Band yang beranggotakan Cholil Mahmud, Akbar Bagus Sudibyo, Poppie Airil, dan Reza Ryan ini memulai penampilan mereka sekitar pukul 15.30 WIB.
Penghormatan bagi Aktivis HAM
Efek Rumah Kaca membuka penampilan mereka dengan membawakan lagu "Di Udara" di tengah kerumunan penonton. Lagu ini dihadirkan sebagai bentuk penghormatan, perlawanan, serta simbol bahwa semangat perjuangan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib tidak akan pernah mati.Suasana penampilan semakin sarat makna ketika sejumlah penonton mengenakan topeng berwajah Munir dan Marsinah, tokoh penting lainnya dalam sejarah perjuangan HAM di Indonesia.
Baca Juga :
Rekomendasi Penampil Synchronize Fest 2026 Hari Pertama: Reuni Geisha dengan Momo hingga Punk Sedjak Dini
Doa untuk Korban Karhutla
Di sela pertunjukan, vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, mengajak para pengunjung Synchronize Fest 2026 untuk mendoakan korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla)."Kita perlu juga mendoakan yang (terkena) dampak dari pembakaran hutan," ujar Cholil Mahmud di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Kritik Sosial di Atas Panggung
Efek Rumah Kaca melanjutkan penampilannya dengan lagu "Mosi Tidak Percaya." Lagu yang dirilis pada 2008 ini merupakan ekspresi kekecewaan, kemarahan, dan kritik sosial masyarakat terhadap politisi maupun pejabat yang dinilai sering mengingkari janji kampanye.Setelah membawakan lagu tersebut, ruang pertunjukan di depan Forest Stage diambil alih oleh aksi seni dari Jakarta 32 dan KontraS.
Baca Juga :
Aksi Simbolis di Pembukaan Synchronize Fest 2026: Ada Munir-Marsinah hingga Bendera Palestina
Sederet Lagu Hits dan Penutup
Tak lama berselang, Efek Rumah Kaca kembali muncul di Forest Stage dan disambut antusias oleh para penonton yang telah menunggu.Mereka membawakan sederet lagu andalan, mulai dari "Putih," "Matilah Kau Mati," "Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa," hingga "Balerina." Sepanjang pertunjukan, para penonton bernyanyi secara ekspresif bersama Cholil Mahmud.
Sebagai penutup, Efek Rumah Kaca membawakan lagu "Cinta Melulu." Lagu ini menjadi bentuk kritik terhadap industri musik Indonesia yang sempat didominasi oleh lagu-lagu bertema percintaan.