan bantuan. Selain Yockie dan Yon, tentu masih banyak musisi senior yang harus kesulitan ekonomi di masa tuanya.


Berkaca dari kondisi yang sempat dialami Yon dan Yockie, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf tengah mempersiapkan suatu sistem baru yang akan memenuni kesejahteraan para musisi senior.

"Kami sedang mempersiapkan sebuah sistem. Kesejahteraan mereka (musisi) yang harus diperhatikan karena ada masa sudah tua, dan sakit. Nah, kenapa belum bisa terpenuhi kesejahteraan mereka? Karena sistemnya belum ada, kita sedang men-develop sistem itu dengan beberapa musisi yang tahu IT dan lain-lain, sehingga hasil ciptaan itu, begitu dipakai akan mengalirkan income buat mereka yang akan dinikmati tiap bulan, bisa menjadi gaji mereka," ujar Triawan saat menyambangi kediaman Yon Koeswoyo di Pamulang, belum lama ini.

Ayah dari musisi Sherina itu sebenarnya telah memperjuangkan masalah hak cipta karya musisi sejak April 2016 lalu. Bekraf sempat mengumumkan satu perangkat yakni Telinga Musik Indonesia (TELMI) untuk mendukung karya kreatif musisi indonesia. Namun, hingga kini gaungnya semakin redup dan tak lagi didengungkan.

Isu hangat soal kesejahteraan musisi di masa tua kemudian semakin menarik perhatian badan pemerintahan yang terbilang baru tersebut. Menurut Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual dan Regulasi, Ari Juliano Gema, soal royalti maupun insentif untuk para musisi kini tengah dikaji.

"Jadi sebenarnya, sistem royalti sekarang sudah ada. Karena ada Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang mengumpulkan royalti dari para pengguna musik seperti hotel, restoran, kafe, dan segala macam untuk dikumpulkan, dikelola dan dikembalikan kepada musisi yang menciptakan atau yang menyanyikan. Itu royalti bentuknya."

"Kami harapkan dari situ, Bekraf mencoba membantu supaya LMK ini bisa bekerja efektif. Jadi royalti yang dikumpulkan akan lebih besar. Sehingga bisa dikembalikan lebih besar juga kepada para musisi, enggak satu juta per tahun kayak yang diterima Pak Eros (Djarot), harus lebih besar lagi harusnya, kalau pengumpulannya lebih baik. Nah, itu royalti untuk kesejahteraan para musisi," papar Ari saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.


Ari Juliano (Foto: medcom/cecylia)

Dikatakan Ari, telah ditetapkan skema khusus untuk regulasi yang memberikan apreasiasi terhadap para musisi yang sudah terbukti kontribusinya.

"Tapi di sisi lain, kami juga sedang membuat satu skema bagaimana bisa memberikan apresiasi juga kepada musisi yang memang dalam hal ini sudah terbukti kontribusinya, kreatifitasnya, maupun kreasinya baik di tingkat nasional maupun internasional, yang senior, seperti kita berikan apresiasi kepada veteran misalnya, atau pejuang-pejuang olahraga. Selama ini belum ada untuk budaya atau musisi, kami sedang coba buat skemanya. Sehingga nanti bentuknya bisa award, bantuan, atau insentif, seperti itu yang bisa kita pemerintah berikan, melalui Bekraf," lanjut Ari.

Kriteria khusus pun telah diterapkan untuk program yang akan dibuat. Seperti, musisi senior yang karyanya sudah banyak dinikmati publik dan mendapat penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional.

"Untuk penentuan, kami akan membuat satu tim juri. Seperti halnya untuk menentukan pahlawan, insentif kepada veteran, seperti para pejuang olahraga itu kan ada tim jurinya. Ada tim seleksinya, pasti akan kita lakukan," kata Ari.

Strata musisi nanti tak akan disejajarkan dengan para veteran pahlawan Indonesia. Namun, akan ada kategori khusus yang menampungnya.

"Saya hanya mencoba mencontohkan saja, bahwa pemerintah sebenarnya sudah memberikan apresiasi kepada banyak kalangan. Cuma dalam satu segi ini, musisi dalam hal ini tampaknya belum untuk apresiasi itu (untuk musisi), makanya kita mau buat skemanya. Apakah itu akan sama dengan model yang diberikan kepada veteran, kita terus terang masih belum tahu karena masih mencari skema yang tepat."

Ari menjelaskan, untuk saat ini regulasi terkait tentang royalti maupun insentif akan dikelola di bawah payung pemerintahan Bekraf seutuhnya, belum pada deputi khusus. "Ini Bekraf keseluruhan. Kami diminta semua deputi untuk bekerjasama. Tentang keluarnya dari mana kita pinginnya dari Bekraf secara keseluruhan. Belum dinaungi satu deputi khusus."

Regulasi memang sudah seharusnya diberlakukan sejak dulu. Terlebih kini, era digitalisasi semakin serampangan memenuhi keinginan para penikmat musik.

Musisi Indonesia ingin sejahtera, bukan berarti mereka miskin harta. Belakangan di awal bulan, di awal tahun, banyak musisi lantang menyuarakan kesejahteraan di masa tua. Mereka yang dulunya berkarya, bermain musik dengan pondasi idealisme tinggi dan perasaan 'asal senang' kini mulai memerhatikan apa itu loyalitas dan hasil jerih payah keringat.

Musisi Glenn Fredly pun mengakui dunia musik begitu keras dan harus memiliki dinamika yang bergerak. Menurutnya, musisi bisa sejahtera asalkan ekosistem musik ini terus digerakkan.

"Akhirnya kita bicara soal pengelolaan, kan. Bagaimana, ini semua kan berangkat dari satu lagu. Sebuah lagu yang dimonetasi, dikelola. Akhirnya kita bicara apa? Intelectual Properties (kekayaan intelektual). Musisi, kita enggak bisa hidup? Bisa. Sejahtera? Bisa. Untuk pencipta lagu? Bisa. Arranger musik? Bisa. Engineer, kru? Bisa," kata Glenn Fredly di kawasan Kemang.


Glenn Fredly (Foto: medcom/cecylia)

Lewat momentum ini Glenn optimis pilar musik di Indonesia dapat ikut dipertimbangkan, terlebih jika itu harus menjadi penyumbang ekonomi untuk negara.

"Kepedulian saya di situ, saya ada di generasi peralihan. Dan menurut saya ini harus jadi titik. Enggak boleh lagi musisi sakit, urunan."

"Ya, mudah-mudahan dengan peristiwa Yon dan Yockie ini menjadi titik balik. Intinya, ini harus jadi pesan penting untuk ekosistem musik, sekaligus kritik juga buat ekosistem musik Indonesia. Maksudnya, kita selama ini selalu jalan sendiri-sendiri. Ini juga harus dilihat sebagai bagian dari ekosistem musik, sektor pribadi, pemerintah juga. Ini harus berjalan bersamaan, baru industri musik bisa berjalan dengan baik," pungkas Glenn.

 



(ELG)