Mochamad Subchi Azal Tzani alias Mas Bechi (Foto: YouTube Musik Metafakta Oxytron)
Mochamad Subchi Azal Tzani alias Mas Bechi (Foto: YouTube Musik Metafakta Oxytron)

Bechi Tersangka Pencabulan dan Klaim Musik Metafakta

Agustinus Shindu Alpito • 09 Juli 2022 07:05
Pekan ini publik digegerkan dengan kelakuan Mochamad Subchi Azal Tzani alias Mas Bechi. Tersangka kasus pemerkosaan santriwati ini membuat masyarakat geram karena yang bersangkutan kabur saat hendak ditangkap, sampai akhirnya menyerahkan diri.
 
Kasus ini terbilang kompleks karena Mas Bechi merupakan putra dari kiai terhormat di Jombang, yaitu Kiai Muhammad Muchtar Mu'thi, yang saat ini mengelola Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah, di Ploso, Jombang, Jawa Timur.
 
Mas Bechi yang memiliki jabatan di pondok pesantren pimpinan ayahnya diduga kuat menyalahgunakan relasi kuasa yang dimilikinya untuk mencabuli sejumlah santriwati. Modus cabul yang digunakan Mas Bechi menurut beberapa korban adalah dengan mengajarkan ilmu metafakta. Sebuah ilmu yang disebutnya nirlogika dan butuh titik transendensi untuk dapat "memahaminya." 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mas Bechi sendiri belakangan memang dikenal aktif menggaungkan musik metafakta oxytron bersama mantan keyboardist Slank, Indra Qadarsih. Keduanya bersama-sama mempopulerkan musik metafakta sejak 2017 dan merilis sejumlah karya musik yang disebutnya memiliki daya menyembuhkan, dan membersihkan udara.
 
Dilansir dari kanal Musik Metafakta Oxytron di YouTube, Mas Bechi sendiri sudah mulai tertarik mendalami frekuensi pada musik sejak lama. Pada 2013, Mas Bechi menulis lagu "Manunggaling Kaulo Marang Gusti" yang menjadi titik tolak Mas Bechi mendalami musik yang disebutnya berjenis "metafakta oxytron."  
 

 

Lantas, apa itu "musik metafakta oxytron"? 


Menurut penjelasan yang dipaparkan kanal Musik Metafakta Oxytron di YouTube, Musik metafakta oxytron diejawantahkan sebagai "musik murni yang menggunakan synthesizer, pemilihan sound, harmoni, dan frekuensi yang bisa reaktif dengan alam sekitar. Musik metafakta oxytron hadir sebagai salah satu sumbangsih anak bangsa Indonesia Raya untuk mengembalikan daya musik frekuensi partikel yang dapat terhubung dengan alam semesta raya. Bahkan sebagai penyelaras hubungan makhluk pada sang pencipta."
 
Secara garis besar penjelasan di atas tak cukup memberi pemahaman bagi awam. Tetapi, apa yang dilakukan Mas Bechi bersama Indra Q bukanlah hal baru di dunia. Selama puluhan tahun, baik musisi atau peneliti memiliki dua pandangan berbeda terkait frekuensi suara dalam musik. Ada perspektif bahwa frekuensi suara dapat memengaruhi kondisi fisik, dan ada pula yang menganggap frekuensi yang dipersoalkan tak lebih dari bahasan teknis soal banyaknya gelombang per detik (hertz).
 
Mas Bechi - melalui musik metafakta oxytron yang diperkenalkannya - adalah golongan yang percaya bahwa urusan gelombang atau frekuensi dalam musik adalah hal yang sangat penting. Dia menyebut "musik metafakta oxytron" sebagai terapi yang dapat memberikan banyak sekali manfaat, termasuk untuk urusan kesehatan.
 
"Oxytron itu tentang adanya fungsi gelombang. Dari awal Mas Indra Q saya kasih partitur gelombang. Partitur gelombang itu patronnya oxytron."
 
"Nah, selama ini kalau di musik orang enggak bicara soal gelombang. Kalau tidak bicara kord, melodi, sound. Tidak ada yang berbicara soal gelombang. Jadi, musik yang memperhatikan gelombang frekuensi betul memang musik healing, tetapi bukan sekadar healing. Karena, musik oxytron bisa berinteraksi dengan udara, bisa membersihkan udara, membersihkan alam sekitar," kata Mas Bechi dalam tayangan video yang diunggah kanal Musik Metafakta Oxytron di YouTube.
 
Kanal yang sama juga menjelaskan bahwa musik metafakta oxytron dapat membersihkan udara dengan cara mereaksikan medan elektromagnetik, menarik oksigen dan mengusir nitrogen. Lebih mencengangkannya lagi, musik metafakta oxytron mengklaim diri dapat menghemat bahan bakar bila diputar di dalam kendaraan. Sayangnya, klaim-klaim ini tidak disertai dengan bukti-bukti ilmiah.
 
"Musik oxytron yang disetel di kendaraan, akan memodulasi sistem kelistrikan kendaraan. Listrik yang termodulasi dirangsang dengan tambahan oksigen akan memengaruhi sistem pembakaran, berdampak penggunaan BBM lebih irit, kerja mesin lebih ringan, dan residu berkurang," seperti dijelaskan dalam video berjudul Sekilas Tentang Musik Metafakta Oxytron yang diunggah ke YouTube.
 
Dalam video penjelasan musik metafakta oxytron itu, setidaknya ada enam poin "manfaat" yang dapat terstimulasi dari pemutaran musik ini. Mas Bechi sendiri mengklaim bahwa kekuatan musik metafakta oxytron berasal dari kekuatan spiritual.
 
"Musik oxytron dilahirkan dari spiritual power, kekuatan hati. Kuat didasar karena ber-attitude. Musik ini memiliki etikanya. Musik yang memiliki attitude pasti menghasilkan clean energy," jelas Mas Bechi.
 
Bechi Tersangka Pencabulan dan Klaim Musik Metafakta
(Video presentasi manfaat musik metafakta oxytron. Foto: YouTube Musik Metafakta Oxytron)
 

 

 
Pro dan kontra terkait "frekuensi yang selaras dengan alam semesta" juga melibatkan pandangan-pandangan ahli dari berbagai belahan dunia. Sebagaimana disebutkan di atas, isu ini bukan hal baru. Ada yang setuju, banyak pula yang menyebut ini tak lebih dari omong kosong belaka.
 
Dilansir dari Reuters, Susan Rogers, Profesor Teknik dan Produksi Musik dari Berklee College of Music, salah satu perguruan tinggi musik paling diakui di dunia mengatakan bahwa tak ada bukti empiris atas klaim gelombang tertentu yang dapat bersinergi dengan alam.
 
"Tidak ada bukti riset empiris yang mengatakan bahwa alam semesta punya frekuensi akustik tertentu," kata Susan.
 
Hal senada juga diungkapkan oleh Ian Cross, Profesor dan Direktur Pusat Sains dan Musik di University of Cambridge. Ian mengatakan bahwa klaim soal gelombang yang dapat berselaras dengan alam "tidak berbasis empiris."
 

Opini yang Berkembang di Internet


Bicara soal "mazhab" frekuensi musik, pasti akan bersinggungan dengan aliran "A=432 Hz" dan "A=440 Hz". Di internet, mudah dicari opini terkait frekuensi A=432 Hz yang dianggap sempurna karena selaras dengan alam semesta. Sedangkan yang terjadi hari ini, instrumen musik modern disetel dengan frekuensi A=440 Hz. Hal ini menjadi perdebatan puluhan tahun soal mana yang lebih baik antara kedua frekuensi itu.
 
Prince Charles Alexander, Profesor Teknik dan Produksi Musik di Berklee College of Music, mengatakan bahwa kebanyakan manusia tidak bisa membedakan antara frekuensi A=432 Hz dan A=440 Hz. Sehingga perbedaan antara kedua frekuensi itu bukan sesuatu yang substansial.
 
Dalam berbagai diskusi, para penganut "mazhab" A=432 Hz ada yang berpendapat bahwa penyeragaman atau standarisasi tune instrumen modern A=440 Hz adalah hasil konspirasi. Banyak kisah mengiringi diskusi tentang ini. Salah satu yang populer adalah cerita bahwa Nazi menggunakan frekuensi A=440 Hz untuk mengacaukan lawan, karena frekuensi ini disebut memiliki daya rusak. Lantas, apakah kabar ini benar?
 
Jeffrey Herf, Profesor sejarah dari University of Maryland yang menulis buku The Jewish Enemy: Nazi Propaganda during World War II and the Holocaust, mengatakan bahwa cerita tentang Nazi menggunakan frekuensi A=440 Hz untuk memanipulasi lawan adalah tidak berdasar.
 
"Saya tidak pernah mendengar hal yang terlalu jauh seperti itu. Itu absurd," kata Jeffrey.


Musik sebagai Media Penyembuhan


Lepas dari perdebatan frekuensi terbaik untuk musik, selama berabad-abad musik dalam berbagai peradaban digunakan sebagai media untuk menyembuhkan. 
 
Pada awal 2021, Medcom.id melalui program Shindu's Scoop sempat mewawancarai Profesor Tjut Nyak Deviana dari Daya Indonesia Performing Arts Academy membahas musik sebagai medium penyembuhan. 
 
"Musik itu merasuk ke dalam. Bukan hanya ke fisik, tetapi ke jiwa dan mental. Saya mengajar music therapy. Jadi, belajar music therapy bukan sekadar menyetel musik lalu mendengarkan. Itu namanya relaksasi. Lalu ada salah kaprah soal Mozart's effect. Musik cuma ada yang positif dan negatif. Kita mendengarkan gamelan juga bisa menjadi terapi. Jadi, ada faktor sosial, kultural, anthrophogenic, dari kondisi orang yang mau terapi," tukas Prof. Deviana yang sempat menjadi rektor di Jazz & Rockschulen Freiburg, Jerman.
 
Menurut Prof. Deviana, frekuensi dalam musik tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan penentu dalam terapi musik. Musik sangatlah personal dan subyektif, sehingga tidak cukup satu parameter saja dalam menentukan terapi yang tepat bagi seseorang. Menurut Prof. Deviana, seorang terapis musik bisa saja melihat aspek lain, seperti astrologi, numerologi, latar belakang sosial dan kultural, dari pasien guna menentukan "formula musik yang tepat" dalam sesi terapi. Aspek-aspek itu yang disebut Prof. Deviana sebagai unsur "metafisik" dalam terapi musik.
 
"Frekuensi itu tergantung, itu tidak bisa digunakan untuk terapi ke semua orang. Tergantung juga dari cakra dia. Terapi musik sangat individual. Seperti obat, tidak bisa untuk semua orang (obat yang sama)," jelas Prof. Deviana.
 


 
 
(ASA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif