Film Songko (Foto: instagram)
Film Songko (Foto: instagram)

Annette Edoarda Nangis Usai Syuting Film Songko, Horor Legendaris Tanah Minahasa

Elang Riki Yanuar • 14 April 2026 21:04
Ringkasnya gini..
  • Film horor Songko berlatar Tomohon 1986 mengangkat legenda makhluk pemburu darah suci, memicu kepanikan dan konflik warga desa.
  • Songko dibangun total dengan set desa di kaki Gunung Lokon yang masih berdiri hingga kini, plus riset budaya Manado untuk nuansa autentik.
  • Annette Edoarda mengaku suasana syuting sangat berat hingga menangis saat wrap, sementara Imelda menyebut horornya kuat secara psikologis.
Jakarta: Film horor terbaru berjudul Songko siap menghantui penonton Indonesia dengan kisah kelam yang berlatar sebuah desa di Tomohon, Minahasa. Cerita film ini berangkat dari legenda menyeramkan tentang kemunculan makhluk misterius yang diyakini memburu darah suci perempuan muda.
 
Teror yang muncul tidak hanya membuat warga ketakutan, tetapi juga memicu tuduhan dan kepanikan yang merusak hubungan antarpenduduk. Ketika satu per satu perempuan muda ditemukan tewas secara misterius, suasana desa berubah menjadi mencekam dan penuh kecurigaan.
 
Songko mengambil latar tahun 1986, ketika masyarakat masih erat dengan kepercayaan tradisional dan cerita turun-temurun. Dalam situasi genting itu, warga percaya Songko datang untuk mengincar darah suci demi kekekalan, hingga ketakutan perlahan berubah menjadi kepanikan massal.

Selain ceritanya yang kuat, produksi film ini juga menjadi sorotan karena totalitas yang jarang dilakukan. Tim produksi membangun set utama berupa desa lengkap di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Lokasi yang awalnya kosong disulap menjadi area syuting yang hidup dan terasa nyata.
 
Menariknya, set desa tersebut tidak dibongkar setelah proses pengambilan gambar selesai. Hingga kini, lokasi itu masih berdiri dan sering dikunjungi warga sekitar maupun wisatawan yang penasaran. Banyak yang menjadikannya spot foto, sekaligus menjadi bukti bahwa Songko dibuat dengan proses produksi yang serius.
 
Produser kreatif Santara, Avandrio Yusuf, bahkan melakukan riset mendalam untuk memastikan film ini tidak sekadar horor biasa. Ia terjun langsung mewawancarai kepala adat, warga Tomohon, hingga masyarakat Manado demi menggali akar cerita dan atmosfer lokal yang tepat.
 
Riset tersebut digunakan untuk menentukan banyak elemen penting, mulai dari wujud visual sosok Songko, desain kostum, pilihan gaya bahasa, hingga suasana desa yang akan ditampilkan. Eksekutif Produser Santara, Whisnu Baker, menyebut film ini menjadi bagian dari visi mereka untuk membawa cerita lokal Indonesia ke panggung yang lebih luas. 
 
“Kami ingin membawa cerita lokal ke level yang lebih luas, tapi tetap dengan keaslian yang kuat. Dengan melibatkan talenta dari daerah asalnya, kami berharap cerita ini terasa lebih hidup dan memiliki identitas yang kuat,” jelas Whisnu.
 
Sutradara Gerald Mamahit menegaskan bahwa horor Songko tidak hanya berasal dari makhluk gaib, tetapi juga dari sisi gelap manusia. 
 
“Yang membuat Songko terasa berbeda adalah bagaimana ketakutan itu berkembang. Bukan hanya dari makhluknya, tapi dari manusia yang mulai kehilangan rasa percaya satu sama lain. Itu yang kami coba hadirkan horor yang terasa dekat dan nyata,” ujar Gerald.
 
Para pemain pun mengaku merasakan tekanan emosional sejak proses syuting berlangsung. Annette Edoarda menyebut atmosfer di lokasi pengambilan gambar terasa berat, bahkan sebelum film tersebut diputar di bioskop. 
 
“Waktu syuting, kami sudah merasakan atmosfer yang berat. Tapi saat menonton di layar lebar bersama penonton lain, rasanya jauh lebih intens. Ada momen-momen yang bahkan membuat saya sendiri ikut merinding,” ungkap Annette.
 
Namun bukan hanya adegan horor yang meninggalkan kesan mendalam bagi Annette. Ia mengaku momen paling emosional justru terjadi setelah syuting selesai, ketika seluruh pemain dan kru harus berpisah setelah menjalani proses panjang bersama.
 
Annette mengungkapkan dirinya sampai menangis saat hari terakhir produksi. Perasaan itu muncul karena kedekatan yang terbangun selama syuting membuat mereka seperti keluarga. 
 
“Dan kamu tahu enggak fun fact-nya? Mungkin ini salah satu film yang di saat wrap, aku benar-benar menangis, kita semua menangis. Kayak aduh jangan dulu selesai, enggak mau, dan setelah itu pun sampai sekarang kita semua jadi makin dekat,” ujarnya.
 
Sementara itu, Imelda Therinne menyoroti kekuatan psikologis film ini yang membuatnya terasa berbeda. Ia menilai Songko berhasil menghadirkan ketegangan melalui rasa takut yang menyebar di antara manusia. 
 
“Horor di Songko bukan hanya soal sosoknya, tapi bagaimana ketakutan itu menyebar dan memecah hubungan antar manusia. Itu yang menurut saya membuat film ini terasa lebih dalam dan menegangkan,” kata Imelda.
 
Imelda juga mengakui adanya tantangan selama produksi, terutama karena sebagian besar dialog menggunakan bahasa Manado. Ia harus beradaptasi agar pengucapan dan intonasinya terdengar natural. 
 
“Mungkin challenge-nya aku belajar banyak di sini. Bahasa 80 persen bahasa Manado, ya! Ternyata memang bahasa tuh susah-susah gampang. Cuma karena banyak cece Manado di sini membantu sekali,” kata Imelda.
 
Film Songko dibintangi Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak. Film horor berlatar Minahasa ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 April 2026.
 


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA