Bilal Indrajaya (Foto: dok. Bilal Indrajaya)
Bilal Indrajaya (Foto: dok. Bilal Indrajaya)

Bilal Indrajaya dan Surabaya yang Memanggil Jiwa

Agustinus Shindu Alpito • 06 Oktober 2022 17:45
Satu tahun terakhir nama Bilal Indrajaya acap ditemui dalam daftar penampil berbagai festival musik. Beberapa waktu lalu, namanya juga muncul sebagai roster dalam kelahiran kembali label ikonik Aksara Records. Bilal bersama Ardhito Pramono, dan Kurosuke membawa wajah baru Aksara Records. Kerja sama antara Bilal dan Aksara ditandai dengan perilisan single "Saujana", pada Agustus 2022.
 
Mundur ke belakang, Bilal bukanlah bintang baru yang lahir karena "ketidaksengajaan" algoritma atau keberuntungan di luar nalar seperti artis-artis temporer media sosial. Bilal sempat masuk ke dalam manajemen artis di bawah naungan stasiun televisi Net. Kemudian, dirinya memutuskan melanjutkan karier secara independen sebelum akhirnya berlabuh pada Aksara Records. 
 
Secara musikalitas, Bilal punya karakter kuat menulis lagu-lagu berbahasa Indonesia dengan pemilihan diksi yang terdengar klasik, puitis, dan flamboyan. Kekuatan lirik itu dipadu dengan aransemen musik pop yang membangkitkan memori musik-musik Indonesia era 1970-an hingga 1980-an. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tak lama setelah Bilal merilis "Saujana," Medcom.id mendapat kesempatan melakukan wawancara eksklusif. Bilal menceritakan sekilas perjalanan kariernya, juga hal-hal yang menggelayut di hatinya. Salah satu cerita menarik yang diungkapkan Bilal adalah hubungan batinnya dengan kota Surabaya. Bilal tidak pernah tinggal di Surabaya, juga tak punya latar belakang kehidupan dengan kota itu, tetapi entah mengapa Surabaya selalu bergema dalam jiwanya.
 

 

Bagaimana Bilal melihat karakter musik yang dibawakan?
 
Banyak yang tanya Bilal musiknya apa. Gue sendiri bingung mendefinisikan, karena gue enggak terlalu paham apa, yang gue paham ya pop saja. Tapi, pop itu kan banyak. Kemarin ada banyak yang gue baca tentang single gue, pop kreatif. Emang kreatif ya? Ha-ha-ha.
 
Setelah bergabung dengan Aksara Records apakah tetap berpegang pada identitas musik Bilal atau ada eksplorasi lain?
 
Gue sebagai songwriter lebih bisa bilang identitas gue bukan di bunyi-bunyiannya. Tetapi, cara gue menulis lagunya. Meski gue enggak terlalu tahu cara yang paling tepat untuk mendeskripsikan, tapi cara gue bikin, naluri, lirik, cukup distinct, meski gue enggak jamin bisa mendeskripsikan dengan benar dan baik. 
 
Bagaimana proses kreatif penulisan lagu-lagu Bilal?
 
Banyak lagu-lagu gue menetap di kepala, gue gaptek, bahkan enggak gue rekam di voice note. "Niscaya" itu lagu yang bertahan lama di kepala. Selama bertahun-tahun enggak tahu mau di-produce sama siapa. Gue ada produser lama Vega Antares, tetapi entah kenapa gue enggak ngerasa lagu itu cocok dengan dia.
 
Menurut gue "Niscaya" itu treatment-nya bukan Beatles, tetapi Maliq & D'Essentials. Sampai akhirnya ada kesempatan kerjasama dengan Lale, Ilman, Nino. Itu membuka pintu di hati gue untuk bisa dengar lagu-lagu yang enggak gue dengar sebelumnya. Titik balik dalam memperkaya wawasan musikal gue.
 
Lebih detailnya soal proses kreatif?
 
Cukup random gue orangnya, bisa tiba-tiba muncul di kepala. Kalau mood rekam gue terusin voice note, kalau enggak disimpen di kepala aja. Gue biasanya dari notasi dulu, baru kord, baru lirik, judul belakangan pas rekaman.
 
Mostly, momen dapat inspirasi pas lagi BAB sambil bengong, atau gue lagi di Gojek lagi bengong gue suka tiba-tiba kepikiran. Random aja. 
 
Bilal Indrajaya dan Surabaya yang Memanggil Jiwa
 
Mundur ke belakang, bagaimana awal mula Bila memutuskan terjun ke industri musik?
 
Dulu gue ngantor sebelum lulus kuliah bahkan, usia 20. Kuliah psikologi. Bukan hal keren sih, gue magang di kantor bokap gue. Orang dalem, ha-ha-ha. Semua berjalan dengan baik, kuliah, dapat uang jajan, digaji. makmur. Dari dulu punya ketertarikan yang besar terhadap musik. gue enggak tahu memulai secara profesional bagaimana. Sampai akhirnya ditelfon label dan ditawarin jadi roster mereka, sama Net TV. Gue tergiur, rupanya sejak nekat banting stir di musik jalannya ada saja.
 
Awalnya sempat bingung di musik. Gue join akhir tahun 2017, umur gue belum 22 waktu itu. singkat cerita gue join dengan label itu dan gaspol.
 
Soal tema lagu, apa hal-hal yang menginspirasi Bilal dan hal yang paling sering Bilal ingin ungkapkan dalam karya?
 
Gue bahkan enggak tahu artinya apa, inspirasinya dari musik-musik yang gue dengar, kehidupan dengan segala nelangsanya. Gue enggak tahu by default kalau bikin lagu jadinya sedih, melankolis. Gue sudah mati rasa, dead inside. 
 
Berarti secara umum lagu-lagu cinta?
 
Lagu cinta, mungkin dulu gamblang, tetapi semakin ke sini enggak melulu meromantisasi kesedihan. Sekarang tulis lagu ya sudah tulis aja. Lagu yang sedih tapi dikemas enggak dengan sendu.
 
Siapa penulis lagu yang paling Bilal kagumi?
 
(Band) Sore gue doyan banget, dari segi songwriter di indonesia gue look up to ke dua orang, Ade Paloh dan Ahmad Dhani.
 
Soal gaya penulisan lirik, apakah Bilal terpengaruh dari buku-buku yang dibaca?
 
Gue suka baca, cuma gue bukan penulis metaforik. Gue bukan nulis dengan kata-kata yang aneh-aneh. Gue sangat literal. Cuma gue mengemas dengan cara sendiri. Menurut gue menulis lagu berbahasa Indonesia sangat susah. Kalau dari bacaan, gue suka novel fantasi, seperti Eragon, Harry Potter. Gue mungkin suka baca karena lebih suka cerita.
 
Kalau dalam segi penulisan lirik (pengaruh) bukan dari baca, tapi dari lebih mendengarkan lagu-lagu. 
 
Kapan momen pertama Bilal menulis lagu?
 
SMP kelas 2, judulnya dulu gue tulis "Birds."
 
Selain gitar, instrumen apa yang dikuasai Bilal?
 
Gue bisa main gitar, bisa main bass, piano tapi cuma tahu chord. Gue bisa gitar cuma enggak jago juga, dulu gue bikin pakai piano. lagu "Biar," "Gulana," "Singgah," itu pakai piano. cuma karena gue engga mahir piano, setelah jadi bikin lagi pakai gitar.
 
Setelah cukup banyak merilis karya musik, siapa band atau musisi yang paling ingin Bilal ajak kolaborasi dalam album?
 
Gue pengen banget kolab sama VOX, sama Perunggu. Gue juga lagi keranjingan sama Perunggu.
 
Kira-kira, apa judul debut album penuh Bilal? Sudah boleh dibocorkan?
 
Nanti judul albumnya Nelangsa Pasar Turi.
 
Pasar Turi? Ada hubungan apa antara Bilal dan Surabaya?
 
Gue punya soft spot sama Surabaya. Surabaya adalah kota pertama yang gue merasa welcome di luar Jakarta. Panggung pertama gue yang proper itu di Surabaya. Dulu belum punya single, gue diundang di Jazz Traffic 2018. Pernah ada masa gue setahun bisa 10 kali main di Surabaya. 
 
Kenapa Pasar Turi?
 
Karena gue pertama kali ke sana sebagai performer, naik kereta turun di stasiun Pasar Turi. Gue suka bengong di kereta. Intinya gue suka nelangsa-nelangsa yang gue rasakan di kereta. 
 
Bikin lagu tentang Pasar Turi?
 
Gue enggak spesifik nyebutin. 
 
Ada lagu yang ditulis di Surabaya?
 
Ada, judulnya "Purnama," ditulis di kereta pas di stasiun Pasar Turi. Hari itu gue merasakan perasaan berkecamuk, sampai gue pinjam pulpen bapak-bapak di sebelah gue. Kenapa "purnama" karena gue ingat makan di rumah makan bebek Purnama di sana. Ha-ha-ha.
 
Gue seperti punya hutang rasa sama Surabaya.
 
 
 
(ASA)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif