Film Ghost in the Cell (Foto: instagram)
Film Ghost in the Cell (Foto: instagram)

Review Film Ghost In The Cell: Misteri Penjara Penuh Darah dan Sindiran Sosial

Elang Riki Yanuar • 17 April 2026 10:00
Ringkasnya gini..
  • Ghost In The Cell karya Joko Anwar tayang 16 April 2026, menggabungkan komedi horor dengan misteri kematian napi di dalam penjara.
  • Film ini mengikuti Dimas, mantan jurnalis yang dipenjara, saat kematian aneh terjadi satu per satu dan memaksa napi memecahkan misterinya bersama.
  • Selain penuh darah dan adegan brutal, Ghost In The Cell menyelipkan sindiran soal privilege pejabat, dibungkus humor sarkas yang relate.
Jakarta: Film Ghost In The Cell adalah karya Joko Anwar. Film yang bergenre komedi horor ini pada tragedi kematian misterius yang menimpa para napi di sebuah penjara. 
 
Film ini mulai tayang di bioskop Indonesia pada 16 April 2026. Ceritanya berawal dari Dimas, seorang mantan jurnalis yang dijebloskan ke penjara karena dugaan pembunuhan bosnya. 
 
Sejak awal masuk, napi satu per satu napi mulai mengalami kematian aneh yang ternyata berkaitan dengan aura negatif dan energi kuat. Hal seru dari film ini, karena penonton diajak untuk berpikir dan ikut mencoba memecahkan misteri yang ada.

Alur ceritanya cukup membuat perasaan naik turun. Terkadang ketawa karena dialog yang sarkas dan relate, namun tak lama langsung dibikin tegang. 
 
Penonton terasa mixed feelings yang membuat film ini tak membosankan. Tapi perlu diingat juga, film ini cukup banyak menampilkan darah dan organ manusia, jadi kurang cocok untuk yang sensitif dengan hal-hal seperti itu. 
 
Selain itu, ada beberapa adegan kekerasan di dalam penjara, dan juga visual yang mungkin kurang nyaman untuk yang mempunyai trypophobia (takut dengan pola bolong-bolong).
 
Menjelang akhir film, ada momen yang cukup membuat terharu juga. Ketika para napi akhirnya bisa menemukan penyebab dari semua kematian yang terjadi, suasana haru yang kuat. 
 
Tak hanya soal misteri, film ini juga kuat di sisi persahabatan. Bagaimana cara mereka yang awalnya tak saling kenal, akhirnya bisa bekerja sama, menyusun strategi, dan saling bertukar pikiran untuk menemukan jalan keluar dari masalah ini bersama.
 
Selain itu, film ini juga menyelipkan sindiran ke pemerintah, khususnya soal privilege para pejabat atau penguasa yang tetap dapat perlakuan berbeda bahkan saat di penjara karena kasus korupsi. Sindirannya cukup kerasa, namun dibungkus dengan gaya komedi yang masih bisa diterima penonton Indonesia. 
 
Unsur komedinya juga tak begitu asing, karena banyak mengangkat realita yang relate dengan kehidupan di Indonesia. Ditambah lagi, kehadiran aktor-aktor Indonesia yang kualitas aktingnya bagus, mendukung cerita terasa lebih hidup dan dapat emosinya.
 
Dari segi visual, film ini juga sangat oke. Dari mulai latar tempatnya, terutama lapas yang katanya dibangun sendiri oleh tim produksi, terlihat sangat niat dan detail. 
 
Makeup tambahan untuk para pemain juga sangat mendukung, hal ini untuk menunjukkan kondisi yang kumuh dan penuh tekanan dalam penjara. Properti seperti toilet, shower, dapur, dan lainnya juga terasa realistis. Walaupun pakaian napi yang dipakai sedikit beda dari yang biasa dilihat di Indonesia, namun secara artistik tetap masuk dan mendukung suasana cerita yang dekil dan suram.
 
(Maiza Jasmine A.R)
 

 


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA