NEWSTICKER
 Iksan Skuter di Kios Ojo Keos, Jakarta Selatan, Selasa, 25 Februari 2020. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
Iksan Skuter di Kios Ojo Keos, Jakarta Selatan, Selasa, 25 Februari 2020. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Iksan Skuter: Memulai Setelah Gagal

Hiburan indonesia musik Iksan Skuter
Cecylia Rura • 07 Maret 2020 09:00
Tak banyak yang mengenal Putih Band meski lagu mereka, Sampai Mati pernah berdengung secara komersil saat musik pop melayu Indonesia tengah segar-segarnya. Bahkan nama vokalis yang umumnya mentereng duluan kini pudar.
 
Iksan Skuter, begitu dia disebut kini sebagai musisi setelah memperkuat instrumen gitar untuk Putih Band. Iksan Skuter menunjukkan taringnya bermusik setelah gagal komersil alias jengah dengan segala aturannya.
 
"Waktu aku masih di label 2005-2010, meskipun aku di satu sisi sebagai musisi harus menuruti sistem industri, pasar, di sisi lain aku punya pemberontakan membuat lagu sudah lama. Hanya untuk mengungkapkan saja agar tidak jomplang dengan berkesenian itu sendiri," cerita Iksan Skuter dalam promosi buku Bingung di Kios Ojo Keos, Jakarta Selatan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Setelah habis masa kontrak dengan label dan lepas dari Putih Band, Iksan Skuter sempat ingin membuat sebuah band. Dua tahun kira-kira niat itu pun diurungkan karena tak menemukan personel yang sefrekuensi. Dia pun memutuskan untuk bersolo karier pada 2012.
 
"Prosesnya dua tahunan. Enggak ketemu, daripada aku nganggur terpaksa jadi penyanyi aja. Jadi kalau suaraku enggak enak, maaf," kata Iksan Skuter dalam malam penuh canda.
 
Iksan Skuter banyak bicara tentang alam dan kehidupan sosial. Jauh berbeda ketika dia menulis lirik lagu untuk Putih Band. Judul-judul berani seperti Partai Anjing, hingga lagu berlirik dalam Rindu Sahabat, Bapak, Pulang, Doakan Ayah, hingga lagu Bingung sekalipun. Sebagai musisi dia menganggap dirinya seniman ketika berada di atas panggung.
 
"Dunia artis hanya di panggung. Setelah turun panggung kita jadi manusia biasa. Umumnya orang biasa membaur," kata Iksan Skuter.
 
Iksan Skuter: Memulai Setelah Gagal
 
Iksan Skuter sebagai Musisi, sebagai Bapak
 
Tak jarang ketika bermusik solo, lirik-lirik Iksan Skuter bermuatan kalimat-kalimat kasar. Ya, untuk musisi itu adalah ungkapan ekspresi mereka. Berganti status menjadi seorang bapak, Iksan Skuter menyadari ada yang perlu ditahan demi masa depan anaknya.
 
"Ketika punya anak aku makin takut bikin lirik. Aku membayangkan suatu hari anakku akan menjadi lelaki yang besar, dewasa punya teman dan ditanya temannya. 'Bapakmu kerja apa? Iksan Skuter yang liriknya anj***-anj*** itu, ya?" ceritanya.
 
"Nanti anakku malu. Aku harus tetap menyampaikan apa yang perlu disampaikan dengan rasa yang lain. Dulunya sikat ae, Bro," jelas musisi asal Malang tersebut.
 
Sebagai seorang bapak terhadap anaknya, Iksan Skuter tak berbicara banyak soal bagaimana menyelamatkan dunia. Dia ingin bagaimana anaknya kelak bisa merasakan apa yang pernah dia rasakan semasa kecil.
 
"Aku punya satu harapan. Aku ingin anakku merasakan apa yang aku rasakan ketika aku masih kecil. Main lumpur, dia harus meraska main di sawah. Ada kegelisahan sawah masih enggak ada, aku pingin anakku merasakan main buaya buayaan. Sekarang itu makin enggak ada," kata Iksan Skuter.
 
Iksan Skuter: Memulai Setelah Gagal
 
Perlahan Lebih Jernih Melihat
 
Dalam membuat lirik lagu, Iksan Skuter yang sekarang banyak mendapat inspirasi saat berkendara dengan sepeda motor 90 cc. Itu membuatnya banyak merenung.
 
"Karena di jalan bagiku inspirasi. Aku banyak melihat," katanya.
 
Kendati lagu-lagunya pun memperdengarkan suara-suara keadilan, dia enggan disebut sebagai aktivis. Dia lebih senang dikenal sebagai musisi dengan karyanya yang sekarang.
 
"Aku aktivis keluarga. Aktivitas ke keluarga," kata Iksan.
 
Perjalanan Iksan Skuter bermusik pun terangkum dalam sebuah buku berjudul Bingung. Buku ini diterbitkan oleh Warning Books, kira-kira tahun 2013 Iksan Skuter berkunjung ke Yogyakarta untuk memulai ceritanya menulis buku.
 
Meski begitu, perilisan buku perdananya ini bukanlah sebuah perayaan. Bermusik menerbitkan album adalah puncak berkesenian masih menjadi perayaan bagi Iksan Skuter.
 
"Bagi saya ini bukan sekadar buku tapi bentuk pendokumentasian," kata Iksan.
 
"Perayaan untukku ketika aku merilis album dan aku enggak pernah merilis album dengan launching megah," kata Iksan Skuter.
 


 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif