Anton digambarkan sebagai pribadi yang tertutup, cenderung menyendiri, dan memiliki sisi emosional yang kuat. Karakter ini berbanding terbalik dengan Tora yang dikenal sebagai sosok ekspresif, santai, humoris, dan penuh spontanitas.
Tora Sudiro menceritakan awal keterlibatannya dalam proyek tersebut. Ia mengaku langsung menerima tawaran dari Joko Anwar tanpa berpikir panjang.
“Waktu ditawari sama Joko, ‘lo main di film gue ya’, saya langsung jawab, ‘oke, boleh’,” ujar Tora.
Setelah itu, Joko Anwar menjelaskan konsep karakter Anton yang diinginkan. Ia meminta Tora untuk memerankan sosok yang jauh dari kebiasaannya, tidak banyak tersenyum, tidak mudah berbaur, dan lebih tertutup.
“Tapi saya maunya kamu beda. Tidak boleh banyak senyum, tidak boleh ketawa, bahkan kalau bisa tidak berbaur dengan yang lain, jadi benar-benar sendiri,” kata Tora menirukan arahan Joko.
Karakter Anton menjadi salah satu daya tarik utama dalam film ini karena menghadirkan sisi berbeda dari Tora Sudiro. Transformasi ini membuat penonton semakin penasaran dengan pendalaman peran yang ia tampilkan.
Menariknya, Tora juga sempat menanyakan detail unik terkait karakternya, termasuk kemungkinan arah karakter tersebut.
“Saya sempat tanya, ‘saya jadi homo atau tidak?’ Dijawab, ‘tidak, yang ini kamu laki-laki’,” ungkap Tora sambil bercanda.
Pertanyaan tersebut merujuk pada pengalaman Tora dalam film Arisan! (2003), di mana ia memerankan karakter Sakti yang memiliki orientasi seksual sesama jenis. Kala itu Joko Anwar bertindak sebagai penulis skenario di film tersebut.
Hal ini menunjukkan bagaimana Tora berusaha memahami karakter yang ia mainkan secara mendalam, sekaligus menggambarkan proses diskusi antara aktor dan sutradara.
Film Ghost In The Cell dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026.
(Maiza Jasmine A.R)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News